Selama tiga hari, Arya dilarang masuk ke ruang sidang.
Bukan karena Jayengrana ingin menyembunyikan pembicaraan itu.
Para bangsawan beranggapan urusan mengenai status seorang anak harus dibicarakan orang dewasa yang memahami adat.
Arya merasa alasan itu aneh.
“Kalau yang dibicarakan aku, kenapa aku tidak boleh mendengar?” tanyanya.
Mahesa sedang mengawasi latihan lempar tombak.
“Karena dewan menganggap kau terlalu muda.”
“Mereka tidak menganggapku terlalu muda saat menyalahkanku.”
“Kadang dewan memilih aturan yang paling menguntungkan mereka.”
Arya mengangkat tombak latihan.
“Panglima boleh mengatakan itu?”
“Aku bilang begitu kepadamu, bukan di ruang sidang.”
“Berarti aku tidak boleh mengulang?”
“Kalau ingin hidup tenang, jangan.”
Arya melempar tombak. Ujungnya mengenai bagian luar lingkaran sasaran.
“Buruk,” kata Mahesa.
“Aku tidak bisa memusatkan pikiran.”
“Musuh tidak akan menunggu urusan keluargamu selesai.”
Arya mengambil tombak kedua.
“Keluarga siapa?”
Mahesa belum menjawab ketika Arya melempar lagi. Kali ini tombaknya menancap lebih dekat ke tengah.
“Lebih baik,” kata Mahesa.
“Itu bukan jawaban.”
“Raja akan menjelaskannya.”
“Paduka tidak bicara kepadaku sejak kemarin.”
“Karena ia sedang menyiapkan sidang.”
“Jadi Panglima tahu?”
Mahesa mengambil tombak yang jatuh.
“Aku tahu beberapa kemungkinan.”
“Yang mana?”
“Berlatih.”
Arya melempar tombak ketiga terlalu keras. Senjata itu melewati sasaran dan jatuh di belakangnya.
Mahesa memperhatikannya.
“Kalau kau memakai kekuatan lebih besar saat pikiranmu kacau, hasilnya justru semakin jauh.”
Arya tidak mengambil tombak berikutnya.
“Apa Paduka akan mengusirku?”
“Tidak.”
Jawaban cepat itu sedikit mengurangi tekanan di dadanya.
“Menjadikanku pejabat?”
“Kau sembilan tahun.”
“Bangsawan bilang anak-anak tumbuh.”
“Kadang terlalu cepat.”
“Apa aku harus pulang ke Air Watu?”
“Tidak.”
“Lalu apa?”
Mahesa menghadapnya.
“Raja sudah punya keputusan. Tinggal disampaikan di depan dewan.”
Arya belum sepenuhnya paham. Sebelum sempat bertanya lagi, lonceng balairung berbunyi.
Sidang dimulai.
Arya diantar ke ruang kecil di belakang aula. Dari sana ia tidak bisa melihat para bangsawan, tetapi suara mereka masih terdengar lewat kisi-kisi kayu.
Pejabat adat membacakan keberatan keluarga-keluarga istana.
Arya tidak memiliki silsilah yang bisa dibuktikan.
Ayah kandungnya tidak diketahui nasibnya. Tidak ada hubungan darah dengan Jayengrana.
Tidak ada adat yang melarang raja mendidik anak rakyat. Pengangkatan menjadi keluarga kerajaan dapat memengaruhi urutan kehormatan, tempat tinggal di istana, dan urusan suksesi.
Kata itu langsung membuat ruangan gaduh.
Suksesi.
Pewaris.
Takhta.
Arya duduk di lantai sambil memeluk lutut. Ia tidak menginginkan semua itu.
Ia hanya ingin belajar membaca laporan, memperkuat Watu Ireng, dan mungkin suatu hari membantu memperbaiki jalan yang selalu diinjak pasukan asing.
Mengapa orang-orang terus membicarakan takhta setiap kali namanya disebut?
Suara Wiraguna terdengar.
“Tidak ada yang melarang Paduka menyayangi anak itu. Kasih pribadi tidak boleh mengubah aturan kerajaan.”
Jayengrana menjawab, “Aturan mana yang melarang seorang raja mengangkat anak?”
“Tidak ada.”
“Lalu?”
“Masalahnya adalah kedudukan setelah pengangkatan.”
“Dia tidak langsung menjadi pewaris.”
“Tidak langsung?”
Wiraguna menangkap dua kata itu.
“Berarti kemungkinan tersebut tetap ada?”
“Setiap keputusan mengenai pewaris dibahas terpisah sesuai kebutuhan kerajaan.”
“Jawaban itu malah bikin orang makin bertanya.”
“Aku tidak datang untuk menenangkan kekhawatiran yang belum tentu ada dasarnya.”
Suara beberapa bangsawan meninggi.
Salah seorang mengusulkan Arya diangkat hanya sebagai anak asuh tanpa hak keluarga.
Yang lain meminta ia ditempatkan di rumah Mahesa, bukan di kediaman istana.
Ada pula yang menyarankan Arya dikirim belajar ke padepokan luar kota agar hubungannya dengan raja tidak menimbulkan masalah.
Arya mengusap lututnya.
Semua orang membicarakan tempat ia harus tinggal.
Tak ada yang bertanya ia ingin tinggal di mana.
Pintu ruang kecil terbuka.
Gantar menyelip masuk membawa dua potong singkong rebus.
“Kau tidak boleh di sini,” kata Arya.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa masuk?”
“Aku bawa makanan.”
Arya menerima satu potong.
“Kau mencuri?”
“Dari dapur.”