Bab 8
Ujian Mahesa Danu
Arya bangun sebelum orang mengetuk pintunya.
Ia bukan anak yang terbiasa bangun pagi.
Ia nyaris tidak tidur.
Setiap kali memejamkan mata, ia membayangkan Mahesa berdiri di halaman dengan pedang kayu sebesar batang pohon. Dalam bayangannya, sang panglima hanya perlu satu pukulan untuk membuat tombak bambu patah menjadi dua.
Arya tidak takut.
Setidaknya, itu yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Ia mengenakan pakaian baru yang diberikan pelayan istana. Celananya sedikit longgar, sedangkan bagian lengan bajunya terlalu panjang. Arya menggulungnya sampai siku, mengambil tombak, lalu keluar.
Udara pagi dingin.
Kabut tipis masih menggantung di atas halaman latihan. Tanahnya keras, kecuali satu bagian dekat dinding yang diberi pasir untuk latihan jatuh.
Mahesa sudah menunggu.
Mahesa mengenakan pakaian latihan tanpa zirah. Pedang kayu berada di tangan kanan. Bentuknya sederhana, tetapi cukup besar sampai tombak Arya terlihat seperti ranting.
“Kau terlambat,” kata Mahesa.
Arya menatap langit yang masih gelap.
“Matahari belum terbit.”
“Aku tidak mengatakan datang saat matahari terbit. Aku mengatakan sebelum.”
“Aku sudah datang sebelum.”
“Dan aku datang lebih dahulu.”
“Berarti Panglima terlalu pagi.”
Mahesa menunjuk lingkaran latihan di tengah halaman.
“Masuk.”
Arya melangkah ke dalam.
Tidak ada murid lain. Hanya beberapa penjaga pagi, dua pelayan yang membawa air, dan Jayengrana yang berdiri di serambi dengan secangkir minuman hangat.
Arya menoleh kepada sang raja.
“Paduka ikut melihat?”
Jayengrana mengangkat cangkirnya.
“Aku tidak mau melewatkan tiga gerakanmu.”
Arya tidak tahu apakah itu dukungan atau ejekan. Mahesa menepukkan pedang kayu pada telapak tangannya.
“Aturannya gampang. Kau cukup menyentuhku dengan tombak.”
“Bagian mana saja?”
“Bagian mana saja.”
“Kalau kena kepala?”
“Cobalah.”
Arya memperbaiki posisi kakinya.
Ia pernah melihat penjaga desa memegang tombak. Satu kaki di depan, satu di belakang. Kedua tangan memegang gagang. Ujung tombak diarahkan ke dada lawan.
Mahesa menggeleng.
“Apa?”
“Cara berdirimu buruk.”
“Aku belum mulai.”
“Makanya masih sempat kubilang.”
Arya menggeser kaki.
“Begini?”
“Lebih buruk.”
“Panglima belum mengajariku.”
“Aku mau lihat apa yang sudah kau tahu.”
“Aku sudah bilang tidak ada yang mengajariku.”
“Berarti sebentar lagi selesai.”
Arya menelan kejengkelannya.
Ia tidak boleh marah. Jayengrana ingin melihat apakah dirinya mampu mengendalikan keberanian.
Masalahnya, Mahesa sangat pandai membuat orang marah.
“Mulai,” kata panglima.
Arya menusuk lurus.
Mahesa memiringkan tubuh. Pedang kayunya menghantam gagang tombak dari samping.
Tangan Arya langsung terbuka. Tombak bambu terlempar dan jatuh di luar lingkaran.
Mahesa belum bergerak dari tempatnya.
“Satu gerakan,” katanya.
Arya menatap tangannya. Telapak tangannya terasa panas.
“Ambil.”
Arya mengambil tombaknya dan kembali ke lingkaran.
“Kali ini jangan lepaskan.”
“Aku tidak sengaja.”
“Musuh tidak peduli.”
“Panglima selalu ngomong begitu?”
“Selama kau masih suka cari alasan.”
Arya memegang tombaknya lebih erat.
“Mulai.”
Kali ini Arya tidak langsung menusuk. Ia bergerak ke samping, mencoba mendekati bagian tangan Mahesa yang tidak memegang senjata.
Mahesa mengikuti gerakannya dengan mudah. Arya menunggu.
Mahesa juga menunggu. Beberapa saat mereka hanya berputar.
“Kalau terus begini, kita bisa makan siang di sini,” kata Mahesa.
Arya menerjang.
Ia berpura-pura menusuk dada, lalu menurunkan ujung tombak ke kaki.
Mahesa mengangkat satu kaki dan memukul bahu Arya dengan sisi pedang kayu.
Tidak keras, tapi cukup membuat Arya kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh terduduk.
“Dua gerakan.”
Arya bangkit cepat.
“Itu dua serangan.”
“Itu satu gerakan buruk yang terlalu panjang.”