Bau asap tercium sebelum rumah pertama terlihat.
Kereta persediaan berguncang keras saat melewati jalan tanah. Arya berpegangan pada sisi papan sambil menjaga kendi air agar tidak pecah.
Di depan, Mahesa membagi pasukan menjadi dua kelompok.
Satu kelompok menuju pusat desa.
Kelompok lain mengikuti jalur sawah untuk memotong jalan keluar penjarah.
Arya masih berada di kereta ketika teriakan terdengar dari arah saluran irigasi.
Seorang perempuan berlari keluar dari kebun singkong. Wajahnya penuh jelaga. Ia membawa bayi, sementara seorang anak laki-laki mengikuti di belakang sambil menangis.
“Di mana yang lain?” tanya prajurit.
“Di rumah-rumah dekat saluran,” jawab perempuan itu. “Mereka bersembunyi saat penjarah datang.”
“Berapa anak?”
“Banyak. Aku tidak tahu.”
Suara benturan senjata terdengar dari pusat desa. Mahesa menoleh kepada Arya.
“Tetap di kereta.”
Arya mengangguk. Mahesa berlari bersama pasukan.
Kereta berhenti dekat rumah yang atapnya terbakar. Dua prajurit menurunkan peti obat. Kusir membawa kuda menjauh dari asap.
Arya membantu perempuan tadi duduk, lalu memberikan air kepada anak laki-lakinya.
“Rumah dekat saluran di mana?” tanya Arya.
Anak itu menunjuk deretan bangunan di balik kebun. Asap menutupi sebagian jalan.
Dari arah sana terdengar suara seorang anak memanggil ibunya.
Arya menatap dua prajurit yang sedang mengangkat korban terluka.
“Kalian dengar?”
Salah seorang mengangguk.
“Kami akan ke sana setelah ini.”
“Setelah ini kapan?”
“Kami harus membawa orang ini ke tempat aman.”
Arya melihat lelaki yang mereka angkat. Darah mengalir dari pahanya. Ia tidak dapat ditinggalkan.
Teriakan anak terdengar lagi. Lebih lemah. Arya memegang tombak bambunya. Mahesa sudah memerintahkan tetap di kereta.
Ia juga baru mengajarkan bahwa melindungi bukan berarti berlari sendiri menuju bahaya.
Arya melihat perempuan yang membawa bayi.
“Apakah saluran air terhubung ke rumah-rumah itu?”
Perempuan itu mengangguk.
“Salurannya lewat belakang. Ada pintu air di dekat pohon asem.”
“Airnya dalam?”
“Tidak. Hanya sampai lutut anak-anak.”
Arya berlari menuju kusir.
“Bawa kereta ke pohon asem.”
“Panglima menyuruh tetap di sini.”
“Aku tetap bersama kereta.”
Kusir melihat asap yang semakin tebal. Ia ragu. Arya menunjuk jalan samping.
“Kalau anak-anak keluar dari saluran, mereka butuh tempat naik dan obat.”
Kusir mengumpat pelan, lalu memutar kereta.
Mereka melewati kebun dan mencapai pintu air di belakang deretan rumah. Saluran itu selebar dua orang dewasa dan sebagian tertutup dinding batu rendah.
Air mengalir ke arah sungai. Arya turun dari kereta.
Kusir langsung memegang lengannya.
“Kau mau ke mana?”
“Memeriksa saluran.”
“Panglima akan memenggal kepalaku.”
“Panglima tidak memenggal orang karena itu.”
“Kau belum pernah membuatnya cukup marah.”
Arya menunjuk asap.
“Kalau menunggu pasukan selesai bertarung, anak-anak bisa terjebak.”
Kusir tidak melepaskan tangannya. Arya menahan desakan untuk membantah.
“Jangan ikut. Jaga kereta. Kalau aku kembali membawa anak-anak, bantu angkat mereka.”
“Kau tidak boleh pergi sendiri.”
“Aku tidak akan menyerang penjarah.”
“Itu tidak membuatku tenang.”
“Aku hanya akan masuk ke saluran.”
“Itu juga tidak.”
Suara atap runtuh terdengar dari salah satu rumah. Kusir akhirnya melepaskan Arya.
“Lima puluh hitungan,” katanya. “Kalau tidak kembali, aku menyusul.”
“Apa kusir bisa bertarung?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku akan menyeretmu keluar sambil berteriak.”
Arya turun ke saluran.
Airnya dingin dan keruh. Lumpur membuat langkah berat. Dinding batu cukup tinggi untuk menyembunyikan tubuhnya dari jalan, tetapi asap masih masuk dari atas.
Ia bergerak melawan arah aliran menuju rumah-rumah.
Beberapa langkah kemudian, ia menemukan penutup kayu kecil pada sisi saluran. Dari baliknya terdengar tangis tertahan.
Arya mengetuk.
“Siapa di dalam?”
Tidak ada jawaban.
“Aku dari Watu Ireng.”
Tangis itu berhenti.
“Aku datang dengan pasukan Raja Jayengrana.”
Penutup kayu bergerak sedikit. Wajah seorang anak perempuan muncul.
“Penjarahnya?”
“Pasukan sedang melawan mereka.”
“Ibu kami belum pulang.”
“Berapa orang di dalam?”
“Tujuh.”
Arya membuka penutup lebih lebar.
Ruangan di baliknya adalah tempat penyimpanan alat sawah. Enam anak lain berdesakan di dalam. Yang paling kecil mungkin baru berusia empat tahun.
“Asap masuk,” kata anak perempuan tadi. “Kami takut keluar.”
Arya melihat jalan di atas saluran. Suara pertempuran masih terdengar tidak jauh dari sana.
“Kita tidak keluar lewat jalan.”
Ia turun lagi ke air.
“Kalian ikut saluran sampai pohon asem. Ada kereta di sana.”