Raja Jayengrana membaca surat Rudragni dua kali.
Setelah itu, ia meletakkannya di atas meja tanpa menunjukkan perubahan wajah.
Mahesa tidak setenang itu.
“Upeti perlindungan,” katanya. “Nama bagus untuk pemerasan.”
Gantar berdiri dekat pintu sambil membawa kantong makanan. Ia tidak diundang ke rapat, tetapi tidak ada yang sempat mengusirnya setelah Arya tiba.
“Perampok juga bilang barang rampasan itu biaya jalan,” katanya.
Mahesa menoleh.
“Kau sedang makan?”
“Kalau sambil makan, aku lebih enak mikir.”
“Keluar.”
Gantar menyimpan makanannya di balik punggung.
“Aku bisa berhenti.”
“Keluar.”
Arya menerima kantong itu sebelum Gantar pergi.
“Kenapa diberikan kepadaku?”
“Biar tidak disita Panglima.”
Pintu ditutup.
Mahesa menghela napas.
Jayengrana masih memandang surat.
Rudragni menuntut dua ratus karung beras setiap musim panen. Sebagai balasannya, Ranu Kerta berjanji menjaga perbatasan utara dari penjarah dan pasukan asing.
Tuntutan kedua lebih berbahaya: hak lintas bagi pasukan Ranu Kerta.
Prajurit Ranu Kerta boleh melewati celah utara, beristirahat di wilayah Watu Ireng, membeli persediaan dengan harga yang mereka tetapkan, serta tidak diperiksa selama membawa cap kerajaan.
“Kalau kita setuju,” kata Mahesa, “mereka dapat memasukkan pasukan kapan saja.”
“Rudragni menyebut batasnya lima ratus orang,” kata Jayengrana.
“Lima ratus cukup untuk merebut dua gerbang sebelum pasukan kita berkumpul.”
Arya membuka peta.
Celah utara adalah jalur sempit di antara dua bukit batu. Dari sana, jalan menurun menuju Watu Ireng dan bercabang ke Kendalisada.
Ranu Kerta sudah lama mengincar jalur itu.
Jika memperoleh hak lintas, mereka tidak perlu menaklukkan benteng.
Kalau hak lintas diberikan, Watu Ireng sendiri yang membiarkan mereka masuk.
“Kenapa sekarang?” tanya Jayengrana.
“Jalan barat kembali ramai,” jawab Arya. “Pungutan akan naik. Persediaan bergerak lagi. Rudragni tahu Watu Ireng mulai pulih.”
Mahesa menunjuk bagian surat yang menyebut perlindungan.
“Dia juga tahu pasukan kita baru saja dipakai untuk menangani perampok.”
“Pejabat pelabuhan mungkin sudah menjual informasi lebih dari jadwal kafilah,” kata Arya.
“Ranujaya menyangkal hubungan dengan Ranu Kerta.”
“Dia juga menyangkal menjual jadwal sebelum kita menemukan uang di tangannya.”
Jayengrana berjalan menuju jendela.
Dari ruang kerja, halaman istana terlihat sibuk. Kereta beras masuk melalui gerbang. Tukang memperbaiki perisai. Sejumlah prajurit baru berlatih di bawah pengawasan perwira.
Watu Ireng memang lebih kuat daripada enam belas tahun lalu.
Tetapi belum cukup kuat untuk mengabaikan kerajaan sebesar Ranu Kerta.
“Kalau kita menolak,” kata Jayengrana, “Rudragni dapat mengirim pasukan.”
Mahesa mengangguk.
“Kalau menerima, dia mengirim pasukan tanpa perlu berperang.”
Arya mengangkat kepala.
“Berarti hasilnya sama.”
“Tidak,” kata Jayengrana. “Kalau menerima, rakyat tidak langsung mati.”
“Dia tahu kita akan berpikir begitu.”
Jayengrana memandang Arya.
Arya melanjutkan,
“Dia tahu Paduka selalu menghitung nyawa rakyat. Karena itu dia membuat tuntutan yang tampak lebih murah daripada perang.”
“Dan memang lebih murah.”
“Mungkin hari ini.”
Arya menunjuk dua ratus karung yang tertulis dalam surat.
“Sekarang dua ratus. Besok bisa lebih. Setelah pasukannya terbiasa lewat, dia bisa minta pos juga. Setelah itu, desa-desa utara tidak lagi tahu apakah mereka hidup di Watu Ireng atau Ranu Kerta.”
Mahesa mengangguk pelan.
Jayengrana tidak langsung menjawab.
Arya mengetahui sang raja tidak takut kehilangan muka. Jayengrana tidak peduli dianggap lemah jika mengalah dapat menyelamatkan rakyat.
Karena itu, Arya ingin menunjukkan bahwa menerima tuntutan ini hanya menunda masalah.
Ia membuka laporan lumbung.