Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #13

Bab 12 Catatan Yang Berbeda

Arya tidak langsung menunjukkan kertas kecil itu kepada Jayengrana.

Ia tidak berniat menyembunyikannya.

Ia cuma belum yakin apa arti lambang itu.

Lambang pada cincin Adipati Wiraguna memang serupa. Banyak bangsawan memakai lambang keluarga pada surat, peti, atau pakaian. Menuduh seseorang hanya karena gambar kecil akan membuat Arya mengulangi kesalahan yang selalu diperingatkan Jayengrana.

Arya menyimpan kertas itu di balik bajunya.

Malamnya, ia mencari Gantar di kandang.

Sahabat barunya sedang duduk terbalik di atas ember, mengunyah singkong rebus sambil mengamati dua kuda makan.

“Aku butuh bantuan,” kata Arya.

Gantar menelan cepat.

“Kalau soal mencuri kuda, aku sudah dilarang.”

“Bukan mencuri.”

“Masuk gudang?”

Arya mengernyit.

“Kenapa langsung menebak itu?”

“Karena wajahmu seperti orang yang mau masuk ke tempat terlarang.”

“Aku hanya ingin melihat catatan pengangkutan.”

“Yang disimpan di gudang?”

“Ya.”

“Berarti tebakanku benar.”

Arya duduk di sebelahnya.

“Besok raja akan memeriksa. Kalau ada yang mencuri beras, mereka mungkin mengubah catatannya malam ini.”

Gantar mengunyah lebih lambat.

“Panglima akan memukul kita.”

“Kalau ketahuan.”

“Ucapan itu tidak membuat rencana terdengar lebih baik.”

“Kau tahu jalan belakang gudang?”

“Aku tahu jalan belakang semua tempat yang pernah menyuruhku bekerja.”

“Kenapa?”

“Supaya mudah pergi.”

Arya menahan napas sejenak.

“Bantu aku.”

Gantar memandang singkong terakhir di tangannya.

“Apa yang kudapat?”

“Kita mencegah orang mencuri makanan desa.”

“Selain itu?”

“Aku tidak melaporkan bahwa kau tidur saat menjaga kandang tadi.”

Gantar langsung berdiri.

“Aku tidak tidur.”

“Kau mendengkur.”

“Itu suara kuda.”

“Kudanya berada di luar.”

Gantar memasukkan sisa singkong ke mulut.

“Kita berangkat setelah penjaga berganti.”

Malam turun sepenuhnya.

Mereka tidak masuk ke gudang utama melalui pintu depan. Gantar membawa Arya melewati saluran kecil di belakang dapur, memanjat pagar kayu, lalu menyusuri sisi bangunan penyimpanan.

Jendela gudang berada terlalu tinggi. Gantar membungkuk.

“Naik.”

Arya menatap punggungnya.

“Kau yakin?”

“Cepat.”

Arya menginjak kedua tangannya, lalu naik ke bahu Gantar.

Gantar bergoyang.

“Jangan injak leherku.”

“Aku tidak bisa mencapai jendela.”

“Berdiri lebih tinggi.”

“Di mana?”

“Bahu.”

“Aku sudah di bahu.”

“Berarti kau terlalu pendek.”

Arya menarik kusen jendela.

Kayunya tidak terkunci dari dalam, tetapi sulit dibuka. Ia memasukkan ujung tombak bambu ke celah dan mengungkitnya.

Jendela bergerak.

Suara kayu berderit terdengar cukup keras.

Keduanya membeku.

Langkah penjaga terdengar dari sudut bangunan.

Gantar berbisik, “Turun.”

Arya tetap memegang kusen.

“Kalau turun, kita harus mulai lagi.”

“Kalau tidak turun, kita masuk penjara.”

Arya menarik tubuhnya ke jendela tepat saat cahaya obor muncul di ujung dinding.

Ia masuk.

Gantar masih berada di luar.

Arya melihat ke bawah.

“Naik.”

“Bagaimana?”

Arya mengulurkan tombak bambu.

Gantar memegangnya, tetapi tombak itu melengkung karena berat tubuhnya.

“Ini akan patah.”

“Naik cepat.”

“Aku sedang mencoba.”

Langkah penjaga semakin dekat.

Gantar menendang dinding, menggapai kusen, lalu berhasil menarik tubuhnya masuk.

Mereka jatuh bersamaan di antara tumpukan karung kosong.

Obor melewati jendela.

Keduanya menahan napas.

Setelah penjaga pergi, Gantar menyentuh dadanya.

“Aku hampir mati lagi.”

“Kau selalu bilang begitu.”

“Karena sejak mengenalmu, kejadian hampir mati semakin banyak.”

Arya berdiri.

Bagian dalam gudang gelap. Cahaya bulan hanya masuk melalui celah jendela. Mereka menggunakan lampu minyak kecil yang dibawa Gantar, tetapi menutup sebagian nyalanya dengan kain agar tidak terlihat dari luar.

Catatan pengangkutan tersimpan di ruang kecil pada sisi belakang.

Pintunya tidak terkunci.

“Kenapa tidak dikunci?” tanya Arya.

“Karena tidak ada orang waras yang mau membaca laporan di malam hari.”

Mereka masuk.

Rak-rak kayu dipenuhi gulungan.

Arya mengenali tanda jalur selatan pada bagian atas rak. Ia mengambil satu laporan, lalu mengejanya perlahan.

Nama desa.

Tanggal pengiriman.

Jumlah karung.

Nama kusir.

Gantar berdiri di belakangnya.

“Kau sudah lancar membaca?”

“Belum.”

“Berarti kita bisa berada di sini sampai pagi.”

“Kau bisa membantu.”

Lihat selengkapnya