Keesokan paginya, Arya tidak menemukan tombaknya di sudut kamar.
Tempat tombak itu biasa disandarkan masih ada. Ikatan kulit yang memperkuat retakannya bahkan meninggalkan bekas tipis pada dinding.
Batang bambu itu menghilang.
Arya memeriksa bawah dipan.
Kosong.
Ia membuka peti, meskipun tahu tombak sepanjang itu tidak mungkin berada di dalam. Setelah itu, ia memeriksa ke balik pintu, bawah jendela, dan lorong.
Tetap tidak ada.
Gantar sedang membawa seember air melewati kamar ketika Arya keluar.
“Kau melihat tombakku?”
Gantar berhenti.
“Tombak bambu?”
“Aku cuma punya satu tombak.”
“Mungkin Panglima mengambilnya.”
“Kenapa?”
“Untuk dibakar.”
Arya menatapnya tajam. Gantar segera mengubah jawabannya.
“Untuk diperbaiki.”
“Sudah diperbaiki.”
“Untuk diperbaiki lagi.”
Arya mengambil ember dari tangan Gantar dan meletakkannya di lantai.
“Panglima di mana?”
“Halaman latihan.”
Arya berjalan cepat. Gantar menyusul setelah mengambil kembali embernya.
Mahesa berada di tengah halaman bersama belasan prajurit muda. Ia sedang memperagakan cara menahan serangan tombak menggunakan perisai.
Arya menunggu sampai latihan berhenti.
“Tombakku di mana?”
Mahesa menyerahkan perisai kepada salah seorang prajurit.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi. Tombakku di mana?”
“Kau selalu berbicara seolah semua orang wajib menjawabmu sebelum sempat bernapas.”
“Panglima sudah bernapas sejak aku datang.”
Beberapa prajurit menahan senyum. Mahesa memandang mereka. Semua wajah langsung kembali serius.
“Aku tidak mengambilnya,” katanya.
“Siapa?”
“Raja.”
Arya memicingkan mata.
“Untuk apa?”
“Tanyakan kepada beliau.”
“Paduka ada di mana?”
“Ruang kerja.”
Arya langsung berbalik. Mahesa memanggilnya.
“Latihanmu belum dimulai.”
“Aku kembali setelah mengambil tombak.”
“Kalau raja tidak mengembalikannya?”
Arya berhenti.
“Kenapa tidak dikembalikan?”
Mahesa tidak menjawab.
Gantar yang masih berdiri di pinggir halaman berbisik, “Sudah kubilang mungkin dibakar.”
Arya berlari menuju bangunan utama.
Dua penjaga berdiri di depan ruang kerja Jayengrana. Mereka sudah mengenal Arya, tetapi tetap menahan pintu.
“Paduka sedang menerima pejabat.”
“Aku hanya mengambil barangku.”
“Tidak bisa sekarang.”
“Barangku ada di dalam?”
Kedua penjaga saling pandang. Itu cukup menjadi jawaban.
Arya melipat tangan.
“Aku menunggu.”
Ia duduk di lantai dekat pintu.
Beberapa pelayan melewatinya. Seorang pejabat keluar membawa gulungan. Kemudian dua kepala desa masuk. Setelah mereka pergi, seorang pedagang menghadap untuk membicarakan pungutan jalan.
Arya tetap duduk. Hampir satu jam kemudian, pintu dibuka. Jayengrana berdiri di dalam.
“Kenapa kau duduk di lorong?”
“Tombakku hilang.”
“Tidak hilang.”
“Panglima bilang Paduka mengambilnya.”
“Benar.”
“Berarti hilang dari kamarku.”
Jayengrana memberi isyarat agar ia masuk. Arya melangkah ke ruang kerja.
Tombak bambunya terpasang pada dinding di belakang meja raja.
Dua penyangga kayu menahan batangnya secara mendatar. Di bawahnya terdapat papan kecil yang masih kosong.
Arya berdiri mematung.
“Apa yang Paduka lakukan?”
“Menyimpannya.”
“Di dinding?”
“Ya.”
“Itu bukan tempat tombak.”
“Di mana tempatnya?”