Bab 2
Raja di Jalan Berlumpur
Raja Jayengrana tidak tampak seperti raja dalam cerita-cerita pengembara.
Tidak ada mahkota emas di kepalanya. Jubahnya berwarna cokelat tua, sederhana, dan bagian bawahnya terkena cipratan lumpur. Rambut yang mulai memutih diikat ke belakang tanpa hiasan.
Kalau bukan karena para prajurit yang berlutut di jalan, Arya mungkin mengira lelaki itu hanya saudagar tua yang tersesat.
Jayengrana berjalan mendekati lumbung.
Pengawalnya ikut turun dari kuda, tetapi ia mengangkat tangan agar mereka tetap di belakang.
Tiga prajurit yang mengambil beras masih berlutut. Tidak ada satu pun yang berani menatapnya.
“Berdiri,” kata Jayengrana.
Mereka bangkit perlahan.
Sang raja melihat enam karung di tanah, pintu lumbung, anak-anak yang bersembunyi, lalu bibir Arya yang pecah.
Tatapannya berhenti pada prajurit paling depan.
“Apa yang terjadi?”
Prajurit itu menelan ludah. “Anak ini menghalangi pengambilan upeti, Paduka.”
“Berapa upeti desa ini?”
Prajurit itu diam. Jayengrana menoleh kepada kepala desa.
Orang tua itu buru-buru membungkuk.
“Tiga karung, Paduka.”
“Dan berapa yang akan dibawa?”
Kepala desa memandang enam karung di jalan, kemudian menunduk semakin dalam.
“Enam.”
Jayengrana tidak menunjukkan kemarahan. Justru ketenangannya membuat suasana terasa semakin berat.
“Siapa yang memberi perintah mengambil dua kali jumlahnya?”
Prajurit paling depan menjawab, “Pasukan di utara kekurangan persediaan. Komandan meminta kami mengumpulkan tambahan dari desa-desa yang masih memiliki cadangan.”
“Siapa nama komandannya?”
Prajurit itu menyebut sebuah nama. Salah seorang pengawal raja mencatatnya pada gulungan kecil.
Jayengrana menoleh kepada Arya.
“Dan kau?”
Arya tak segera menjawab.
Ia tidak tahu cara berbicara kepada raja. Kepala desa sering berkata bahwa orang yang salah memilih kata di depan bangsawan dapat kehilangan lidah, pekerjaan, atau hidupnya.
Lelaki di hadapannya tidak sedang meminta ia berlutut.
Ia hanya menunggu.
“Arya Wisesa,” jawabnya akhirnya.
“Berapa usiamu?”
“Sembilan.”
“Siapa yang menyuruhmu berdiri di depan lumbung?”
“Tidak ada.”
“Kepala desa?”
“Tidak.”
“Orang tuamu?”
Arya menggeleng. Jayengrana melihat tombak bambu yang tergeletak di tanah.
“Jadi kau mengambil senjata dan melawan tiga prajurit kerajaan atas keputusanmu sendiri?”
“Itu bukan senjata.”
Salah seorang pengawal raja mengangkat alis. Jayengrana menatap tombak itu lagi.
“Lalu apa?”
“Bambu.”
Dari belakang rombongan terdengar seseorang menahan tawa. Satu pandangan dari panglima berwajah keras di sisi kereta langsung membuatnya diam.
Jayengrana tidak tersenyum.
“Kau tahu bambu itu tidak akan menyelamatkanmu kalau mereka mencabut pedang?”
“Tahu.”
“Lalu mengapa kau tetap berdiri?”
Arya memandang anak-anak di dalam lumbung.
“Karena kalau menunggu orang lain membantu, berasnya sudah dibawa.”
Beberapa pengawal bertukar pandang. Prajurit yang menampar Arya terlihat semakin pucat.
Jayengrana berjalan menuju enam karung beras. Ia membuka salah satu karung, mengambil segenggam beras, lalu membiarkan butir-butirnya jatuh kembali.
“Ini hasil panen terakhir?”
Kepala desa mengangguk.
“Hujan merusak sawah sebelah barat, Paduka. Tanggul juga pecah. Kami masih menunggu perbaikan.”
“Apakah laporan kerusakan telah dikirim?”
“Sudah tiga kali.”
Jayengrana menoleh kepada pejabat yang ikut di dalam rombongan.
“Apakah laporan itu sampai?”
Pejabat itu membuka tas kulitnya dengan gugup. Ia memeriksa beberapa gulungan, lalu menggeleng pelan.
“Tidak ada laporan dari desa ini, Paduka.”
Kepala desa buru-buru berkata, “Kami menyerahkannya kepada petugas di pos sungai.”
“Catat nama petugasnya.”
Pejabat itu segera menulis. Jayengrana kembali menghadap para prajurit.
“Tiga karung adalah upeti resmi?”
“Benar, Paduka,” jawab kepala desa.
“Kalau begitu, kembalikan tiga karung lainnya ke lumbung.”
Ketiga prajurit itu segera bergerak.