Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #23

BAB 22 Jalan yang Hilang

Arya tidak mengejar pengawas yang melarikan diri ke dalam hutan.

Dua prajurit sempat bergerak, tetapi ia mengangkat tangan.

“Biarkan.”

“Dia akan memberi tahu perampok,” kata salah seorang.

“Biarkan saja. Memang dia akan melapor.”

“Justru harus ditangkap.”

“Kalau kita mengejar, dia membawa kita ke jalur yang sudah disiapkan.”

Arya memeriksa lereng di kedua sisi jalan.

Tanahnya curam. Semak tumbuh rapat. Satu regu kecil dapat menunggu di atas dan menjatuhkan batu sebelum pasukan Watu Ireng sempat melihat mereka.

Perampok yang menguasai jalur ini tidak bertahan dua bulan hanya karena mampu menggunakan golok.

Mereka memahami medan. Mereka juga memiliki informasi.

Arya meminta prajurit memeriksa arah pelariannya tanpa masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Gantar berjongkok di dekat jejak kaki yang masih baru.

“Sandal kulit,” katanya. “Bukan kaki telanjang.”

“Apa artinya?”

“Dia punya uang.”

“Itu saja?”

“Belum.”

Gantar menunjuk ujung jejak yang hanya menyentuh bagian depan tanah.

“Dia terbiasa berjalan cepat di lereng. Mungkin pemburu. Mungkin pengintai.”

“Bisa orang desa?”

“Bisa.”

“Bisa orang pelabuhan?”

“Bisa juga.”

Arya menghela napas.

“Tunggu,” kata Gantar.

“Mungkin dia pemburu. Mungkin pengintai.”

Arya mengangguk.

“Sudah.”

Mereka tidak bermalam di Batu Sela.

Arya memerintahkan pasukan kembali melalui jalur berbeda agar pengawas tidak mengetahui ke mana mereka pergi. Menjelang malam, rombongan berhenti di sebuah pos kecil dekat sungai.

Pos itu pernah digunakan untuk mencatat kafilah yang masuk dari pelabuhan.

Bangunannya masih dipakai, tetapi hanya dijaga dua orang.

Ketika Arya meminta buku jadwal perjalanan, petugas pos mengatakan semua catatan telah dikirim ke pelabuhan utama.

“Kapan?”

“Tiap tiga hari.”

“Siapa yang mengambil?”

“Kurir pejabat sungai.”

“Namanya?”

Petugas itu menyebut satu nama. Gantar mengingatnya.

Lelaki itu sering membawa pesan ke istana, tetapi pesan-pesan itu tidak pernah diserahkan melalui ruang pengiriman resmi. Ia lebih sering menyerahkan surat kepada pelayan keluarga tertentu.

“Kapan terakhir datang?” tanya Arya.

“Tadi pagi.”

“Sebelum atau sesudah kafilah pedagang diserang?”

“Sesudah.”

“Dia membawa salinan jadwal berikutnya?”

Petugas ragu.

“Kami wajib menyerahkan.”

Arya membuka buku di atas meja. Beberapa halaman telah dirobek.

“Siapa yang merobek ini?”

“Buku lama, Tuan. Mungkin rusak.”

Tepi sobekannya masih bersih. Bukan kerusakan lama.

Arya menutup buku.

“Kalian tetap bertugas. Jangan mengirim kabar bahwa aku datang.”

Petugas itu memucat.

“Apakah kami dicurigai?”

“Belum tentu. Yang penting, jangan beri tahu siapa pun aku datang.”

Mereka meninggalkan pos setelah gelap.

Kali ini Arya hanya membawa Gantar dan dua pengintai. Pasukan lain diperintahkan kembali ke Desa Kali Wening untuk menjaga para pedagang.

Mereka mengikuti sungai menuju pelabuhan.

Cahaya obor sudah terlihat dari kejauhan. Kapal-kapal kecil ditambatkan pada dermaga kayu. Buruh masih mengangkut karung meskipun malam hampir larut.

Pelabuhan Watu Ireng tidak besar, tetapi tempat itu menjadi pintu masuk barang dari wilayah selatan.

Setiap peti dicatat. Setiap kapal membayar pungutan.

Setiap kafilah yang berangkat melalui jalan darat meninggalkan jadwal.

Arya tidak masuk melalui gerbang utama.

Gantar membawa mereka ke sebuah warung di belakang gudang ikan.

“Kenapa ke sini?” tanya Arya.

“Orang pelabuhan lebih banyak bicara setelah minum.”

“Kita tidak datang untuk minum.”

“Aku datang untuk mendengar.”

Warung itu penuh buruh, kusir, awak kapal, dan penjaga malam.

Arya memakai mantel kasar tanpa lambang Watu Ireng. Rambutnya ditutup kain. Pedangnya disembunyikan di balik pakaian.

Ia tetap sulit menyamar. Cara berdiri dan tubuhnya terlalu tegap untuk buruh biasa.

Gantar mendorong satu mangkuk minuman ke arahnya.

“Pegang.”

“Aku tidak mau.”

“Tidak perlu diminum. Jangan dibiarkan kosong. Nanti orang curiga.”

Arya memegang mangkuk. Seorang pelayan mendekat.

“Mau tambah?”

“Tidak.”

Gantar langsung menjawab, “Tambah makanan.”

“Kau bilang kita tidak datang untuk makan.”

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

Mereka duduk dekat dua kusir yang sedang mengeluhkan jalur barat.

“Aku tidak akan membawa kain besok,” kata salah satunya. “Perampok tahu barang mahal sebelum keretanya keluar.”

Lihat selengkapnya