Bab 3
Syarat Seorang Anak
Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara setelah Arya mengajukan syaratnya.
Kepala desa terlihat seperti baru saja menelan batu.
Para warga yang berdiri di dekat lumbung saling pandang. Beberapa menundukkan kepala, mungkin berharap Raja Jayengrana menganggap ucapan Arya sebagai kelancangan anak kecil yang tidak perlu ditanggapi.
Jayengrana justru berdiri diam di tengah jalan berlumpur.
“Aman seperti apa yang kau inginkan?” tanyanya.
Alis Arya bertaut.
Ia sudah menyiapkan keberanian untuk menolak, tetapi belum memikirkan bahwa sang raja akan meminta penjelasan.
“Tidak ada prajurit yang mengambil beras lebih banyak.”
“Itu dapat kuperintahkan.”
“Tanggul diperbaiki.”
“Itu juga.”
“Kalau ada perampok, pasukan datang sebelum kambing kami habis.”
Salah seorang pengawal di belakang Jayengrana mendengus pelan. Arya tidak tahu apakah lelaki itu menahan tawa atau merasa tersinggung.
Jayengrana tidak mengalihkan pandangannya.
“Ada lagi?”
Arya melihat ke arah rumah-rumah desa.
Pintu-pintu yang tadi tertutup kini sudah terbuka. Warga berdiri di ambang masing-masing. Mereka tidak lagi bersembunyi, tetapi belum ada yang berani mendekat.
Arya menunjuk rumah beratap miring di ujung jalan.
“Ibu Sari tinggal sendiri. Kalau panen berikutnya gagal, dia tidak akan punya makanan.”
Kemudian jarinya berpindah ke sebuah rumah kecil di dekat saluran air.
“Anak Pak Darsa sakit. Mereka menjual ayam terakhir untuk membeli obat.”
“Arya,” bisik kepala desa, “cukup.”
Arya menoleh. “Kenapa?”
“Kau tidak bisa meminta raja menyelesaikan semua masalah kita.”
“Aku tidak meminta semua.”
“Apa yang belum kau minta?” sahut Mahesa dari belakang rombongan.
Nada panglima itu datar, tetapi beberapa pengawal kembali menahan senyum.
Arya berpikir sebentar.
“Jembatan.”
Mahesa menatap langit seolah sedang meminta kesabaran. Jayengrana mengangkat satu tangan untuk menenangkan rombongannya.
“Kau ingin aku memperbaiki jembatan juga?”
“Kalau hujan besar, jembatan hanyut.”
“Kapan terakhir kali hanyut?”
“Dua tahun lalu.”
“Sekarang masih ada?”
“Kami buat lagi.”
“Berarti kalian dapat memperbaikinya sendiri.”
“Bisa. Tapi kalau diperbaiki sendiri, warga tidak bisa ke sawah selama beberapa hari. Kalau prajurit membantu, lebih cepat.”
Jayengrana mengangguk perlahan.
Arya tidak tahu apakah jawabannya dianggap benar. Ia hanya tahu semua hal yang disebutkannya memang menjadi masalah desa. Kalau ia ikut ke istana, siapa lagi yang akan mengatakannya?
Kepala desa sudah berkali-kali mengirim laporan. Tidak pernah ada jawaban.
Mungkin karena laporan mereka tidak sampai. Mungkin karena tidak ada yang peduli.
“Aku dapat memerintahkan pasukan membantu tanggul dan jembatan,” kata Jayengrana. “Aku dapat menghentikan pengambilan upeti sampai panen pulih. Aku juga dapat menempatkan empat prajurit di pos sungai untuk menjaga jalur desa.”
Arya mengamati wajahnya.
“Hanya empat?”
“Berapa yang kau mau?”
“Tiga prajurit tadi saja hampir membawa semua beras.”
“Itu karena tiga orang itu datang sebagai ancaman, bukan penjaga.”
“Bagaimana aku tahu empat yang baru tidak sama?”
Salah seorang pejabat berbisik kepada rekannya, “Anak ini akan membuat Paduka menyesali tawarannya.”
Jayengrana mendengar, tetapi tidak menanggapi. Ia malah berjalan menuju kepala desa.
“Siapa namamu?”
“Sura, Paduka.”