Bab 7
Anak Tanpa Silsilah
Lelaki di puncak tangga mengenakan jubah hijau tua dengan benang emas pada bagian kerah. Sebuah cincin besar melingkari telunjuknya. Terlalu mencolok untuk dipakai bekerja, terlalu bersih untuk disentuh debu.
Tatapannya berhenti pada kaki Arya yang masih penuh lumpur.
“Paduka membawa anak desa ke atas tembok pertahanan?” tanyanya.
Jayengrana tidak terlihat terkejut dengan kehadirannya.
“Namanya Arya Wisesa.”
“Aku tidak menanyakan namanya.”
Arya langsung tidak menyukai cara lelaki itu berbicara kepadanya.
Bukan jubah atau cincin besarnya. Ia tidak suka cara lelaki itu berbicara seolah Arya tidak berdiri di sana.
“Kalau tidak mau tahu nama orang, jangan bicara di depannya,” kata Arya.
Bangsawan itu menoleh perlahan.
Mahesa yang baru tiba di ujung tangga menutup mata sebentar. Sepertinya ia sudah bisa menebak masalah berikutnya.
“Apa katanya?” tanya sang bangsawan.
“Aku bilang—”
“Arya,” potong Jayengrana.
Nada sang raja tidak keras, tetapi cukup membuat Arya menahan kalimat yang sudah berada di ujung lidah.
Jayengrana menghadap lelaki berjubah hijau.
“Adipati Wiraguna, Arya akan tinggal di istana untuk belajar.”
Nama itu terasa penting bagi Arya. Ia mengingatnya karena Mahesa berdiri sedikit lebih tegak.
Wiraguna menatap Jayengrana.
“Belajar apa?”
“Membaca, hukum, pengelolaan pangan, dan latihan senjata.”
“Dengan anak-anak keluarga istana?”
“Ya.”
Wiraguna tertawa kecil.
“Paduka baru pulang dari desa, langsung membawa anak yang tidak jelas asal-usulnya. Apa istana sekarang jadi tempat penampungan?”
Arya menggenggam tombak bambunya. Jayengrana tetap tenang.
“Istana seharusnya menjadi tempat orang yang berguna bagi Watu Ireng.”
“Orang berguna belum tentu pantas duduk bersama keluarga bangsawan.”
“Pantas menurut siapa?”
“Menurut adat.”
“Adat juga tidak membiarkan mereka duduk bersama calon pemimpin kerajaan.”
Arya memandang Jayengrana.
Ia baru tiba dan sudah mendengar banyak kata yang belum ia pahami. Tetapi ia menangkap satu hal: Wiraguna takut ia akan duduk terlalu dekat dengan anak-anak bangsawan.
“Aku bisa duduk di belakang,” kata Arya.
Wiraguna menatapnya dingin.
“Tidak ada yang meminta pendapatmu.”
“Paduka tadi bilang aku belajar.”
“Apa hubungannya?”
“Kalau masalahnya tempat duduk, aku bisa pilih sendiri.”
Mahesa mendengus pelan. Sudut bibir Jayengrana sempat bergerak, lalu kembali tenang.
Wiraguna turun satu anak tangga.
“Lihatlah, Paduka. Anak ini bahkan tidak memahami tata krama.”
“Karena belum diajari.”
“Beberapa hal tidak dapat diajarkan.”
Arya memiringkan kepala.
“Seperti apa?”
Wiraguna menunjuk dirinya dengan pandangan merendahkan.
“Darah.”
Arya terdiam.
Ia memandang tangan sendiri. Masih ada luka kecil pada telapak akibat tombak bambu. Darah kering terlihat di dekat ibu jari.
“Darahku merah.”
Mahesa memalingkan wajah.
Salah satu prajurit yang berada di tangga pura-pura batuk.
Wiraguna tidak tertawa.
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu darah seperti apa?”
“Darah keluarga. Silsilah. Nama ayah dan leluhur.”
Arya menatapnya.
“Ayahku Wira Soma.”
“Siapa dia?”
“Entah.”
“Dari keluarga mana?”
Arya tidak menjawab.
Wiraguna menoleh kepada Jayengrana seolah baru membuktikan sesuatu.
“Ayahnya pergi berperang,” kata Jayengrana.
“Banyak orang pergi berperang. Tidak semuanya kemudian dibawa ke istana.”
“Kebanyakan juga tidak berdiri melawan tiga prajurit demi menjaga lumbung.”
Wiraguna menatap Arya lagi.
“Berani bukan berarti aturan boleh diabaikan.”
“Bukan aturan yang sedang kuabaikan,” jawab Jayengrana. “Aku cuma tidak mengikuti kebiasaan seperti itu.”
“Bagi Paduka mungkin tidak ada perbedaan. Bagi keluarga-keluarga yang menjaga kerajaan ini selama beberapa generasi, ada.”
Arya langsung memperhatikannya.
“Keluarga Adipati menjaga tembok itu?” tanyanya sambil menunjuk retakan di dekat mereka.
Wiraguna membeku.