Air sungai mencapai lumbung pertama menjelang tengah malam.
Arusnya berwarna cokelat, membawa ranting, jerami, dan potongan pagar dari desa hulu. Tanggul lama sudah pecah pada dua bagian. Air masuk ke sawah yang hampir panen, lalu mengalir menuju dataran rendah tempat kerajaan baru membangun gudang pangan.
Kentongan tanda bahaya berbunyi dari menara timur.
Satu kali panjang.
Tiga kali pendek.
Banjir.
Di setiap desa yang mengikuti uji coba pertahanan, satuan warga bergerak sesuai latihan.
Anak-anak dibawa ke tanah tinggi. Ternak dilepaskan dari kandang rendah.
Karung pangan dipindahkan menggunakan gerobak.
Orang-orang yang biasanya menunggu perintah dari kota sudah bergerak sebelum pasukan kerajaan tiba.
Arya mencapai Desa Rawa Punggung bersama Sena dan empat puluh prajurit.
Hujan turun deras. Pakaian mereka basah sebelum sempat turun dari kuda.
Kepala desa berlari menyambut.
“Lumbung selatan masih tertutup, Tuan. Tapi dinding belakang mulai kemasukan air.”
“Berapa karung di dalam?”
“Lebih dari tiga ratus.”
“Jalur utara?”
“Terendam.”
Arya mengarahkan pandangannya ke arus yang melintasi jalan.
Membawa karung satu per satu melalui jalur itu terlalu lambat. Gerobak dapat terjebak. Jika dinding lumbung runtuh, seluruh persediaan hanyut.
“Sena.”
Perwira baru itu maju.
“Bawa dua regu ke tanggul yang pecah. Jangan tutup seluruh bagian yang jebol. Arahkan air ke ladang kosong sebelah barat.”
“Kita butuh papan.”
“Ambil dari pagar luar. Ganti setelah banjir.”
Sena mengangguk dan pergi tanpa meminta penjelasan kedua.
Arya menuju lumbung.
Air sudah mencapai mata kaki di dalam. Karung bagian bawah mulai lembap.
Gantar berdiri di atas tumpukan sambil mengangkat kain penutup.
“Aku datang karena dengar orang-orang ribut.”
“Bagaimana?”
“Aku langsung ke sini.”
“Kenapa berada di atas karung?”
“Di bawah ada air.”
Arya mengabaikannya.
“Berapa pintu?”
“Dua. Pintu belakang macet.”
“Buka.”
“Sudah dicoba.”
“Coba lagi.”
Gantar melompat turun dan langsung meringis ketika kakinya masuk air.
“Dingin.”
“Banjir jarang menunggu airnya hangat.”
Mereka memindahkan karung dari bagian belakang.
Warga membentuk barisan sampai ke dataran yang lebih tinggi. Satu karung berpindah dari tangan ke tangan tanpa harus dibawa satu orang sepanjang jalan.
Jaya Reksa tiba bersama pasukan gerbang timur. Ia memperhatikan satuan desa yang sudah bercampur dengan prajurit kerajaan.
“Siapa yang memimpin pemindahan?”
“Kepala lumbung,” jawab Arya.
“Pasukan?”
“Aku.”
“Warga?”
“Kepala desa.”
“Jadi, siapa yang pegang perintah di sini?”
Arya menunjuk bagian pekerjaan.
“Kepala lumbung urus karung. Kepala desa urus warga. Aku pegang jalurnya.”
Jaya Reksa memperhatikan beberapa saat. Tidak ada yang bergerak tanpa tujuan.
Warga tidak mencoba menjadi prajurit. Prajurit tidak mengambil alih pengetahuan lumbung.
Setiap kelompok mengerjakan bagian yang dikuasainya.
Dinding belakang mengeluarkan bunyi retak.
“Keluar!” teriak Arya.
Orang-orang di sisi belakang menjauh. Sebagian batu runtuh.
Air masuk lebih deras. Dua tumpukan karung terguling.
Seorang warga terjatuh dan kakinya terjepit. Jaya Reksa bergerak lebih dahulu.
Ia masuk melawan arus, mengangkat karung bersama dua prajurit, lalu menarik lelaki itu keluar.
“Ada yang lain?” teriaknya.
“Tidak!”
Arya mengamati lubang pada dinding. Menutupnya dari dalam tidak mungkin.
“Kita buka pintu depan penuh!”
Kepala lumbung terkejut.
“Air akan masuk lebih banyak.”
“Kalau air terus menekan dari belakang, dindingnya ikut roboh. Buka pintu depan.”
Pintu depan dibuka.
Arus mengalir menembus gudang, tetapi tekanan pada dinding berkurang. Karung yang sudah dinaikkan tetap aman di atas panggung kayu. Karung lain terus dipindahkan.
Gantar dan dua warga akhirnya membuka pintu belakang yang macet dengan tiang sebagai pengungkit.
Air akhirnya punya jalan keluar.
Menjelang fajar, dua ratus delapan puluh enam karung berhasil diselamatkan.
Tujuh belas karung rusak. Sebagian beras masih dapat dikeringkan.
Tidak ada warga yang tewas.
Ketika hujan mereda, Arya berdiri di depan lumbung yang dindingnya berlubang.
Kepala desa terlihat putus asa.
“Kami baru menyelesaikannya dua bulan lalu.”
“Kita bangun kembali.”
“Di tempat yang sama?”