Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #15

Bab 14 Gudang di Balik Dinding

Arya dan Gantar tidak mengikuti kereta dari dekat.

Mereka pernah melakukan kesalahan itu waktu mengejar pencuri kuda. Langkah mereka terdengar ke mana-mana. Ditambah teriakan Gantar. Setengah pasar tahu mereka sedang mengejar seseorang.

Malam ini tidak.

Kereta berjalan lambat karena muatannya berat. Arya dan Gantar menyusuri bayangan bangunan. Kalau roda berhenti, mereka ikut berhenti.

Menunggu.

Setelah jaraknya cukup jauh, mereka bergerak lagi.

Krek.

Krek.

Krek.

Roda kiri yang lebih kecil berbunyi setiap kali melewati jalan yang tidak rata.

“Kenapa tidak diperbaiki?” bisik Arya.

“Karena bunyinya membantu kita.”

“Maksudku sebelum malam ini.”

Gantar menahan senyum.

“Orang istana biasanya memperbaiki barang setelah rusaknya mulai mengganggu orang penting.”

Arya sudah membuka mulut untuk membalas ketika kereta mendadak berhenti.

Mereka langsung menempel ke dinding rumah pembuat gerabah.

Dua lelaki berjubah gelap berdiri di depan pintu perawatan tembok. Salah satunya mengangkat lentera.

Penjaga dari dalam membuka palang.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada surat.

Kereta masuk.

Arya memperhatikan penjaga yang membukakan pintu.

Wajahnya ia kenal.

Atau pernah dilihat.

Ia menyentuh lengan Gantar.

“Dia pernah kau sebut di ruang kerja raja.”

Gantar mengintip lagi.

“Iya.”

“Dia berbohong kepada Panglima.”

“Banyak orang berbohong kalau Panglima tidak sedang berdiri di depan mereka.”

Pintu mulai ditutup.

Arya langsung berlari.

Gantar menangkap bagian belakang bajunya.

“Kau mau apa?”

“Masuk.”

“Lewat pintu yang sedang dijaga?”

Arya menoleh.

“Ada jalan lain?”

Gantar melihat ke bawah.

Saluran air mengalir di bawah tembok. Lubangnya sempit. Bagian atasnya ditutup jeruji besi.

“Ada.”

Arya mengikuti arah pandangnya.

“Tidak.”

“Kau yang bertanya.”

“Airnya kotor.”

“Buktinya mungkin lebih kotor.”

Arya memandang saluran itu.

Lama.

“Kalau aku sakit?”

“Besok.”

“Besok apa?”

“Besok kita pikirkan.”

Pintu tembok tertutup.

Akhirnya mereka turun juga.

Air cuma setinggi betis, tetapi baunya langsung membuat Arya menahan napas. Lumpur menempel sampai lutut. Sepatunya terasa berat.

“Jangan napas,” kata Gantar.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa masih—”

“Diam.”

Di depan jeruji ada celah kecil di sisi batu. Cukup untuk anak-anak kalau tubuhnya dimiringkan.

Gantar mencoba lebih dulu.

Bahunya masuk.

Lalu berhenti.

Ia mendorong.

Tidak bergerak.

“Aku tidak muat.”

Arya menatap punggungnya.

“Kau tadi bilang ada jalan.”

“Dulu aku lebih kurus.”

“Kapan?”

“Beberapa tahun lalu.”

Arya mendesah.

“Tarik napas.”

“Aku sedang menarik.”

“Jangan perutnya.”

Gantar terdiam.

“Bagaimana caranya memilih?”

Arya hampir tertawa.

Bau air membuatnya menelan kembali tawanya.

Ia mendorong punggung Gantar.

“Masuk.”

“Jangan dorong terlalu keras.”

“Kalau tidak keras, sampai pagi.”

Dengan susah payah, Gantar lolos.

Arya menyusul. Jauh lebih mudah.

Begitu keluar dari saluran, Gantar langsung menghirup udara panjang.

Arya ikut.

Lalu batuk.

“Lebih enak?” tanya Gantar.

“Tidak.”

Di balik tembok, jalan tua membentang di antara lahan kosong dan bangunan-bangunan yang sudah lama ditinggalkan.

Kereta terlihat di kejauhan.

Menuju bekas penggilingan.

Bangunannya berdinding batu. Atapnya sudah berlubang di beberapa bagian. Tidak tampak seperti tempat menyimpan beras. Sebagian pintu bahkan ditutup papan.

Kereta berhenti di samping dinding.

Bukan di depan pintu utama.

Empat orang keluar dari bangunan.

Mereka mulai mengangkat karung satu per satu.

Arya menghitung dalam hati.

Delapan.

Sepuluh.

Dua belas.

Para pekerja membawa karung-karung itu ke sisi dinding yang tampak utuh.

Satu demi satu menghilang ke bayangan sempit antara bangunan dan timbunan batu.

“Gudangnya di sana,” bisik Arya.

Gantar tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan dinding.

“Aku pernah masuk ke penggilingan itu.”

Arya menoleh.

“Kapan?”

“Waktu mencari ayam.”

“Kenapa ayam ada di penggilingan?”

“Ayam bisa pergi ke mana saja.”

“Tidak ke sana.”

“Ya, ternyata.”

Arya kembali melihat dinding.

“Ada ruangan besar?”

“Tidak cukup untuk beras sebanyak itu.”

Mereka mengitari bangunan dari jarak jauh.

Sisi selatan memiliki jendela yang pecah.

Arya mendekat dan mengintip.

Ruangan penggilingan kosong.

Batu penggiling besar masih berada di tengah, tertutup debu. Tidak ada karung baru. Tidak ada pekerja.

Lalu terdengar langkah.

Dari balik dinding belakang.

Arya masuk melalui jendela.

Gantar menyusul sambil menutup hidung.

“Kita baru keluar dari saluran. Kenapa di sini lebih bau?”

“Bangkai tikus.”

Gantar langsung menurunkan tangannya.

“Jangan bilang begitu.”

“Kau takut tikus?”

“Tidak.”

“Terus?”

“Aku takut menginjaknya.”

Arya menahan tawa.

Mereka mendekati dinding belakang.

Dari luar dinding itu kelihatan tebal.

Lihat selengkapnya