Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #24

BAB 23 Menang Tanpa Pembantaian

Lembah Kering tidak benar-benar kering.

Sebuah aliran kecil mengalir di dasarnya, tersembunyi di antara batu dan semak berduri. Airnya tidak cukup besar untuk disebut sungai. Aliran itu hanya cukup untuk menghidupi pohon-pohon yang tumbuh rapat di sisi utara.

Dinding batu menjulang di kedua sisi.

Jalan masuknya hanya selebar dua kereta.

Jika Arya membawa pasukan langsung ke dalam, para perampok dapat menyerang dari atas. Batu, panah, atau batang pohon yang dijatuhkan dari tebing akan mengubah jalan sempit itu menjadi perangkap maut.

Mahesa berdiri di samping Arya sambil memeriksa mulut lembah.

“Kita tutup jalannya,” katanya. “Tunggu sampai persediaan mereka habis.”

“Berapa lama?”

“Seminggu. Mungkin dua.”

“Selama itu jalan perdagangan tetap tidak bisa dipakai.”

“Lebih baik kehilangan dua minggu daripada dua puluh prajurit.”

Arya tidak membantah.

Ia berjalan ke sisi jalan dan berjongkok di dekat bekas roda. Beberapa jejak mengarah masuk. Hampir tidak ada yang keluar.

Kelompok perampok telah membawa barang rampasan ke dalam lembah selama berbulan-bulan.

“Mereka punya persediaan,” kata Arya. “Beras, garam, mungkin ternak.”

“Karena itu kita bakar gudangnya.”

“Ada orang yang belum tentu ikut membunuh pedagang.”

Mahesa memeriksa tebing.

“Mereka tetap hidup bersama perampok.”

“Sebagian mungkin tidak punya tempat lain.”

“Itu tidak membuat jalan yang mereka pilih menjadi benar.”

“Tidak.”

Arya berdiri.

“Tapi orang yang mencuri tidak harus dihukum sama dengan orang yang membunuh.”

Mahesa memandang Arya dari samping.

“Kau sudah memikirkan rencana.”

“Ada beberapa bagian.”

“Berapa bagian yang belum?”

“Bagian yang biasanya dikerjakan Gantar.”

Dari belakang terdengar suara Gantar.

“Aku mau protes dulu. Jangan masukkan namaku ke pengawal sedikit itu.”

Ia datang bersama dua pengintai dan seorang pemburu lokal. Bajunya tertutup debu. Sebatang ranting tersangkut di rambutnya, tetapi ia tidak terlihat menyadarinya.

“Ada jalan lain?” tanya Arya.

“Bukan jalan.”

“Lalu?”

“Jalur kambing.”

Rahang Mahesa mengeras.

“Kambing tidak membawa pasukan.”

“Pasukan tidak perlu seperti kambing. Bawa tali saja.”

Gantar membuka peta kasar yang digambar di atas kain.

Jalur kecil naik dari sisi timur, melewati punggung batu, lalu turun menuju bagian belakang lembah. Terlalu sempit untuk pasukan besar, tetapi cukup bagi enam atau tujuh orang.

“Bisa dilewati tanpa terlihat?” tanya Arya.

“Kalau malam.”

“Penjaga?”

“Dua orang di atas tebing. Satu sering tidur.”

“Yang satu lagi?”

“Sering membangunkan temannya.”

Mahesa menunjuk tanda di bagian belakang lembah.

“Ini apa?”

“Tempat mereka menyimpan kereta rampasan.”

“Ada pintu keluar?”

“Tidak. Hanya celah sempit menuju ladang kecil.”

Arya mempelajari peta.

Perampok merasa aman karena hanya memiliki satu jalan masuk. Mereka menyimpan kereta, persediaan, dan sebagian besar senjata di bagian belakang.

Jika jalur belakang dikuasai, mereka tidak lagi punya tempat untuk mundur.

Mengepung mereka dari dua arah tetap bisa berakhir dengan pembantaian.

Arya mengarahkan pandangan ke kereta kosong yang dibawa dari pelabuhan.

“Kita beri mereka sasaran.”

Mahesa mengikuti arah pandangnya.

“Kereta umpan?”

“Tiga.”

“Dengan pengawal sedikit?”

“Cukup sedikit agar mereka menyerang. Cukup banyak agar tidak semuanya mati.”

Gantar mengangkat tangan.

“Aku mau protes dulu. Jangan masukkan namaku ke pengawal sedikit itu.”

“Kau ikut denganku.”

“Itu juga tidak menenangkan.”

Menjelang sore, tiga kereta disiapkan.

Bagian atasnya ditutup kain tebal. Dari luar, muatannya tampak penuh. Di dalam, bukan kain mahal atau peti koin, melainkan karung pasir dan perisai tambahan.

Delapan prajurit menyamar sebagai pengawal kafilah.

Arya mengenakan pakaian kusir dan menyembunyikan pedang di bawah tempat duduk. Gantar duduk di sampingnya dengan topi lebar menutupi wajah.

Mahesa memimpin pasukan utama melalui jalur hutan. Ia akan menunggu di luar lembah sampai perampok turun menyerang.

Sementara itu, enam pengintai bergerak lewat jalur kambing menuju bagian belakang.

“Kalau mereka tidak menyerang?” tanya Gantar.

“Berarti mereka sudah tahu perangkapnya.”

“Kalau mereka tahu?”

“Kita batalkan.”

“Kalau mereka menyerang dengan semua orang?”

“Kita tahan sampai Mahesa datang.”

“Kalau Mahesa terlambat?”

Arya memegang kendali kereta.

“Kau selalu bertanya kemungkinan paling buruk?”

Lihat selengkapnya