Tiga bulan setelah memasuki istana, tulisan Arya masih buruk.
Ia sudah mengenal lebih banyak huruf. Namanya sendiri sudah bisa dibaca. Watu Ireng juga. Beras, jalan, sungai, beberapa kata yang sering muncul dalam laporan kerajaan pun mulai akrab.
Kadang satu huruf bisa terlihat seperti huruf lain.
Tulisan pengajar rapi. Tulisan pejabat gudang miring ke kanan. Tulisan Mahesa seperti bekas cakaran burung yang sedang kesal.
Tulisan Gantar lebih parah.
“Ini namamu?” Arya menunjuk papan kecil di tangan Gantar.
Mereka duduk di belakang kandang setelah latihan pagi. Gantar baru saja menuliskan tiga bentuk yang bagi Arya lebih mirip jejak kaki daripada huruf.
“Ya.”
“Yang tengah kayak kambing.”
“Itu huruf kedua.”
“Kenapa bertanduk?”
“Biar gampang diingat.”
Arya menunjuk yang terakhir.
“Kalau ini?”
“Huruf ketiga.”
“Orang jatuh.”
“Aku sering jatuh. Cocok.”
Arya menghapus semuanya.
“Sudah. Jangan ajari aku.”
“Kemarin kau yang minta.”
“Aku salah.”
“Orang bijak mengakui kesalahan.”
“Orang bijak juga tahu kapan berhenti bicara.”
Gantar merebut papan itu.
Sejak kejadian kuda curian, mereka sering bertemu setelah latihan. Gantar tetap bekerja di kandang, meski sekarang lebih jarang meninggalkan tempat hanya karena mencium bau bubur ayam.
Hari-hari Arya berjalan di antara ruang belajar dan halaman latihan.
Pagi-pagi sekali, Mahesa mengajarinya berdiri, jatuh, melangkah, lalu memegang senjata tanpa tampak seperti baru pertama kali melihatnya.
Setelah itu membaca dan menulis.
Siangnya hitungan, hukum, dan urusan kerajaan.
Pelajaran menyalin paling tidak disukainya.
Satu kalimat bisa disuruh salin dua puluh kali hanya karena satu garis keluar sedikit.
Menurut Arya, selama masih terbaca, seharusnya tidak masalah.
Masalahnya, tulisan Arya kadang tidak terbaca bahkan oleh Arya sendiri.
“Masuk,” kata pengajar dari pintu.
Arya menyerahkan papan Gantar lalu kembali ke tempatnya.
Hari itu pelajarannya tentang pajak hasil panen.
Pengajar menggambar pembagian sederhana di papan.
Seorang petani menghasilkan sepuluh bakul padi.
Dua untuk bibit.
Lima untuk makan.
Dua untuk kerajaan.
Satu disimpan.
“Kenapa dua?” tanya Arya.
Pengajar menutup mata sebentar.
“Karena itu jumlah pajak dalam soal.”
“Kenapa dua?”
“Karena kerajaan membutuhkan pajak.”
“Untuk apa?”
“Membayar pasukan, memperbaiki jalan, menjaga lumbung, menjalankan pemerintahan.”
“Kalau jalannya tidak diperbaiki?”
Anak bangsawan di depan mendengus.
“Mulai lagi.”
Pengajar mengetukkan kayu penunjuk.
“Pajak tetap dibayar meskipun perbaikan belum selesai.”
“Kalau tidak pernah selesai?”
“Itu persoalan lain.”
“Buat petani sama saja.”
Beberapa anak mulai berbisik.
Pengajar menatap mereka sebentar.
“Pajak adalah kewajiban rakyat kepada kerajaan.”
“Kerajaan juga punya kewajiban kepada rakyat.”
“Benar.”
“Kalau kerajaan tidak menjalankan kewajibannya, rakyat tetap harus memenuhi semuanya?”
Anak bangsawan itu menoleh.
“Karena tanpa kerajaan, mereka tidak punya perlindungan.”
Arya memandangnya.
“Kalau desa tetap dirampok dan sawahnya diinjak, perlindungannya di mana?”
“Pasukan tidak bisa ada di semua tempat.”
“Jadi petani bayar untuk perlindungan yang belum tentu datang?”
Anak bangsawan itu mulai merah wajahnya.
“Mereka membayar karena tinggal di tanah kerajaan.”
“Tanahnya mereka yang garap.”
“Tanah itu milik penguasa.”
Arya diam sebentar.
Ibunya terlintas di kepala. Punggung yang membungkuk di sawah. Ki Sura. Orang-orang Air Watu yang memperbaiki tanggul sendiri ketika bantuan tidak datang.
“Mengapa tanah jadi milik penguasa?”
“Karena diwariskan.”
“Dari siapa?”
“Leluhurnya.”
“Leluhurnya dapat dari siapa?”
Anak bangsawan itu membuka mulut.
Diam.
Pengajar mengetukkan kayunya ke meja.
“Pelajaran hari ini bukan soal hak kepemilikan tanah.”
“Lalu kapan?”
“Nanti.”
“Nanti kapan?”
“Kalau kau sudah bisa menyalin satu halaman tanpa membuat huruf terbalik.”
Beberapa anak tertawa.
Arya melihat papan tulisnya.
Untuk yang itu, ia tidak punya jawaban.
Setelah pelajaran teori, mereka mendapat salinan laporan upeti dari beberapa desa.
Tugasnya sederhana. Hitung jumlah beras yang diterima kerajaan, lalu bandingkan dengan kebutuhan pasukan.
Anak-anak lain langsung membaca.
Arya masih mengeja.
Desa Batu Sela. Tiga puluh karung.
Desa Kembang Arum. Dua puluh empat.
Desa Air Watu.
Tiga karung.
Tangannya berhenti.
Ia membaca lagi.
Air Watu.
Benar.
Tanggal pengambilan terakhir tertulis dua hari setelah tiga prajurit datang ke lumbung.
Arya mengangkat tangan.
“Ada apa?”
“Ini dibuat siapa?”
“Juru catat upeti kerajaan.”
“Dia ikut ambil?”
“Tidak. Petugas lapangan menyerahkan jumlah kepadanya.”
Arya kembali melihat angka itu.
Tiga karung diterima.
Tiga karung masuk gudang.