Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #22

BAB 21 Pemuda dari Lumbung

Enam belas tahun mengubah banyak hal di Watu Ireng.

Tembok timur yang dahulu retak telah berdiri tegak dengan batu baru. Gerbang utama tidak lagi menjerit setiap dibuka. Menara pengawas bertambah, saluran air diperbaiki, dan gudang kerajaan kini jarang menyisakan ruang kosong.

Ada satu hal yang tidak berubah.

Arya Wisesa masih memeriksa lumbung dengan tangannya sendiri.

“Kalau semua karung harus kau sentuh satu per satu, kita akan pulang saat berasnya sudah menjadi bubur,” kata Gantar.

Ia berdiri di pintu gudang desa sambil mengipasi wajah menggunakan topi anyaman. Tubuhnya kini lebih tinggi dan kurus, tetapi kebiasaannya mengeluh tidak berkurang sedikit pun.

Arya mengangkat satu karung yang diletakkan terlalu dekat dengan dinding.

Di belakangnya terdapat bercak lembap.

“Kalau tidak diperiksa, tiga hari lagi karung ini berjamur.”

“Kalau aku yang periksa, cukup dilihat saja.”

“Itu sebabnya kau tidak pernah dipercaya menjaga beras.”

“Aku dipercaya membawa pesan perang.”

“Karena pesan tidak bisa berjamur.”

Gantar berpikir sejenak.

“Bisa kalau jatuh ke sungai.”

Arya memindahkan karung tersebut ke tempat yang lebih kering.

Pada usia dua puluh lima tahun, tubuhnya sudah jauh berbeda dari anak kurus yang pernah berdiri di depan lumbung Desa Air Watu. Bahunya melebar oleh latihan bertahun-tahun. Sebuah pedang tergantung di pinggang, sedangkan tombak panjang disandarkan di luar gudang.

Ada bekas luka tipis di dekat dagunya, akibat latihan. Menurut Mahesa, luka itu muncul karena Arya terlalu yakin bisa membaca arah pedang lawan.

Saat berbicara kepada petani, nada suaranya tetap seperti dahulu.

Langsung. Tidak berputar-putar.

“Kenapa atapnya belum diperbaiki?” tanyanya kepada kepala lumbung.

Lelaki setengah baya itu menggaruk leher.

“Kayunya sudah datang, Tuan Arya. Tukangnya belum.”

“Kenapa belum?”

“Mereka diminta memperbaiki pos jalan selatan.”

“Siapa yang memindahkan mereka?”

“Perintah pejabat wilayah.”

Arya kembali memeriksa bercak lembap pada dinding.

“Beras ini akan memberi makan dua desa saat musim hujan.”

Kepala lumbung menunduk.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, jangan menunggu sampai orang istana datang untuk mengingatkan.”

Arya tidak membentak.

Justru itu yang membuat kepala lumbung semakin malu.

“Aku akan mengumpulkan warga sore ini,” katanya. “Kami kerjakan bagian yang bisa diperbaiki sendiri.”

“Kerajaan mengirim dua tukang besok. Jangan menunggu mereka untuk memindahkan karung.”

“Baik.”

Arya keluar dari gudang.

Matahari berada tinggi di atas Desa Kali Wening. Sawah menghampar di kedua sisi jalan. Di kejauhan, anak-anak berlari mengejar layang-layang yang terbuat dari daun kering.

Gantar menyerahkan kendi air.

“Kau sekarang perwira utama Watu Ireng. Ada puluhan petugas yang bisa memeriksa gudang.”

Arya minum, kemudian mengembalikan kendi.

“Puluhan petugas itu memberikan laporan yang mengatakan atapnya baik.”

“Berarti laporannya salah.”

“Karena itu aku datang.”

“Kalau semua laporan salah, untuk apa kita punya pejabat?”

“Untuk membuatku memiliki lebih banyak orang yang bisa dimarahi.”

Gantar tertawa.

Mereka berjalan menuju pusat desa. Tidak ada rombongan besar yang mengikuti. Hanya empat prajurit berkuda yang menunggu di dekat balai desa.

Arya sengaja membawa sedikit pengawal.

Kalau datang dengan terlalu banyak pasukan, warga akan menghabiskan waktu menyambut dan menyiapkan makanan. Ia ingin melihat keadaan desa, bukan pertunjukan untuk tamu kerajaan.

Seorang anak perempuan berlari mendekat sambil membawa roda kayu patah.

“Tuan Arya!”

Arya berhenti.

“Ada apa?”

“Kakak bilang Tuan bisa benerin apa saja.”

Gantar langsung menoleh kepada anak itu.

“Kakakmu menyebarkan cerita yang berbahaya.”

Anak itu mengangkat roda.

“Kereta kecilku rusak.”

Arya menerima roda itu. Salah satu pasaknya lepas.

Ia berjongkok, mengambil pisau kecil dari pinggang, lalu merapikan ujung pasak sebelum memasangnya kembali.

Gantar berdiri dengan kedua tangan di pinggang.

“Kau tahu cara memperbaiki mainan?”

“Aku pernah menjadi anak kecil.”

“Sulit dipercaya.”

Arya menyerahkan roda. Anak itu tersenyum lebar, lalu berlari pergi.

Gantar memandangnya.

“Apa?”

Lihat selengkapnya