Bab 1 — Lumbung Terakhir
Tombak bambu itu terlalu panjang untuk tubuh Arya.
Ujungnya tidak terbuat dari besi. Hanya potongan bambu yang diruncingkan dengan pisau, lalu dibakar sebentar agar lebih keras. Gagangnya pun sedikit bengkok. Ada retakan kecil di dekat tempat ia menggenggamnya.
Bagi tiga prajurit yang berdiri di depan lumbung, tombak itu cukup untuk membuat mereka berhenti tertawa.
“Turunkan,” kata prajurit paling depan.
Arya tidak bergerak.
Usianya baru sembilan tahun. Tubuhnya kurus, lututnya kotor, dan bajunya sudah terlalu sering ditambal hingga warna kain aslinya hampir tak terlihat. Rambutnya menempel di kening karena keringat.
Di belakangnya, pintu lumbung terbuka setengah.
Beberapa anak yang lebih kecil bersembunyi di dalam. Wajah mereka pucat. Seorang anak perempuan memeluk adiknya yang terus menangis tanpa suara.
Di depan Arya terdapat enam karung beras yang baru diturunkan para prajurit dari lumbung desa.
Enam karung.
Padahal upeti yang harus diserahkan hari itu hanya tiga.
“Aku bilang turunkan tombakmu,” ulang prajurit itu.
Arya menelan ludah. Tangannya gemetar, tetapi genggamannya tidak longgar.
“Tiga karung,” katanya. “Kalian cuma boleh membawa tiga.”
Prajurit kedua tertawa pendek. “Kau yang menentukan?”
“Daftarnya ada. Di rumah kepala desa.”
“Daftar bisa salah.”
“Kalian yang salah.”
Tawa mereka berhenti.
Prajurit paling depan melangkah maju. Pedang pendek tergantung di pinggangnya, perisai rotan di punggung, dan lambang Watu Ireng terpasang pada kain di lengannya. Lambang itu seharusnya membuat penduduk merasa aman.
Hari ini, lambang itu justru membuat orang-orang takut keluar rumah.
“Dengar, Bocah,” katanya. “Kami diperintahkan mengambil upeti.”
“Tiga karung.”
“Pasukan kerajaan membutuhkan makanan.”
“Anak-anak di sini juga.”
Prajurit itu menatap ke dalam lumbung. Ia melihat anak-anak yang bersembunyi, kemudian memandang Arya lagi.
“Bukan urusanmu.”
Arya mengangkat tombaknya sedikit lebih tinggi.
“Ini lumbungku.”
Salah seorang anak di belakangnya berbisik, “Bukan, Arya. Ini lumbung desa.”
Arya tidak menoleh.
“Ya, berarti aku ikut ngurus.”
Prajurit ketiga, yang sejak tadi hanya berdiri sambil memanggul karung, mendengus. “Sudah. Singkirkan dia.”
Prajurit paling depan menjulurkan tangan untuk meraih tombak.
Arya mundur setengah langkah, lalu menghentakkan ujung bambunya ke tanah. Debu kering beterbangan di antara mereka.
“Kalau kalian ambil enam, besok tidak ada yang bisa dimasak.”
“Kerajaan sedang membutuhkan persediaan.”
“Desa juga.”
“Kerajaan melindungi kalian.”
Arya memandang rumah-rumah yang berdiri di sepanjang jalan.
Atap beberapa rumah berlubang. Dinding bambunya menghitam setelah musim hujan yang panjang. Di ujung desa, saluran air mengering karena tanggulnya rusak dan belum diperbaiki.
Sudah berbulan-bulan tidak ada pasukan yang datang ketika perampok mengambil kambing warga.
Tidak ada prajurit yang menjaga sawah ketika kelompok bersenjata melewati desa dan menginjak tanaman muda.
Prajurit baru datang hari ini. Untuk mengambil beras.