Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #6

Bab 5 Jalan Menuju Watu Ireng

Bab 5

Jalan Menuju Watu Ireng

Penunggang yang membawa surat itu nyaris jatuh saat turun dari kudanya.

Wajahnya penuh debu. Keringat membasahi rambut dan lehernya. Napasnya tersengal.

Raja Jayengrana membaca gulungan yang diserahkan kepadanya tanpa berkata apa-apa.

Mahesa mendekat.

“Dari mana?”

“Pos Sungai Utara,” jawab si penunggang. “Dua kelompok bersenjata melewati jalur utama sejak pagi. Mereka membawa panji yang berbeda.”

“Pasukan kerajaan?”

“Tidak ada yang mengaku. Mereka berkata hanya melintas.”

Mahesa mendengus.

Pasukan yang cuma melintas tidak biasanya merusak pagar, mengambil ternak, atau membuat petugas pos berlari sampai kudanya hampir roboh.

Jayengrana menggulung surat itu kembali.

“Berapa jumlahnya?”

“Kelompok pertama sekitar tiga puluh orang. Kelompok kedua lebih dari lima puluh.”

“Menuju ke mana?”

“Mereka berpisah di jalan batu. Sebagian ke utara, sebagian ke timur.”

“Korban?”

“Belum ada laporan kematian. Dua warga terluka karena mencoba mempertahankan kerbau.”

Arya yang masih duduk kaku di atas kuda kecilnya menoleh kepada Jayengrana.

“Pasukan siapa?”

“Belum diketahui.”

“Kalau tidak tahu siapa mereka, kenapa dibiarkan masuk?”

Mahesa menjawab sebelum sang raja sempat bicara.

“Karena jalannya panjang. Kami tidak bisa menjaga setiap jengkal.”

“Kalau begitu harus ada lebih banyak penjaga.”

“Lalu kau mau kasih mereka makan dengan apa?”

Arya mencari jawaban, tetapi tidak menemukannya. Mahesa meliriknya, lalu kembali kepada Jayengrana.

“Kita perlu kembali lebih cepat.”

Jayengrana mengangguk.

Ia memerintahkan dua pengawal tetap tinggal di Desa Air Watu sebagaimana dijanjikan. Sisanya kembali naik ke kuda dan kereta. Barang-barang diikat lebih rapat. Para penunggang juga diminta menjaga jarak supaya rombongan tidak mudah terpisah.

Arya menoleh ke belakang.

Ki Sura dan warga desa masih berdiri di ujung jalan. Anak-anak melambaikan tangan. Tombak bambu terselip di sisi pelananya.

Baru beberapa saat lalu, ia takut meninggalkan desa.

Sekarang ia hanya menatap jalan di depannya dan tidak lagi berpikir untuk kembali.

Rombongan bergerak lebih cepat.

Pada awalnya Arya berusaha duduk tegak seperti para prajurit. Tidak sampai setengah jam, pinggangnya mulai sakit. Kuda kecilnya berkali-kali mendekati semak, sampai kaki Arya hampir terkena ranting berduri.

“Tarik kendali ke kiri,” kata pengawal di sampingnya.

“Aku sudah menarik.”

“Yang kau tarik tali kantong.”

Arya menunduk. Tangannya memang menggenggam tali yang salah. Ia segera berpindah memegang kendali.

“Kenapa talinya banyak?”

“Karena kuda bukan gerobak.”

“Gerobak lebih mudah.”

“Kau boleh berjalan.”

Arya melihat jalan panjang di depan mereka, lalu kembali duduk tegak.

“Aku akan belajar.”

Pengawal itu nyaris tersenyum.

Mereka keluar dari batas Desa Air Watu menjelang siang.

Awalnya jalan yang mereka lewati cukup lebar. Di kanan dan kiri terdapat sawah yang baru ditanami. Air menggenang tipis di sela-sela barisan padi muda. Beberapa petani menghentikan pekerjaan ketika melihat panji kerajaan, lalu membungkuk.

Semakin jauh mereka berjalan, pemandangan berubah.

Kerusakan sawah mulai terlihat setelah mereka melewati jembatan kayu.

Lihat selengkapnya