Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #16

Bab 15 Latihan Tanpa Belas Kasihan

Mahesa memperbaiki tombak bambu Arya sebelum matahari terbit.

Tidak diganti.

Retakan di batangnya diikat dengan kulit tipis, lalu diperkuat cincin logam kecil. Ujung bambu dipangkas lagi dan dibakar sampai keras.

Ketika diberikan kembali, bentuknya masih sama.

Arya memutar tombak itu di tangannya.

“Kenapa tidak diberi ujung besi?”

“Karena kau belum siap.”

“Aku sudah melawan orang pakai pedang.”

“Dan hampir terbelah bersama tombakmu.”

“Aku tidak terbelah.”

Mahesa mengambil pedang kayu dari rak.

“Itu bukan hal yang perlu dibanggakan.”

Sejak gudang rahasia ditemukan, latihan Arya berubah.

Dulu Mahesa masih memberi waktu untuk memperbaiki pijakan. Kalau salah, ia tunjukkan. Kalau pukulannya terlalu dekat, ia berhenti.

Sekarang tidak.

Langkah terlalu lebar, betis kena.

Pegangan terlalu kaku, tombak terlepas.

Mata terlalu terpaku pada senjata lawan, bahu kena dari samping.

Arya jatuh berkali-kali.

Bangun lagi.

“Lagi.”

Arya menggeser kakinya.

Keringat sudah mengalir dari pelipis. Bajunya menempel di punggung, padahal matahari baru naik.

Mahesa berdiri di depannya dengan pedang kayu.

“Serang.”

Arya menusuk.

Pedang Mahesa menepis ujung tombak. Arya membiarkan dorongannya lewat, memutar batang, lalu bergeser. Ujung belakang tombak mengarah ke rusuk Mahesa.

Mahesa menahannya dengan siku.

Arya hendak mundur.

Kaki Mahesa sudah lebih dulu menyapu pergelangannya.

Arya jatuh ke pasir.

Belum sempat berguling, ujung pedang kayu sudah berhenti di dekat lehernya.

“Mati.”

Arya menepis pedang itu dan bangkit.

“Panglima selalu bilang begitu.”

“Karena kau selalu mati.”

“Kalau benar-benar mati, aku tidak bisa mengulang.”

“Itu sebabnya kau belajar di sini. Bukan di medan perang.”

Arya membetulkan pegangan tombaknya.

“Lagi.”

Mahesa tidak bergerak.

“Kau lelah.”

“Belum.”

“Kakimu mulai lambat.”

“Aku masih bisa berdiri.”

“Bisa berdiri bukan berarti bisa melindungi orang.”

Arya memandangnya.

Mahesa menunjuk tiga boneka jerami di sisi halaman. Salah satunya lebih kecil, dibuat menyerupai anak-anak.

“Mulai sekarang, tugasmu bukan menyentuhku.”

“Lalu?”

“Jaga mereka.”

Mahesa berjalan ke arah boneka.

Arya buru-buru menghalangi.

“Aturannya?”

“Aku akan mencoba menyentuh salah satu boneka. Kau cegah.”

“Dengan cara apa saja?”

“Tanpa pasir.”

Arya mendengus.

“Panglima masih kesal.”

“Aku tidak mau halaman latihan jadi ladang debu setiap pagi.”

Mahesa mengambil posisi.

“Mulai.”

Ia bergerak ke kiri.

Arya ikut.

Mahesa mendadak berbalik ke kanan. Arya terlambat setengah langkah, tapi masih sempat memotong jalur dengan tombaknya.

Pedang kayu menghantam batang bambu.

Arya menahan.

Mahesa mundur.

Untuk sesaat Arya mengira dirinya berhasil.

Lalu pedang kayu itu melayang.

Bukan ke arahnya.

Ke boneka kecil.

Arya meloncat dan menepisnya dengan tombak.

Pedang jatuh ke pasir.

Mahesa sudah ada di sisi lain.

Telapak tangannya menyentuh kepala boneka kedua.

“Kalah.”

Arya memandang boneka itu.

“Panglima melempar senjata.”

“Musuh bisa melempar batu, pisau, tombak, atau orang.”

Arya mengerutkan dahi.

“Orang?”

“Kalau cukup kejam.”

Arya mengambil pedang kayu yang jatuh dan menyerahkannya.

“Lagi.”

Kali ini Arya berdiri lebih dekat dengan boneka.

Mahesa berlari lurus.

Arya mengarahkan tombak ke dadanya.

Mahesa tidak berhenti.

Ia menyamping, menangkap gagang tombak, lalu menarik.

Arya ikut menarik.

“Lepas.”

“Tidak.”

Mahesa menarik lebih keras.

Arya menahan.

Terlambat.

Kaki Mahesa sudah menyentuh boneka kecil.

“Kalah.”

Arya melepaskan tombaknya.

Mahesa tampak sedikit terkejut.

Arya langsung menerjang.

Ia mendorong tubuh Mahesa menjauh dari boneka.

Keduanya jatuh.

Lihat selengkapnya