Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #7

Bab 6 Kerajaan Yang Sering Mengalah

Bab 6

Kerajaan yang Sering Mengalah

Gerbang Watu Ireng dibuka sebelum rombongan mencapai parit luar.

Dua penjaga menarik palang kayu dengan susah payah. Salah satu engsel berbunyi panjang ketika daun gerbang bergerak. Suaranya serak dan panjang, seperti kayu tua yang bergeser.

Arya menatap bagian atas gerbang.

Dari jauh, bangunan itu tampak besar. Dari dekat, ia dapat melihat kayunya mulai lapuk. Bekas tambalan memenuhi beberapa bagian, sementara celah di antara papan cukup lebar untuk dimasuki ujung pisau.

“Kenapa belum diganti?” tanyanya.

Pengawal yang berkuda di sampingnya menjawab, “Kayu bagus mahal.”

“Pakai batu.”

“Batu juga perlu tukang.”

“Di sekitar sini banyak batu.”

“Batu tidak berjalan sendiri ke atas gerbang.”

Arya memandang Mahesa.

“Kan pasukan bisa bantu angkat.”

Mahesa tidak menoleh.

“Pasukan juga harus jaga perbatasan, latih warga, kawal pedagang, perbaiki jalan. Belum lagi urusan enam karung kemarin.”

Tiga prajurit yang ditahan dalam rombongan berjalan dengan tangan terikat di belakang. Mendengar itu, mereka menunduk lebih dalam.

Arya tidak membalas. Rombongan memasuki kota.

Orang-orang menyambut Jayengrana dengan membungkuk di sisi jalan. Tidak ada sorak-sorai besar. Sebagian warga hanya berdiri sambil memegang barang dagangan atau alat kerja mereka. Wajah mereka terlihat lega melihat rajanya pulang, tetapi kelegaan itu bercampur dengan kecemasan.

Kabar tentang pasukan asing rupanya tiba lebih dahulu.

Di dekat gerbang, beberapa warga sedang memperkuat dinding dengan balok kayu. Seorang lelaki menambal lubang pada menara dengan batu-batu yang ukurannya berbeda. Dua anak membawa ember tanah liat untuk menutup celah.

Arya mengernyit melihat semua itu.

“Kenapa anak-anak ikut?”

“Karena orang dewasa tidak cukup,” jawab Mahesa.

“Pasukan Paduka di mana?”

“Sebagian di utara. Sebagian menjaga sungai. Sebagian lagi mengawal desa-desa yang baru dilalui pasukan asing.”

Arya mulai menghitung prajurit yang terlihat.

Dua di gerbang.

Empat di menara. Tiga membawa tandu melewati jalan.

Lima berlari menuju gudang. Jumlahnya jauh lebih sedikit daripada yang ia bayangkan.

“Berapa banyak pasukan Watu Ireng?”

Mahesa menoleh. “Kau baru tiba dan sudah ingin menghitung pasukanku?”

“Aku hanya bertanya.”

“Jangan tanya jumlah pasukan keras-keras di jalan.”

“Kenapa?”

“Bisa didengar mata-mata.”

Arya langsung melihat sekeliling.

Pedagang, warga, pekerja, dan anak-anak memenuhi jalan. Tidak ada seorang pun yang tampak seperti mata-mata.

“Seperti apa mata-mata?”

Mahesa mendengus.

“Biasanya seperti orang biasa. Itu gunanya menjadi mata-mata.”

Arya mulai memandangi semua orang dengan lebih curiga.

Seorang penjual buah yang tersenyum kepadanya langsung ia tatap tajam.

Perempuan itu berhenti tersenyum.

“Apa?” tanyanya.

Arya tidak menjawab.

Jayengrana yang mendengar percakapan mereka berkata, “Jangan membuat seluruh kota merasa sedang diperiksa.”

“Panglima bilang mata-mata terlihat seperti orang biasa.”

“Benar.”

“Berarti siapa saja bisa jadi mata-mata.”

“Benar.”

“Termasuk penjual buah.”

Perempuan tadi meletakkan kedua tangan di pinggang.

“Aku menjual pisang sejak sebelum kau lahir.”

Arya memandang keranjang buahnya.

“Bisa saja itu penyamaran yang sangat lama.”

Beberapa warga tertawa.

Perempuan itu mengambil satu pisang kecil dan melemparkannya. Arya nyaris tidak sempat menangkap.

“Makanlah supaya mulutmu sibuk,” katanya.

Arya memandangi pisang itu.

“Ini gratis?”

“Kalau kau bertanya lagi, bayar dua.”

Arya segera menyimpannya.

Ketegangan warga akhirnya sedikit mengendur sejak rombongan memasuki kota.

Jayengrana tidak menghentikan rombongan di istana. Ia membawa mereka terlebih dahulu menuju gudang persediaan.

Bangunannya terletak dekat sungai, dilindungi pagar rendah dan dua menara kecil. Pintu gudang dibuka oleh seorang pejabat kurus yang wajahnya langsung pucat ketika melihat raja datang tanpa pemberitahuan.

“Paduka,” katanya sambil membungkuk. “Kami tidak menerima kabar—”

“Bagus,” jawab Jayengrana. “Berarti aku dapat melihat keadaan sebenarnya.”

Pejabat itu semakin pucat.

Arya turun dari kuda dengan lebih baik daripada sebelumnya. Kakinya tetap terasa mati rasa, tetapi kali ini ia tidak hampir jatuh.

Ia mengikuti Jayengrana masuk ke gudang. Ruangan itu luas. Sebagian besarnya kosong.

Karung beras hanya tersusun di satu sisi. Ada beberapa peti garam, dua rak obat, dan tong-tong kecil yang jumlahnya tidak sebanding dengan ukuran bangunan.

Arya berjalan menuju tumpukan karung.

“Ini semua?”

Pejabat gudang tampak tidak suka ditanyai seorang anak.

Lihat selengkapnya