Bab 10
Nama di Dalam Istana
Arya berdiri terlalu lama di depan pintu ruang belajar.
Di dalam, dua belas anak sudah duduk di atas tikar. Pakaian mereka bersih, rambut mereka rapi, dan setiap orang memiliki papan tulis kecil serta alat tulis sendiri.
Arya membawa tombak bambu.
Itu saja.
Pengajar yang berdiri di depan ruangan adalah lelaki kurus dengan rambut diikat tinggi. Ia memegang batang kayu tipis untuk menunjuk tulisan di papan besar.
Tatapannya turun ke tombak Arya.
“Senjata tidak dibawa ke ruang belajar.”
“Ini cuma bambu.”
“Aku tidak bertanya bahannya.”
Arya melihat sekeliling.
Di dekat pintu terdapat rak untuk menyimpan sandal dan barang bawaan. Ia menaruh tombak di sisi rak, tetapi ujungnya masih menjorok ke jalan masuk.
Pengajar menghela napas.
“Letakkan mendatar.”
“Kalau diinjak?”
“Tidak akan ada yang menginjak.”
Salah satu anak bangsawan berbisik, “Mungkin tikus.”
Beberapa anak tertawa.
Arya menoleh.
Anak yang berbicara duduk di baris depan. Usianya mungkin sebelas atau dua belas tahun. Bajunya memiliki sulaman lambang keluarga pada bagian dada.
“Apa?” tanyanya kepada Arya.
“Tidak ada.”
“Kenapa melihatku?”
“Aku cari tikusnya.”
Tawa di ruangan berhenti. Pengajar mengetukkan batang kayu ke papan.
“Cukup. Masuk dan duduk.”
Arya meletakkan tombaknya mendatar, tetapi tetap dekat pintu. Ia memilih tempat di baris paling belakang.
Seorang pelayan memberinya papan tulis dan alat tulis.
Arya memegang alat itu dengan cara yang sama seperti memegang pisau kecil.
Pengajar melihatnya.
“Pernah menulis?”
“Pernah membuat tanda pada karung.”
“Hanya tanda?”
“Agar tahu mana yang bocor.”
Beberapa anak kembali tertawa. Kali ini Arya tidak menoleh.
Ia menunggu sampai suara itu berhenti sendiri. Pengajar menulis sebuah lambang pada papan besar.
“Ini huruf pertama yang akan kita pelajari.”
Arya menyipitkan mata.
Garisnya terlihat sederhana saat dibuat pengajar. Saat ia mencoba menirunya, bentuk di papan kecilnya justru menyerupai kaki ayam.
Pengajar berjalan menyusuri barisan. Ketika sampai di belakang, ia berhenti.
“Itu huruf apa?”
“Yang tadi.”
“Tidak terlihat seperti yang tadi.”
Arya membandingkan keduanya.
“Sedikit.”
“Tidak sedikit.”
Arya menghapusnya dan mencoba lagi. Hasil kedua lebih buruk. Anak bangsawan di depannya menoleh.
“Kau benar-benar tidak bisa membaca?”
Arya tidak menjawab.
“Anak petani di tanah keluargaku juga bisa menulis namanya.”
“Bagus.”
“Setidaknya mereka belajar sebelum masuk ke istana.”
Arya menatap papan tulisnya.
Ia ingin mengatakan bahwa anak petani di tanah keluarga bangsawan itu mungkin tidak pernah menjaga lumbung dari prajurit. Ia juga ingin menanyakan apakah anak itu belajar karena diberi kesempatan atau karena dipaksa mencatat hasil panen untuk pemilik tanah.
Mahesa sudah mengatakan kecerdikan tanpa disiplin dapat mencelakai orang lain.
Jawaban sudah ada di ujung lidah Arya, tetapi ia menahannya. Ia menunggu beberapa saat.
“Kalau kau sudah pintar, kenapa masih belajar?” katanya kemudian.
Anak itu membuka mulut, tetapi pengajar lebih dahulu mengetukkan kayunya.
“Hadap depan.”
Pelajaran berlangsung sampai matahari naik. Arya gagal menulis empat huruf.
Ia hanya mengingat dua. Salah satunya pun mungkin terbalik.
Pada pelajaran hitung, keadaannya sedikit lebih baik.
Pengajar menggambar sepuluh kantong beras dan meminta murid menghitung sisa jika tiga diambil sebagai upeti.
“Tujuh,” jawab hampir semua anak.
Arya mengangkat tangan. Pengajar terlihat sedikit terkejut.
“Ya?”
“Siapa yang mengambil?”
“Tidak penting.”
“Penting.”
“Ini soal hitungan.”
“Kalau yang diambil tiga, sisanya tujuh. Kalau enam, tinggal empat.”
Beberapa anak tertawa, tetapi pengajar tidak.
“Anggap mereka mengambil sesuai aturan.”
“Kenapa harus dianggap?”
“Karena soal mengatakan tiga.”
Arya menatap gambar kantong beras.
“Kalau di laporan ditulis tiga, tapi yang dibawa enam, berarti jawaban di papan salah.”
Pengajar terdiam sesaat.
Anak bangsawan di depan berkata, “Dia bahkan tidak mengerti soal sederhana.”
Arya menatapnya.
“Aku mengerti beras berkurang lebih cepat daripada tulisan.”
Pintu ruang belajar terbuka. Jayengrana berdiri di sana.