Pasukan Ranu Kerta mulai membongkar perkemahan sebelum fajar.
Dari menara Celah Utara, Arya melihat api-api kecil mereka dipadamkan satu per satu. Kereta perbekalan bergerak lebih dahulu, disusul pasukan terluka dan infanteri yang masih mampu menjaga barisan.
Mereka benar-benar mundur.
Seorang perwira Watu Ireng datang membawa kabar.
“Pengintai memastikan mereka bergerak ke utara.”
“Berapa yang tertinggal?” tanya Mahesa.
“Tidak ada satuan besar. Hanya kelompok kecil yang mungkin menjaga belakang.”
Perwira itu menoleh kepada Arya.
“Kalau kita bergerak sekarang, kita dapat menyerang kereta perbekalan sebelum mereka mencapai dataran.”
Beberapa pemimpin regu yang berada di ruangan mengangguk.
Musuh sedang lelah.
Barisan mereka memanjang.
Infanteri berat tanpa posisi pertahanan akan sulit melawan pasukan yang menyerang dari lereng.
Mahesa membuka peta.
“Dua ratus orang bergerak cepat dapat mencapai sisi mereka sebelum tengah hari.”
“Aku memimpin,” kata salah seorang bangsawan muda.
Arya tidak menjawab.
Ia sedang membaca tiga laporan yang tiba sepanjang malam.
Desa Batu Utara kehilangan dua rumah akibat panah api.
Saluran air di Desa Rawa Punggung dirusak pasukan pengintai Ranu Kerta.
Jembatan kecil menuju lumbung perbatasan roboh ketika warga mengungsi.
Lebih dari seratus keluarga belum berani kembali ke rumah.
“Kita tidak mengejar,” kata Arya.
Ruangan langsung sunyi.
Perwira yang tadi mengusulkan serangan mengira ia salah dengar.
“Musuh sedang terbuka.”
“Aku tahu.”
“Kereta mereka membawa pangan, senjata, dan mungkin surat perintah. Kalau direbut, Rudragni kehilangan kemampuan menyerang kembali.”
“Kita juga baru kehilangan dua ratus prajurit di celah.”
“Mereka mundur.”
“Mata-mata juga masih ada.”
Mahesa menyandarkan kedua tangan pada meja.
“Mata-mata itu bisa dicari penjaga.”
Arya menunjukkan laporan desa.
“Rakyat di belakang kita tidak punya air, jembatan, atau rumah.”
Bangsawan muda tadi berkata, “Perbaikan dapat dilakukan setelah kemenangan penuh.”
“Menurutmu kemenangan penuh itu apa?”
“Pasukan Ranu Kerta dihancurkan sebelum menyeberangi batas.”
“Berapa orang kita mati untuk mendapatkannya?”
“Kita tidak tahu sebelum mencoba.”
“Jadi rakyat harus membayar untuk mengejar mereka yang sudah pergi?”
Lelaki itu menatap Arya dengan wajah kaku.
“Mereka dapat kembali.”
“Karena itu kita memperkuat celah.”
“Kalau kereta mereka direbut, mereka tidak dapat kembali.”
“Kalau ini perangkap dan pasukan utama berbalik, celah kehilangan pertahanan.”
Salah seorang perwira berkata, “Pengintai tidak melihat pasukan tersembunyi.”
Arya mengangkat laporan yang ada di tangannya.
“Pengintai kemarin juga tidak melihat mata-mata masuk bersama pekerja.”
Tidak ada jawaban.
Mahesa masih mempelajari peta.
“Aku setuju pengejaran memiliki risiko,” katanya. “Kesempatan seperti ini juga tidak datang dua kali.”
Arya menoleh kepada Mahesa. Mahesa tidak sedang menguji.
Ia benar-benar melihat kemungkinan kemenangan lebih besar.
“Aku juga melihatnya,” kata Arya.
“Lalu?”
“Aku memilih tidak mengambilnya.”
“Karena desa?”
“Karena tujuan perang kita menjaga celah dan rakyat. Celah masih milik kita. Pasukan Rudragni sudah keluar.”
Bangsawan muda tertawa tanpa humor.
“Kau puas hanya karena mereka pergi?”
“Tidak.”
“Kalau begitu kejar.”
“Aku tidak mau menambah korban cuma karena mereka sudah mundur.”
Beberapa orang tersinggung, tetapi Arya keburu melanjutkan sebelum mereka menyela.
“Pasukan yang bisa mengejar adalah pasukan yang masih sehat. Orang-orang itu justru yang paling dibutuhkan untuk memperbaiki desa, menjaga tawanan, mencari mata-mata, dan membangun pertahanan sebelum Rudragni mengirim serangan kedua.”
Ia menunjuk tiga jalur pada peta.
“Kelompok pertama mengawal warga pulang. Kelompok kedua memperbaiki saluran dan jembatan. Kelompok ketiga tetap di celah.”
“Lalu musuh dibiarkan membawa semua persediaannya?” tanya perwira.
“Ya.”
“Semua senjatanya?”
“Ya.”
“Ini kehilangan kemenangan penuh.”
Arya menggulung laporan.
“Kalau kita mengejar cuma untuk mengambil kereta mereka, kita sudah keluar dari tujuan awal.”
Mahesa memandang para perwira.
“Keputusan sudah dibuat.”
Tidak semua orang puas.
Pasukan dibagi sebelum matahari terbit penuh.
Arya memimpin kelompok menuju Desa Batu Utara. Gantar ikut membawa daftar keluarga yang belum ditemukan.
Mereka melewati bekas pertempuran.