Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #10

Bab 9 Gantar Dan Kuda Curian

Bab 9

Gantar dan Kuda Curian

Lorong di belakang gudang terlalu sempit untuk dilalui dua orang berdampingan.

Gantar berlari lebih dahulu dengan satu sandal. Kaki kirinya telanjang, tetapi ia tidak peduli. Ia melompati keranjang rusak, menerobos jemuran kain, lalu berbelok tajam tanpa memberi peringatan.

Arya nyaris menabrak dinding.

“Kalau belok, bilang dulu!” teriaknya.

“Kalau sempat bilang, keburu jauh!”

“Dia nyuri kuda, bukan barang!”

“Lebih buruk. Kudanya bisa lari!”

Mereka keluar dari lorong menuju jalan kecil di belakang istana.

Suara tapak kuda masih terdengar, makin lama makin jauh. Beberapa pedagang menyingkir saat seekor kuda cokelat melesat melewati pasar dengan seorang lelaki membungkuk rendah di atas pelana.

Lambang utusan kerajaan masih terikat di samping pelana.

“Yang itu?” tanya Arya.

“Kalau ada lagi, nanti saja.”

Gantar berlari ke arah pasar.

Arya mengikutinya sambil membawa tombak bambu. Kakinya belum pulih setelah latihan, tetapi ia tidak mau kehilangan jejak.

Mereka melewati penjual buah yang tadi melemparkan pisang kepada Arya. Perempuan itu sedang menyusun dagangan saat Gantar menyenggol keranjang jeruk.

Buah-buah bulat menggelinding ke jalan.

“Gantar!”

“Aku bayar nanti!”

“Kau bilang begitu sejak bulan lalu!”

“Aku belum menentukan nanti itu kapan!”

Arya menghindari jeruk yang berserakan, lalu menoleh ke belakang.

Perempuan itu sudah mengangkat sapu.

“Kalau kita pulang lewat sini, dia akan memukulmu.”

“Ya jangan lewat sini kalau pulang.”

“Bagaimana kembali ke istana?”

Gantar tidak menjawab. Mungkin ia memang belum memikirkan bagian itu.

Di depan, pencuri kuda berbelok menuju jalan luar kota. Gerbang samping masih terbuka untuk pedagang yang masuk pagi itu. Penjaga berusaha menurunkan palang, tapi terlambat.

Kuda melesat melewati mereka.

“Berhenti!” teriak salah satu penjaga.

Pencuri itu menunduk lebih rendah dan terus memacu. Gantar berhenti mendadak.

Arya hampir menabraknya.

“Kenapa berhenti?”

“Dia menuju Jalan Sungai.”

“Lalu?”

“Kalau sampai jembatan, kita tidak bisa mengejar.”

“Kenapa?”

“Karena kita tidak punya kuda.”

Arya menatapnya tajam.

“Baru sadar?”

“Aku tadi lari.”

Suara para penjaga mulai terdengar dari belakang. Mereka juga mengejar, tetapi zirah dan senjata membuat langkah mereka lebih berat.

Arya melihat sekeliling.

Jalan Sungai menurun dari gerbang ke perkampungan nelayan. Di sisi timur ada saluran air besar yang bermuara ke sungai. Di sisi barat berdiri deretan rumah, kandang, dan gudang kecil.

“Kudanya milik utusan?” tanya Arya.

Gantar mengangguk.

“Kuda tercepat di kandang pagi ini. Katanya bisa menempuh dua desa sebelum kuda biasa selesai mengeluh.”

“Kuda bisa mengeluh?”

“Kalau pengendaranya berat.”

Arya menunjuk jalan kecil di antara rumah-rumah.

“Itu menuju mana?”

“Ke saluran pengairan.”

“Bisa sampai jembatan?”

“Bisa, tapi jalannya sempit.”

“Lebih cepat?”

“Kalau tidak jatuh ke air.”

Arya langsung berbelok. Gantar menyusul.

“Kau tahu jalannya?”

“Tidak.”

“Terus kenapa kau di depan?”

“Entahlah. Kau lari terlalu cepat.”

Mereka memasuki jalur sempit di belakang rumah penduduk. Bau ikan asin bercampur asap dapur. Seorang nenek yang sedang menyapu mengangkat sapunya ketika mereka melintas.

“Pelan-pelan!”

“Maaf!” teriak Arya.

Gantar menyusul dengan napas berat.

“Kau masih sempat minta maaf?”

“Karena kita hampir menjatuhkan embernya.”

“Kalau berhenti buat minta maaf terus, kita telat.”

“Kau tidak pernah minta maaf?”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu masih kecil.”

Arya menatapnya.

Gantar tampak jauh lebih tua darinya, tetapi jawabannya membuat Arya ragu apakah umur benar-benar berarti seseorang lebih dewasa.

Mereka mencapai ujung lorong.

Di depan terdapat saluran air selebar dua tubuh orang dewasa. Sebuah papan kayu tipis menghubungkan kedua sisi.

Arya langsung menginjaknya. Papan itu melengkung. Gantar berhenti.

“Jangan lewat situ.”

“Kenapa?”

“Papan itu patah minggu lalu.”

Arya menoleh ke bawah.

“Ini belum patah.”

“Setengah patah.”

“Apa bedanya?”

“Setengah lainnya akan menyusul saat diinjak.”

Kayu mengeluarkan bunyi retak.

Arya melompat ke sisi seberang tepat ketika papan patah dan jatuh ke dalam saluran.

Gantar berdiri di sisi lain dengan mulut terbuka.

“Kau menjatuhkan jembatannya!”

“Katamu sudah patah.”

“Setengahnya masih berguna!”

“Lompat!”

Gantar melihat jarak di antara mereka.

“Aku tidak bisa.”

“Kau lebih tinggi dariku.”

“Aku memang berat!”

Suara tapak kuda terdengar dari jalan utama di balik rumah-rumah. Pencuri hampir mencapai jembatan sungai.

Arya melihat sebuah tali jemuran terikat pada tiang bambu. Ia melepas salah satu ujungnya dan melemparkannya kepada Gantar.

“Pegang!”

Gantar menangkap.

Arya membelitkan ujung lain ke batang pohon kecil di sisinya.

“Talinya untuk pakaian,” kata Gantar.

“Sekarang buat kamu.”

“Itu tidak menenangkan.”

“Lompat!”

Gantar mundur beberapa langkah, menarik napas, lalu berlari. Kakinya meninggalkan tanah.

Sesaat ia terlihat hampir sampai ke seberang.

Kemudian tangannya kehilangan pegangan. Tubuhnya jatuh.

Arya meraih lengan bajunya tepat sebelum Gantar masuk ke saluran. Beban tubuh Gantar hampir menyeret Arya, tetapi Gantar berhasil mencengkeram tepi tanah.

Dengan susah payah, mereka naik. Gantar telentang sambil terengah-engah.

“Aku hampir mati.”

Lihat selengkapnya