Tawanan itu tidak mau mengulang pengakuannya di depan Mahesa.
Ketika panglima datang, lelaki itu hanya menunduk dan mengaku tidak tahu apa-apa. Ia bahkan menyangkal pernah berbicara kepada Arya.
“Aku mendengarnya sendiri,” kata Arya.
Mahesa berjongkok di depan tawanan.
“Kau tahu jadwal patroli?”
Lelaki itu menatap tanah.
“Tidak.”
“Kau tahu rumah mana yang kosong?”
“Tidak.”
“Kau tahu penjaga Desa Timur dipindahkan ke utara?”
“Tidak.”
Mahesa memegang dagunya dan memaksa wajahnya terangkat.
“Kalau tidak tahu, kenapa menyerang tepat setelah patroli pergi?”
“Kebetulan.”
“Kebetulan tidak memberimu peta desa.”
Tawanan itu tidak bereaksi. Mahesa berdiri.
“Pisahkan dia dari yang lain. Tidak ada yang bicara dengannya tanpa izinku.”
Dua prajurit membawa lelaki itu pergi. Arya memperhatikan punggungnya.
“Dia takut kepada orang dalam istana.”
“Atau berbohong agar kita saling curiga,” jawab Mahesa.
“Aku tidak merasa dia berbohong.”
“Perasaan bukan bukti.”
Arya mengangguk.
Dulu ia akan langsung membantah. Sekarang nasihat itu sudah terlalu sering didengarnya untuk diabaikan.
Mahesa menyadari perubahan itu.
“Kita mulai dari yang dapat diperiksa.”
“Apa?”
“Jadwal patroli.”
Mereka kembali ke Watu Ireng menjelang malam. Para korban yang membutuhkan perawatan dibawa menggunakan dua kereta. Anak-anak Desa Timur duduk bersama keluarga mereka, sementara prajurit menjaga para tawanan di belakang.
Ketika rombongan memasuki gerbang, Jayengrana sudah menunggu.
Ia tidak bertanya mengenai kemenangan. Pertanyaan pertamanya adalah jumlah korban.
“Tidak ada warga yang tewas,” jawab Mahesa. “Tujuh terluka. Tiga rumah terbakar. Enam belas penjarah ditangkap.”
Jayengrana memandang orang-orang di atas kereta.
“Anak-anak?”
“Selamat.”
Baru setelah itu pandangannya berpindah kepada Arya.
Baju anak itu penuh lumpur. Bagian punggungnya robek. Ada luka baru di lutut dan lengannya.
“Kau meninggalkan kereta?” tanya Jayengrana.
Arya mengangguk.
“Masuk saluran?”
“Iya.”
“Melawan penjarah?”
“Sedikit.”
Mahesa berkata, “Ia mengeluarkan tujuh anak dan membawa informasi mengenai kelompok lain.”
Jayengrana tidak tersenyum.
Bahunya sedikit turun, seolah baru saja melepaskan beban yang sejak tadi ditahannya.
“Pergilah membersihkan diri,” katanya kepada Arya. “Setelah itu datang ke ruang kerja.”
Arya menduga ia akan mendapat hukuman tambahan. Ternyata Jayengrana hanya meminta penjelasan lengkap.
Arya menceritakan suara tawanan, pengetahuan mereka mengenai jadwal patroli, dan pernyataan tentang orang di balik tembok.
Jayengrana mendengarkan tanpa menyela. Setelah selesai, ia memandang Mahesa.
“Siapa yang mengetahui perubahan jadwal?”
“Panglima jaga, pejabat gerbang, tiga komandan regu, dan bagian persediaan.”
“Bangsawan?”
“Salinan jadwal dikirim kepada pengelola tanah di wilayah timur agar mereka menyiapkan tempat istirahat.”
“Berapa keluarga?”
“Lima.”
Jayengrana membuka peta Desa Timur.
“Periksa semuanya. Jangan hanya orang yang sudah kita curigai.”
Arya melihat tanda-tanda pada peta.
“Boleh aku ikut?”