Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #26

BAB 25 Perang Celah Utara

Arya mencapai Celah Utara beberapa saat sebelum pasukan pertama Ranu Kerta terlihat.

Pertahanan di sana belum pantas disebut benteng.

Dua dinding batu rendah berdiri di sisi jalan. Parit yang baru digali belum selesai, sementara tumpukan batu untuk memperkuat gerbang masih berserakan. Sebagian pekerja meninggalkan cangkul dan keranjang mereka ketika terompet bahaya berbunyi.

Di kejauhan, debu membubung di balik punggung bukit.

Mahesa turun dari kudanya dan langsung memanggil kepala pertahanan.

“Berapa orang?”

“Seratus delapan puluh prajurit tetap,” jawab kepala pertahanan. “Sekitar seratus warga desa sudah membawa tombak dan busur berburu.”

“Pemanah?”

“Empat puluh dua.”

“Persediaan panah?”

“Cukup untuk satu pertempuran singkat.”

Mahesa memeriksa debu yang semakin tebal.

“Pertempurannya mungkin tidak singkat.”

Arya membuka peta pertahanan di atas tumpukan batu.

Celah Utara menyempit di tengah seperti leher kendi. Jalan dari wilayah Ranu Kerta menurun di antara dua dinding batu, kemudian melebar sebelum memasuki desa-desa Watu Ireng.

Pasukan infanteri berat Rudragni lebih kuat di tanah terbuka.

Di celah sempit, jumlah mereka tidak dapat digunakan sekaligus.

“Paritnya sampai mana?” tanya Arya.

Kepala pertahanan menunjuk garis tanah yang baru digali.

“Bagian depan selesai. Sisi timur belum terhubung.”

“Berapa lama?”

“Dengan semua pekerja, setengah hari.”

“Kita tidak punya setengah hari.”

Suara terompet kembali terdengar. Kali ini lebih dekat.

Gantar tiba bersama pengintai terakhir. Kudanya berhenti terlalu mendadak hingga tubuhnya hampir terlempar melewati kepala hewan itu.

Ia berhasil memegang pelana.

“Sengaja,” katanya cepat.

“Berapa jumlah musuh?” tanya Arya.

“Barisan depan sekitar seribu. Mungkin lebih banyak di belakang.”

“Kereta pengepung?”

“Belum terlihat.”

“Pemanah?”

“Sedikit. Mereka membawa perisai besar dan tombak panjang.”

Mahesa memeriksa jalur menurun.

“Infanteri berat. Mereka ingin memaksa jalan dengan satu dorongan.”

Arya memeriksa dinding batu yang belum cukup tinggi.

Kalau pasukan Ranu Kerta berhasil mencapai bagian celah yang melebar, jumlah mereka akan menjadi masalah besar bagi Watu Ireng.

Mereka tidak boleh dibiarkan keluar dari bagian sempit itu.

“Bawa semua pekerja turun,” kata Arya. “Jangan selesaikan dinding.”

Kepala pertahanan terkejut.

“Lalu?”

“Perkuat parit depan.”

“Bagian timur tetap terbuka.”

“Biarkan.”

Mahesa memperhatikan Arya.

“Kau ingin mereka melihat kelemahan itu?”

“Aku ingin mereka masuk ke sana.”

Arya menunjuk jalur tanah pada sisi timur. Jalur itu tampak sebagai celah antara dinding dan parit. Cukup lebar untuk sepuluh orang berjalan berbaris.

Di belakangnya terdapat lereng batu yang tidak terlihat dari arah utara.

“Pasang papan menutupi bagian parit yang belum selesai,” katanya. “Tutup dengan tanah tipis.”

“Perangkap?” tanya Gantar.

“Bukan untuk membunuh. Untuk memutus barisan.”

Mahesa mengikuti garis pada peta.

“Pasukan depan mereka masuk. Setelah papan dijatuhkan, barisan belakang akan tertahan di parit.”

“Lalu pasukan bergerak menyerang dari dua sisi.”

“Berapa banyak?”

“Enam puluh orang. Tanpa zirah berat.”

Mahesa menggeleng.

“Enam puluh melawan ratusan.”

“Hanya bagian yang terputus.”

“Kalau papan runtuh terlalu cepat?”

“Kita mundur ke dinding kedua.”

“Kalau terlalu lambat?”

Arya memeriksa kepala pertahanan.

“Jangan sampai terlambat.”

Lelaki itu menelan ludah.

“Baik.”

Perintah menyebar.

Warga memperdalam parit. Papan-papan lebar diletakkan melintang, kemudian ditutup tanah dan rumput. Dari jauh, jalur timur tampak seperti jalan yang belum sempat ditutup.

Pemanah ditempatkan di balik dinding batu. Pasukan bertameng menjaga bagian tengah.

Enam puluh prajurit bergerak cepat bersembunyi di balik lereng sisi timur dan barat. Mereka membawa tombak pendek, pedang, serta perisai ringan.

Arya akan memimpin kelompok timur. Mahesa memimpin pertahanan utama.

“Kenapa bukan Panglima yang memimpin serangan samping?” tanya seorang perwira.

“Karena kalau bagian tengah runtuh, kalian membutuhkan Mahesa,” jawab Arya.

“Kalau kelompok timur runtuh?”

Arya mengencangkan pelindung lengannya.

“Masih ada orang lain.”

Mahesa memandangnya sejenak.

“Aku tidak suka rencana ini.”

“Panglima juga tidak punya waktu mengubahnya.”

Mahesa meraih bahu Arya.

“Jangan mengejar lebih jauh daripada tanda batu hitam.”

Arya memperhatikan batu besar yang menandai batas serangan.

“Aku tahu.”

“Ucapkan.”

Lihat selengkapnya