Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #30

Bab 29 Harga Sebuah Kebangkitan

Darma Seta tidak meminta kamar terbaik di istana.

Ia juga tidak datang menggunakan tandu berlapis emas atau mengenakan perhiasan sebesar telur burung, seperti beberapa saudagar kaya yang pernah berusaha mengesankan dewan Watu Ireng.

Ia hanya meminta sebuah gudang kecil untuk menyimpan dokumen, tempat aman bagi orang-orangnya, dan izin memeriksa pasar sebelum perundingan dimulai.

Permintaan terakhir membuat Arya waspada.

“Memeriksa apa?” tanyanya.

Darma Seta berdiri di halaman istana sambil memperhatikan para pengawal menurunkan peti dari keretanya.

“Harga beras, besi, garam, kain, kayu, dan biaya pengangkutan.”

“Untuk apa?”

“Agar tawaran saya tidak dibuat berdasarkan cerita.”

Saudagar itu berusia sekitar lima puluh tahun. Rambut di dekat pelipisnya mulai memutih, tetapi wajahnya tidak menunjukkan kelelahan setelah perjalanan panjang. Ia berbicara tenang, tanpa nada merendahkan atau keinginan berlebihan untuk terdengar penting.

Pakaiannya sederhana. Kain gelap.

Sabuk kulit. Sepatu yang cocok untuk berjalan di pasar berlumpur.

Semua orang bersenjata yang mengawal keretanya bergerak seperti pasukan terlatih.

“Banyak saudagar mengirim bawahan untuk memeriksa harga,” kata Arya.

“Bawahan biasanya melihat apa yang diperintahkan.”

“Dan Tuan?”

“Saya melihat apa yang membuat saya rugi.”

Gantar yang berdiri di belakang Arya berbisik, “Aku mulai menyukainya.”

Arya tidak menoleh.

“Karena dia berbicara tentang rugi?”

“Karena dia terus terang soal uang.”

Darma Seta mendengar. Ia tersenyum kecil.

“Uang bukan lebih penting daripada cerita, Tuan Gantar. Cuma lebih gampang dihitung.”

Gantar tampak terkesan karena namanya diketahui.

“Bagaimana Tuan mengenalku?”

“Orang yang pernah menjatuhkan sekeranjang jeruk, kehilangan kuda utusan, lalu masuk gudang rahasia lewat jendela biasanya gampang diingat.”

Gantar melirik Arya.

“Kabar tentangku menyebar.”

“Kebanyakan bukan kabar baik.”

“Yang penting menyebar.”

Darma Seta meminta izin membawa dua pencatatnya ke pasar utama. Arya mengirim seorang petugas kerajaan untuk menemani.

Saudagar itu tidak keberatan.

Justru ia meminta agar petugas tersebut mengoreksi bila ada angka yang salah.

Sikapnya terlalu terbuka. Arya malah semakin berhati-hati.

Menjelang siang, Darma Seta kembali membawa enam lembar catatan.

Ia mengetahui harga beras di tiga pasar. Biaya satu kereta menempuh jalan barat.

Jumlah pungutan dari pelabuhan hingga gerbang utara. Upah buruh angkut.

Harga kayu meningkat setelah pembangunan menara. Bahkan perkiraan kehilangan barang akibat roda rusak.

Pejabat pasar yang mendampinginya tampak kelelahan.

“Dia bertanya kepada semua orang,” katanya kepada Arya. “Pedagang, kusir, buruh, penjaga gudang. Bahkan orang yang memperbaiki sandal.”

Darma Seta duduk di ruang perundingan bersama Jayengrana, Arya, Mahesa, pejabat pangan, dan beberapa anggota dewan.

Di atas meja diletakkan satu peti kecil.

Ketika dibuka, di dalamnya terdapat contoh besi, garam, kain, dan tiga kantong beras dari wilayah berbeda.

“Ini bukan hadiah,” kata Darma Seta.

Wiraguna yang hadir dalam pertemuan mengangkat alis.

“Biasanya orang yang ingin mendapatkan perjanjian datang membawa hadiah.”

“Hadiah membuat penerima merasa berutang sebelum perjanjian dibaca.”

Darma menutup peti.

“Saya lebih suka utang ditulis jelas.”

Ada sedikit kehangatan di wajah Jayengrana.

“Langsung saja pada tawaranmu.”

Darma Seta membuka gulungan pertama.

“Saya dapat menyediakan lima ratus batang besi dalam tiga bulan.”

Mahesa bergerak sedikit.

Persediaan sebesar itu cukup untuk memperbaiki senjata, roda kereta, engsel gerbang, dan alat pertanian.

“Harga?” tanya Arya.

“Tiga perlima dari harga pasar Kendalisada.”

Pejabat pangan mengangkat wajah.

“Terlalu rendah.”

“Saya membeli langsung dari beberapa pengolah, bukan melalui pedagang perantara.”

“Pengangkutan?”

“Ditanggung jaringan saya.”

Darma membuka gulungan kedua.

“Garam untuk satu tahun dengan harga tetap meskipun musim hujan memutus jalur selatan.”

Gulungan ketiga.

“Dua kapal sungai untuk mengangkut barang Watu Ireng menuju pelabuhan besar. Pembayaran dapat dilakukan setelah enam musim panen.”

Gulungan keempat.

“Pinjaman untuk menyelesaikan lumbung, menara, jembatan, serta tanggul.”

Jayengrana bersandar.

“Bunganya?”

“Tahun pertama tanpa bunga.”

Ruangan menjadi sunyi.

Darma melanjutkan, “Tahun kedua dan ketiga, bunganya satu dari setiap dua puluh. Pembayaran dapat berupa koin, beras, garam, atau bagian pungutan perdagangan.”

Wiraguna langsung berkata, “Tawaran seperti ini susah dicari.”

“Kebanyakan saudagar meminjamkan uang kepada kerajaan yang sedang jatuh,” jawab Darma.

“Apa bedanya?”

“Kerajaan yang jatuh biasanya meminjam supaya bisa bertahan. Yang sedang tumbuh meminjam supaya bisa bergerak lebih cepat.”

Darma menoleh kepada Arya.

“Saya malas menghabiskan waktu menagih orang yang sudah tidak punya apa-apa.”

Arya membaca lembar pertama. Harga besi benar-benar rendah. Biaya pengangkutan ditanggung Darma Seta.

Pembayaran pertama baru dimulai setelah panen berikutnya.

Tidak ada hak menempatkan pasukan. Tidak ada permintaan jalur khusus.

Tidak ada syarat untuk mengambil alih pungutan sejak awal.

“Jaminannya?” tanya Arya.

Darma menyerahkan lembar lain.

“Jika Watu Ireng gagal membayar selama dua musim berturut-turut, jaringan saya memperoleh hak mengelola tiga gudang dagang sampai utang tertutup.”

“Gudang mana?”

“Dipilih bersama.”

“Hak mengelola berarti?”

“Menarik biaya penyimpanan, menunjuk kepala gudang, dan mengatur penjualan barang milik saya. Barang milik kerajaan tetap milik kerajaan.”

“Kapal?”

“Milik jaringan saya sampai lunas.”

“Besi yang sudah dipakai?”

“Tidak mungkin saya mengambil kembali engsel dari gerbang.”

Beberapa anggota dewan tertawa. Arya tetap serius.

“Kalau Watu Ireng membayar dengan beras, harganya memakai harga kapan?”

“Saat diserahkan.”

“Ditentukan siapa?”

“Tiga penilai. Satu dari Watu Ireng, satu dari jaringan saya, dan satu pedagang luar yang disepakati bersama.”

Arya berpindah ke gulungan berikutnya. Hampir semua pertanyaannya sudah dijawab di lembar itu. Kemungkinan sengketa pun ada.

Darma Seta tidak terlihat seperti orang yang berusaha menyembunyikan jebakan di bawah tulisan kecil. Ia justru membuat setiap aturan cukup jelas untuk dipahami.

“Apa yang Tuan dapat?” tanya Arya.

Darma Seta tersenyum.

“Keuntungan.”

Lihat selengkapnya