Arya baru tidur menjelang matahari terbit.
Belum lama matanya terpejam, Mahesa sudah mengetuk pintu kamar dengan gagang pedang.
“Bangun.”
Arya menarik selimut menutupi kepala.
“Aku baru tidur.”
“Itu bukan alasan matahari berhenti.”
“Aku berjaga di gudang semalaman.”
“Tanpa izin.”
“Aku menemukan pencuri.”
“Tanpa izin.”
Ketukan kembali terdengar.
“Kalau dalam hitungan lima kau belum keluar, latihan dilakukan di dalam kamar.”
Arya membuka mata.
Kamarnya terlalu sempit untuk pedang Mahesa. Bahkan pedang kayu pun dapat menjatuhkan kendi, peti, dan mungkin sebagian dinding.
Ia bangkit sebelum hitungan kedua.
Ketika tiba di halaman, Gantar sudah berdiri dengan dua ember air. Wajahnya tampak lebih buruk daripada Arya. Rambutnya miring ke satu sisi, dan matanya hanya terbuka separuh.
“Kenapa kau di sini?” tanya Arya.
“Panglima bilang aku harus belajar disiplin.”
“Kau bukan muridnya.”
“Aku juga bilang begitu.”
Mahesa berdiri di depan mereka.
“Dua puluh putaran halaman.”
Gantar memandang luas lapangan.
“Dua puluh?”
“Dua puluh lima karena bertanya.”
“Aku belum mulai lari, tapi hukumannya sudah bertambah.”
“Tiga puluh.”
Gantar langsung berlari. Arya menyusul.
Setelah latihan, keduanya dipanggil ke ruang kerja raja. Jayengrana telah menunggu bersama tiga tumpukan laporan, satu peti kecil berisi cap surat, dan papan catatan yang dibuat Arya.
Juru catat upeti yang ditangkap malam sebelumnya tidak berada di sana.
“Dia sudah mengaku?” tanya Arya sebelum duduk.
Jayengrana mengangkat wajah dari laporan.
“Ia mengaku memalsukan angka dan memindahkan catatan.”
“Siapa yang memerintah?”
“Ia belum menjawab.”
Arya mengeluarkan lembar kecil yang sejak kemarin disimpannya.
“Cap ini milik Adipati Wiraguna.”
Jayengrana tidak mengambilnya.
“Mirip dengan lambang keluarga Wiraguna.”
“Sama.”
“Apakah kau pernah membandingkan keduanya berdampingan?”
Arya menunduk sesaat.
“Belum.”
“Apakah kau melihat Wiraguna memberikan surat itu kepada juru catat?”
“Tidak.”
“Melihatnya menerima beras?”
“Tidak.”
“Menemukan beras curian di gudang miliknya?”
“Belum.”
Arya mulai menangkap arah pembicaraan, dan ia tidak menyukainya.
“Juru catat memakai cap keluarganya. Wiraguna juga berdiri melihat pemeriksaan.”
“Separuh istana melihat pemeriksaan.”
“Dia sudah menolakku sejak datang.”
“Tidak menyukaimu bukan bukti pencurian.”
“Dia punya alasan melindungi pejabat itu.”
“Alasan juga bukan bukti.”
Arya menatap sang raja.
“Paduka tidak percaya kepadaku?”
“Aku percaya kau melihat ketidaksesuaian dalam catatan.”
“Lalu?”
“Aku belum percaya kesimpulanmu mengenai siapa yang mengaturnya.”
Arya mengurungkan bantahan yang hampir keluar.
Dulu ia mungkin akan langsung membantah. Sekarang ia mencoba menahan kata-kata sebelum keluar.
Tetap saja, suaranya terdengar keras ketika berkata, “Kalau menunggu semua bukti lengkap, mereka punya waktu menghilangkan semuanya.”
“Benar.”
“Kalau begitu kita tangkap Wiraguna sekarang.”
“Dengan tuduhan apa?”
“Mencuri beras.”
“Buktinya?”
Arya mengangkat lembar bercap cincin. Jayengrana akhirnya mengambil kertas itu.
“Cap dapat dicuri,” katanya. “Surat dapat dipalsukan. Pelayan dapat memakai nama tuannya. Seorang anggota keluarga dapat bertindak tanpa persetujuan kepala keluarganya.”
“Paduka selalu mencari alasan agar dia tidak bersalah.”
“Aku mencari kemungkinan agar kita tidak menghukum orang yang salah.”
“Kalau dia benar-benar bersalah?”
“Kita buktikan.”
“Kalau bukti hilang?”
“Kita cari lebih cepat.”
Arya berdiri.
“Aku sudah mencari lebih cepat. Itu sebabnya aku masuk gudang.”
“Dan kalau Mahesa datang terlambat, kau serta Gantar bisa dibunuh.”