Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #28

Bab 27 Pasukan Baru Watu Ireng

Mata-mata Ranu Kerta tertangkap tiga hari setelah Perang Celah Utara.

Yang menangkapnya bukan prajurit istana.

Seorang pembuat arang menemukan lelaki asing sedang menggambar menara dan jalur parit pada potongan kulit. Ketika ditanya, lelaki itu mengaku sedang menghitung jarak menuju pasar. Pembuat arang itu memang tidak dapat membaca, tetapi ia tahu gambar pasar tidak akan dipenuhi jumlah pemanah di setiap dinding.

Ia melapor kepada kepala desa.

Satuan penjaga desa menutup jalan sebelum mata-mata itu mencapai sungai.

Gantar datang membawa barang buktinya ke ruang kerja Jayengrana.

“Dia menyimpan ini di dalam ikat pinggang,” katanya sambil meletakkan potongan kulit di atas meja. “Tidak nyaman, tapi cukup aman selama tidak duduk terlalu cepat.”

Mahesa membuka gambar tersebut.

Posisi parit, menara, gudang panah, dan jalur pengiriman air tercatat cukup rinci. Beberapa bagian berasal dari pengamatan langsung. Sisanya hanya mungkin diketahui oleh orang yang bekerja di dalam pertahanan Watu Ireng.

“Siapa yang membantunya?” tanya Arya.

“Belum mengaku,” jawab Gantar. “Katanya dia bekerja sendiri.”

“Dia memasuki perkemahan dengan pakaian warga dan tahu jadwal penggantian penjaga.”

“Berarti dia pembohong yang rajin.”

Jayengrana memeriksa laporan penangkapannya.

“Siapa nama pembuat arang yang mengenalinya?”

“Raka Padas.”

“Prajurit?”

“Bukan.”

“Pernah dilatih?”

“Pernah ikut latihan tombak desa dua kali. Katanya berhenti karena pelatih selalu menyuruhnya berlari.”

Mahesa mengangkat alis.

“Kalau perang datang, dia berharap musuh tidak menyuruhnya berlari?”

“Dia bilang berlari tidak cocok untuk pekerjaannya.”

Arya menahan senyum.

“Dia mengenali ancaman lebih cepat daripada penjaga perkemahan.”

Mahesa tidak menyangkal. Arya kembali memperhatikan peta pertahanan Watu Ireng.

Selama ini, kerajaan bergantung pada pasukan tetap, pasukan pribadi bangsawan, dan warga yang baru dipanggil ketika bahaya sudah tiba. Warga desa mengenal jalan kecil, saluran, lumbung, serta orang asing lebih baik daripada prajurit yang datang sesekali.

Pengetahuan mereka belum pernah disusun menjadi bagian dari pertahanan resmi.

“Panggil kepala desa, perwira, dan wakil pasukan keluarga,” kata Arya.

Mahesa memandangnya.

“Kau akan mengusulkan satuan desa.”

“Ya.”

“Dewan akan menolak.”

“Karena?”

“Pasukan bersenjata di luar kendali bangsawan membuat mereka gelisah.”

“Pasukan itu tetap berada di bawah kerajaan.”

“Di atas kertas.”

Arya menunjuk laporan penangkapan mata-mata.

“Raka Padas tidak menunggu surat kerajaan untuk menjaga desanya.”

“Itulah yang akan digunakan sebagai alasan penolakan. Mereka akan mengatakan orang desa bertindak tanpa perintah.”

“Dia mencegah peta pertahanan dibawa ke Ranu Kerta.”

“Aku tidak mengatakan tindakannya salah.”

“Lalu?”

Mahesa menutup peta.

“Aku hanya mengingatkan, keputusan yang baik tetap bisa disalahgunakan kalau aturannya longgar.”

Jayengrana mengangguk.

“Bentuk aturan sebelum membentuk pasukan.”

Sidang pertahanan diadakan siang itu.

Kapten Jaya Reksa hadir mewakili perwira dari keluarga bangsawan kecil. Zirahnya bersih, rambutnya terikat rapi, dan ia berdiri seolah seluruh balairung merupakan halaman latihan yang harus mengikuti garis lurus.

Arya menjelaskan rencananya.

Setiap desa perbatasan akan memiliki satuan pertahanan berisi warga pilihan. Mereka tidak menjadi pasukan penuh waktu. Mereka tetap bertani, membuat gerabah, menebang kayu, atau berdagang.

Mereka berlatih dua kali setiap bulan untuk mengenali tanda bahaya, menjaga jalur evakuasi, mencatat orang asing, serta menguasai titik air, gudang, dan jalan kecil.

Jika serangan datang, tugas pertama mereka bukan mengejar musuh, melainkan memindahkan anak-anak, menjaga lumbung, serta menahan jalan sampai pasukan kerajaan tiba.

“Siapa yang memilih anggotanya?” tanya salah satu bangsawan.

“Kepala desa mengajukan,” jawab Arya. “Perwira kerajaan memeriksa.”

“Siapa yang memberi senjata?”

“Kerajaan.”

“Berarti rakyat biasa akan menyimpan senjata milik istana di rumah mereka?”

“Tombak dan busur latihan disimpan di balai desa. Pedang tidak dibagikan bebas.”

Bangsawan lain berkata, “Apa yang mencegah mereka memberontak?”

Arya mengalihkan pandangannya ke deretan pasukan keluarga di belakang para bangsawan.

“Lalu, siapa yang menjamin pasukan pribadi kalian tidak memberontak?”

Beberapa wajah mengeras.

“Pasukan kami terikat kehormatan keluarga.”

“Warga desa punya rumah, sawah, anak-anak.”

“Tidak sama.”

“Ya. Dan itu yang mereka lindungi.”

Ruangan mulai gaduh.

Jayengrana membiarkan perdebatan berlangsung beberapa saat sebelum mengangkat tangan.

Kapten Jaya Reksa berdiri.

“Aku menolak.”

Suaranya tidak tinggi. Seluruh ruangan langsung memperhatikan. Arya menghadap kepadanya.

“Alasanmu?”

“Pasukan tidak dapat dibangun dari niat baik saja.”

“Aku tidak mengusulkan itu.”

Lihat selengkapnya