Utusan Baka tiba dua hari setelah penjualan besi disepakati.
Ia tidak membawa pasukan besar.
Hanya enam pengawal, dua pencatat, dan satu kereta tertutup yang dikawal seolah memuat harta kerajaan.
Di depan rombongan berkibar panji bergambar batang padi emas di atas tanah hitam.
Arya menerima mereka di halaman istana bersama Mahesa.
Pemimpin utusan turun dari kudanya dan membungkuk.
“Saya Wreda Mandala, wakil lumbung utama Kerajaan Baka.”
“Selamat datang di Watu Ireng,” jawab Arya.
Gantar berdiri di belakang Mahesa sambil memperhatikan kereta tertutup.
“Apa isinya?” tanyanya.
Mahesa menoleh. Gantar menambahkan, “Aku bertanya untuk keamanan.”
Wreda Mandala tersenyum.
“Contoh beras.”
Gantar terlihat kecewa.
“Enam pengawal untuk beras?”
“Beras yang buruk bisa menjatuhkan kerajaan lebih cepat daripada pedang.”
Arya mengamati lelaki itu. Ucapannya tidak terdengar seperti ungkapan saudagar.
Ucapan itu terdengar seperti cara orang Baka berbicara.
Kereta dibawa menuju gudang pemeriksaan. Segelnya dibuka di hadapan pejabat pangan Watu Ireng.
Di dalamnya terdapat dua belas karung kecil.
Setiap karung diberi nama wilayah, waktu panen, kadar air, dan perkiraan masa simpan.
Ada beras putih. Beras merah. Beras yang lebih keras untuk perjalanan panjang.
Benih padi untuk tanah kering. Sampel tanaman yang tahan banjir. Gantar memegang satu karung.
“Boleh dimasak?”
Pejabat pangan mengambilnya kembali.
“Ini untuk diperiksa.”
“Aku bisa memeriksa setelah dimasak.”
“Kau memeriksa rasa. Kami memeriksa kualitas.”
“Rasa juga kualitas.”
Arya meninggalkan mereka berdebat dan membawa Wreda Mandala menemui Jayengrana.
Ruang kerja raja kini lebih ramai daripada biasanya. Laporan perdagangan memenuhi satu sisi meja. Salinan tawaran Darma Seta masih berada di peti terpisah.
Tombak bambu tetap terpasang di dinding. Wreda Mandala menyerahkan gulungan bersegel kepada Jayengrana.
“Undangan dari Prabu Baka.”
Jayengrana memeriksa segelnya sebelum membuka. Tulisan di dalam bukan sekadar undangan jamuan.
Prabu Baka memanggil para pemimpin beberapa kerajaan untuk membahas pangan, keamanan jalur, perpindahan perdagangan, serta pergerakan pasukan Ranu Kerta.
Pertemuan akan diselenggarakan di ibu kota Baka tiga pekan lagi.
Setiap kerajaan diminta membawa catatan tentang:
Jumlah cadangan pangan. Kemampuan pengangkutan.
Jalur aman. Ancaman perbatasan.
Kemungkinan bantuan saat gagal panen atau perang.
“Kenapa sekarang?” tanya Mahesa.
Wreda Mandala menjawab, “Hujan di selatan terlambat. Dua wilayah mengalami gagal tanam. Di utara, pasukan berpindah lebih sering daripada biasanya.”
“Ranu Kerta?”
“Bukan cuma mereka.”
“Siapa lagi?”
“Prabu Baka akan menjelaskan dalam pertemuan.”
Arya membaca daftar kerajaan yang diundang. Pengging.
Ranu Kerta. Kendalisada.
Kerta Jaya. Beberapa kerajaan kecil.
Watu Ireng.
“Rudragni juga diundang?” tanyanya.
“Ya.”
“Setelah menyerang kami?”
“Pertemuan seperti ini memang bukan soal suka atau tidak suka.”
Mahesa mendengus.
“Kalau orang saling menyukai, biasanya tidak perlu pasukan di pintu.”
Wreda Mandala tidak membantah. Jayengrana membaca bagian terakhir.
“Setiap kerajaan dapat membawa dua perwakilan utama dan paling banyak dua puluh pengawal.”
“Benar, Paduka.”
“Kenapa perwakilannya dibatasi?”
“Agar pertemuan tidak berubah menjadi adu jumlah pasukan.”
“Dan siapa menjamin keamanan?”
“Pasukan Baka. Semua senjata perang disimpan di luar balairung. Pengawal pribadi hanya membawa pedang pendek.”
Mahesa bertanya, “Kalau Rudragni datang dengan lebih dari dua puluh orang?”
“Gerbang Baka tidak akan dibuka untuk sisanya.”
Wreda Mandala menjawabnya tanpa banyak berubah ekspresi.
Jayengrana mengangguk.
“Watu Ireng menerima undangan.”
Arya berpaling. Keputusan itu cepat.
“Paduka sendiri yang datang?”
“Ya.”
Mahesa langsung berkata, “Berbahaya.”
“Karena Rudragni?”
“Karena semua orang yang melihat kebangkitan Watu Ireng akan berada di satu tempat.”
“Itu juga alasan aku harus datang.”
Mahesa masih tidak puas.
“Bawa pasukan penuh sampai perbatasan.”
“Hanya dua puluh orang boleh masuk.”
“Pasukan menunggu di luar wilayah Baka.”
“Itu dapat dianggap ancaman.”
“Lebih baik mereka menganggap kita kasar daripada Paduka kenapa-kenapa di sana.”
Jayengrana menatapnya.
“Mahesa.”
“Aku tidak akan mengubah jawaban.”
Arya sudah sering mendengar perdebatan seperti itu. Mahesa berbicara kepada Jayengrana dengan penghormatan seorang panglima, sekaligus kekhawatiran seseorang yang sudah terlalu lama menjaga sahabatnya.
Jayengrana akhirnya berkata, “Seratus orang sampai pos perbatasan. Dua puluh melanjutkan.”
Mahesa mengangguk, meskipun wajahnya menunjukkan ia lebih memilih seribu.
Wreda Mandala membuka gulungan kedua.
“Baka juga meminta laporan pangan awal dikirim satu pekan sebelum pertemuan.”
Pejabat pangan Watu Ireng yang baru masuk menerima daftar format laporan.
Daftarnya panjang dan sangat rinci.
Jumlah penduduk setiap wilayah, kebutuhan harian, cadangan benih, dan kapasitas lumbung.
Kerusakan karena banjir. Kemampuan mengirim pangan tanpa membuat desa pengirim kekurangan.
Arya membaca beberapa bagian.
“Siapa yang membuat susunan ini?”
Wreda Mandala menjawab, “Bagian Lumbung Istana.”
“Dipimpin siapa?”