Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #19

Bab 18 Raja yang Menghukum Keluarganya

Balairung Watu Ireng tidak pernah benar-benar sunyi.

Bahkan saat tidak ada yang berbicara, kain pakaian bergesekan, kursi kayu berderit, dan napas orang-orang terdengar berat.

Pagi itu, semua suara kecil terasa lebih jelas.

Tiga keluarga bangsawan duduk di sisi kanan ruangan. Para kepala keluarga mengenakan jubah resmi dan lambang warisan mereka. Di belakang masing-masing berdiri pengurus tanah, penasihat, dan beberapa prajurit pribadi.

Adipati Wiraguna berada paling depan.

Ia tidak termasuk terdakwa. Kehadirannya menunjukkan bahwa keluarga bangsawan tidak akan membiarkan salah satu dari mereka dihukum tanpa perlawanan.

Jayengrana duduk di kursi kerajaan. Mahesa berdiri di sebelah kanan.

Arya berada di dekat tiang bersama Gantar. Mereka diperintahkan diam dan tidak bergerak dari tempat itu.

“Kalau bosan, jangan tidur,” bisik Arya.

Gantar menatapnya.

“Aku tidak tidur saat banyak orang membawa pedang.”

“Kau tidur di kandang.”

“Kuda jarang mengadakan sidang.”

Mahesa melirik mereka. Keduanya langsung diam.

Pejabat hukum membacakan tuduhan. Penarikan penjaga Desa Timur sebelum serangan.

Pembayaran kepada petugas agar meninggalkan pos. Pengiriman jadwal patroli kepada penjarah.

Pembuatan ancaman palsu terhadap gudang pribadi.

Perjanjian perlindungan yang memaksa warga menyerahkan sebagian besar panen setelah mereka dibuat ketakutan.

Salah seorang kepala keluarga bangkit.

“Tidak ada bukti bahwa kami memerintahkan penjarah menyerang.”

Pejabat hukum menunjukkan surat pembayaran.

“Pengurus tanah Anda membayar dua orang yang kemudian ditangkap bersama kelompok penjarah.”

“Pengurus dapat bertindak sendiri.”

“Cap keluarga Anda ada pada surat.”

“Cap dapat digunakan tanpa pengetahuan pemilik.”

Arya melirik Jayengrana.

Ucapan itu mengulang kemungkinan yang pernah dijelaskan sang raja.

Karena itulah pemeriksaan tidak berhenti pada cap. Mahesa memanggil dua penjaga Desa Timur.

Keduanya mengaku menerima uang dari kepala pengurus.

Kemudian seorang kusir dibawa masuk. Ia mengaku mengantar perbekalan kepada kelompok penjarah melalui jalur hutan.

Perintahnya diberikan langsung oleh putra salah satu kepala keluarga.

Putra tersebut bangkit dengan marah.

“Dia berbohong!”

Kusir gemetar.

Ia tetap menunjukkan sebuah pisau pendek yang diberikan sebagai tanda pembayaran. Pada gagangnya terukir lambang keluarga yang sama.

Kepala keluarga memandang putranya. Untuk sesaat, kemarahan pada wajahnya berubah menjadi ketakutan.

Bukan takut pada hukuman. Takut kehilangan nama.

Adipati Wiraguna berdiri.

“Kesalahan beberapa pengurus dan anak muda tidak dapat digunakan untuk merampas hak seluruh keluarga.”

Jayengrana akhirnya berbicara.

“Tidak ada yang menuduh seluruh keluarga.”

“Namun, seluruh keluarga akan menanggung hukuman.”

“Seperti seluruh desa menanggung keputusan orang-orang yang memerintahkan penarikan penjaga.”

Wiraguna menatap sang raja.

“Bangsawan telah menjaga Watu Ireng sejak sebelum Paduka naik takhta.”

“Rakyat juga.”

“Tanpa pasukan keluarga, benteng ini tidak akan bertahan.”

“Tanpa pangan rakyat, pasukan keluarga tidak akan makan.”

Beberapa bangsawan mulai berbisik. Wiraguna menurunkan suara.

“Paduka sedang membuka luka yang tidak dapat ditutup.”

Jayengrana memandang surat-surat di hadapannya.

“Luka itu sudah dibuka ketika Desa Timur dijadikan umpan.”

Salah seorang kepala keluarga berlutut.

“Paduka, kami bersedia mengganti kerugian.”

“Dengan apa?”

“Beras, kayu, ternak.”

“Rumah yang terbakar dapat dibangun kembali.”

Jayengrana menatapnya sejenak.

“Lalu rasa takut anak-anak yang bersembunyi di bawah lantai itu kalian ganti dengan apa?”

Tidak ada jawaban.

Arya teringat tujuh anak yang berjalan di saluran air. Anak kecil yang memeluk lehernya begitu kuat hingga ia hampir sulit bernapas.

Bagi para bangsawan, serangan itu mungkin hanya bagian dari perhitungan kekuasaan.

Bagi anak-anak itu, suara langkah penjarah akan terus muncul dalam mimpi mereka.

Jayengrana meminta surat keputusan dibacakan.

Dua pengurus tanah dan putra bangsawan yang terbukti berhubungan langsung dengan penjarah dijatuhi hukuman penjara. Seluruh harta yang diperoleh dari perjanjian perlindungan disita untuk mengganti kerugian desa.

Hak memungut hasil panen dari lima desa dicabut.

Pasukan pribadi di wilayah timur ditempatkan di bawah pengawasan Mahesa selama tiga tahun.

Dua kepala keluarga kehilangan kursi dalam dewan kerajaan karena menutupi tindakan orang-orang di bawah mereka.

Mereka tidak dihukum mati. Jayengrana tidak merampas seluruh tanah keluarga.

Keputusan itu cukup berat untuk mengubah keseimbangan kekuasaan di dalam istana.

Salah satu kepala keluarga berdiri.

“Paduka menghukum kami berdasarkan kesalahan anak-anak kami.”

Jayengrana tetap menatapnya.

“Kalian menikmati keuntungan dari perjanjian mereka.”

Lihat selengkapnya