Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #5

Bab 4 Ayah Yang Tidak Pulang

Bab 4

Ayah yang Tidak Pulang

Arya membenci pertanyaan tentang ayahnya.

Jawabannya tidak sulit.

Jawabannya justru terlalu mudah.

“Ayahku sudah mati,” katanya.

Jayengrana yang sudah berjalan beberapa langkah kembali berhenti.

Kepala desa menatap Arya, tetapi tidak menyela. Warga lain perlahan menjauh, seolah memahami bahwa percakapan itu bukan untuk didengar ramai-ramai.

“Ki Sura mengatakan ayahmu pergi berperang,” kata Jayengrana.

“Orang yang pergi dan tidak kembali berarti mati.”

“Tidak selalu.”

“Bagiku iya.”

Nada Arya terdengar lebih keras daripada yang ia maksudkan.

Tangannya mengencang pada tombak bambu.

Jayengrana menyuruh rombongannya melanjutkan ke tanggul lebih dahulu. Mahesa sempat ragu, tetapi sang raja memberikan isyarat singkat.

Panglima itu akhirnya pergi bersama para pengawal, meninggalkan Jayengrana, Arya, dan Ki Sura di dekat lumbung.

“Boleh aku tahu kapan ayahmu pergi?” tanya Jayengrana.

Arya menatap jalan.

Ia ingat hari itu meskipun usianya masih sangat kecil.

Ayahnya mengenakan baju yang terlalu besar karena dipinjam dari tetangga. Sebuah golok tua tergantung di pinggangnya. Tidak ada baju zirah, sepatu perang, atau perisai. Hanya ada seikat makanan yang disiapkan ibunya.

Dan janji.

“Aku akan pulang sebelum hujan berikutnya.”

Hujan datang. Ayahnya tidak pulang.

Musim kering datang. Ayahnya tidak pulang.

Ibunya tetap meletakkan satu mangkuk kosong di dekat tungku setiap malam selama hampir dua tahun.

Kemudian ibunya sakit.

Bahkan pada malam terakhirnya, perempuan itu masih meminta Arya membuka pintu karena mengira mendengar langkah seseorang.

Tidak ada siapa-siapa.

“Lima tahun lalu,” jawab Arya.

“Perang yang mana?”

“Entah.”

Ki Sura akhirnya bicara. “Beberapa wilayah mengirim pasukan kecil untuk membantu pertempuran di sebelah barat Giripura. Tidak semua nama tercatat.”

“Siapa nama ayahnya?” tanya Jayengrana.

Arya mendahului kepala desa.

“Wira Soma.”

Jayengrana mengulangi nama itu pelan, seperti sedang mengingat sesuatu.

“Kau pernah menerima kabar kematiannya?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa yakin dia mati?”

Arya menoleh tajam.

“Kalau masih hidup, kenapa tidak pulang?”

Jayengrana tidak buru-buru mengisi keheningan.

Arya sudah mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali dalam kepalanya.

Ketika ayahnya pergi satu bulan, ia berpikir perangnya jauh.

Ketika satu tahun berlalu, ia berpikir ayahnya terluka.

Ketika dua tahun berlalu, ia mulai curiga ayahnya sengaja tidak kembali.

Pikiran itu jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Jadi Arya memilih jawaban yang paling mudah.

Ayahnya mati. Orang mati tidak memilih meninggalkan anaknya.

“Kau marah kepadanya,” kata Jayengrana.

“Aku tidak peduli.”

“Kalau tidak peduli, kenapa marah?”

Arya ingin membantah, tetapi tidak menemukan kalimat yang tepat.

Ia menendang batu kecil di dekat kakinya.

“Ayahku pergi. Ibuku menunggu sampai sakit. Aku yang mencari makanan. Aku yang membawakan air. Waktu dia meninggal, ayahku juga tidak ada.”

Suara Arya tetap datar.

Jari-jarinya mulai sakit karena terlalu kuat menggenggam tombak.

“Jadi, dia sudah mati sebelum ibuku mati.”

Jayengrana memandangnya dengan tenang.

“Dalam pikiranmu.”

“Memang.”

“Karena itu lebih mudah?”

Arya menatapnya lagi.

“Lebih mudah daripada apa?”

“Daripada menerima kemungkinan dia masih hidup dan tidak memilih pulang.”

Kata-kata Jayengrana menghantam lebih keras daripada tamparan prajurit sebelumnya.

Arya mengangkat tombaknya setengah, bukan untuk menyerang, tetapi tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat menghentikannya.

Ki Sura buru-buru memegang bahunya.

“Arya.”

Jayengrana tidak mundur.

“Aku tidak mengenal ayahmu,” katanya. “Aku tidak tahu apakah ia gugur, tersesat, tertawan, kehilangan ingatan, atau memang memilih hidup lain.”

“Kalau tidak tahu, jangan bicara seolah tahu.”

“Benar.”

Sebagian kemarahan Arya mereda. Jayengrana sedikit menundukkan kepala.

Lihat selengkapnya