Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #32

Bab 31 Kerajaan Lumbung

Kerajaan Baka membangun temboknya untuk melindungi beras.

Itulah kesimpulan pertama Arya setelah melewati gerbang ibu kota.

Istana memang berdiri di tanah yang paling tinggi. Atapnya besar, gerbangnya dijaga pasukan, dan panji kerajaan berkibar dari menara batu.

Bangunan yang paling banyak justru bukan balairung, rumah bangsawan, atau barak.

Lumbung.

Lumbung-lumbung besar berdiri hampir di setiap bagian kota.

Sebagian dibangun dari kayu keras dengan kaki-kaki batu agar lantainya tidak menyentuh tanah. Sebagian lain memiliki dinding tebal dan lubang udara kecil yang dipasang berhadapan agar angin dapat bergerak tanpa membawa hujan.

Di antara lumbung terdapat halaman pengeringan, sumur, timbangan, dan jalur kereta yang dibuat cukup lebar untuk dua rombongan berpapasan.

Tidak ada karung yang diletakkan sembarangan. Tidak ada kereta yang menunggu tanpa urutan.

Setiap muatan masuk melalui satu sisi, ditimbang, dicatat, lalu keluar melalui jalur berbeda.

Gantar melihat antrean kereta yang bergerak perlahan.

“Pasarnya seperti barak.”

“Lebih teratur daripada beberapa barak kita,” jawab Arya.

Mahesa yang berkuda di depan mereka menoleh.

“Barak mana?”

“Tidak ada.”

“Jawaban cepat biasanya berarti ada.”

Gantar langsung menunjuk sebuah bangunan.

“Lihat, ada lumbung lagi.”

Mahesa menoleh sekilas sebelum kembali menghadap jalan.

Rombongan Watu Ireng dibawa ke rumah tamu kerajaan yang berada tidak jauh dari kompleks istana. Halamannya cukup luas untuk dua puluh pengawal, tetapi dikelilingi pagar rendah, bukan tembok tinggi.

Baka tampaknya ingin tamu merasa dihormati tanpa membiarkan mereka lupa sedang diawasi.

Pengawal kerajaan berjaga di setiap persimpangan.

Mereka tidak mengenakan zirah perang lengkap. Hanya pelindung dada ringan, tombak pendek, dan kain penanda satuan.

Arya memperhatikan usia mereka. Ada yang masih cukup muda. Ada juga yang sudah berambut putih.

“Pasukan cadangan,” katanya.

Wreda Mandala yang mengantar mereka mengangguk.

“Setiap wilayah mengirim orang sesuai jumlah penduduk dan hasil pangan.”

“Bukan hanya keluarga bangsawan?”

“Tidak.”

Mahesa terlihat tertarik.

“Latihannya?”

“Dua kali dalam satu musim untuk satuan desa. Lebih sering bagi penjaga lumbung dan jalur.”

Arya melirik Mahesa. Panglima itu pura-pura tidak menyadarinya.

Sistem itu mirip dengan perubahan yang baru dimulai di Watu Ireng. Bedanya, di Baka semua orang sudah terbiasa menjalaninya.

“Apa semua pasukan cadangan berada di bawah istana?” tanya Arya.

“Dalam perang besar, ya. Pada hari biasa, kepala wilayah mengatur mereka.”

“Bagaimana mencegah kepala wilayah memakai pasukan untuk kepentingan sendiri?”

“Persediaan senjata tetap dicatat kerajaan. Pemindahan lebih dari dua puluh orang harus diberitahukan ke lumbung wilayah.”

“Kenapa ke lumbung?”

Wreda Mandala menatapnya sebentar.

“Pasukan juga harus makan kalau mau bergerak.”

Arya menyukai jawabannya. Ia sulit membantah.

Mereka tiba di rumah tamu menjelang sore. Jayengrana memilih beristirahat sebentar sebelum menghadap Prabu Baka pada malam hari.

Arya seharusnya melakukan hal yang sama.

Lingkaran tinta merah pada laporan Watu Ireng terus muncul di kepalanya.

Ia membuka peti dokumen. Salinan laporan distribusi pangan masih tersusun rapi.

Jumlah penduduk benar. Kebutuhan harian benar.

Cadangan musim hujan benar.

Jumlah kereta dan waktu perjalanan juga sudah diperiksa berkali-kali.

Gantar berbaring di bangku sambil memakan buah dari Darma Seta yang masih tersisa.

“Kau akan membuat lubang di laporan kalau terus menatapnya.”

“Ada yang salah.”

“Putri itu bilang begitu.”

“Aku tahu apa yang dia bilang.”

“Berarti kau tidak perlu mencari. Tinggal bertanya.”

“Aku mau tahu dia benar-benar menemukan salahku atau tidak.”

“Biar kau kelihatan pintar?”

Gantar menggigit buah.

“Kalau dia sudah nemu, mungkin memang ada yang salah.”

“Bisa juga dia salah membaca.”

“Dia tinggal di kerajaan yang memiliki lebih banyak lumbung daripada rumah.”

“Itu tidak membuat semua orang di sini tidak pernah salah.”

“Benar. Mungkin dia hanya ingin membuatmu kesal.”

Arya berhenti membuka lembar.

“Kenapa?”

Gantar mengangkat bahu.

“Kalau biasa saja, besok juga orang lupa.”

Arya menutup kembali laporan.

“Pergilah memeriksa penjagaan.”

“Aku pembawa pesan.”

“Sekarang kau juga memeriksa penjagaan.”

“Pangkatku terus bertambah tanpa kenaikan upah.”

“Pergi.”

Gantar keluar sambil membawa dua buah sekaligus. Arya kembali menghitung.

Watu Ireng memiliki cadangan cukup untuk penduduknya selama satu musim gagal panen ringan. Jika Baka meminta bantuan, Watu Ireng dapat mengirim sejumlah tertentu tanpa mengurangi bibit dan cadangan darurat.

Ia membagi persediaan menurut jumlah keluarga. Mengurangi kebutuhan pasukan. Menambahkan kerusakan rata-rata selama perjalanan. Semua terlihat benar.

Satu-satunya bagian yang dilingkari Roro adalah jadwal pengiriman dari lumbung timur menuju wilayah perbatasan Baka.

Tiga rombongan. Masing-masing dua puluh kereta.

Ketiga rombongan itu diberangkatkan dengan jarak dua hari agar jalan tidak terlalu padat.

Apa yang salah?

Pintu diketuk. Seorang pelayan Baka masuk membawa pesan.

“Prabu Baka menerima Raja Jayengrana saat matahari terbenam. Tuan Arya diminta hadir.”

“Putri Roro Jonggrang?”

“Putri berada di lumbung utama.”

“Masih memeriksa laporan?”

Pelayan itu ragu, lalu mengangguk. Arya berdiri.

“Aku ingin melihat lumbung sebelum pertemuan.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Pelayan tidak berani menolak, tetapi juga tidak terlihat siap mengantar seorang wakil kerajaan tanpa pemberitahuan. Ia meminta Arya menunggu.

Arya baru mencapai halaman ketika Gantar kembali.

“Kau mau ke mana?”

“Lumbung utama.”

“Aku ikut.”

“Kau sudah memeriksa penjagaan?”

“Ya.”

“Berapa orang di pintu selatan?”

Gantar berhenti.

“Cukup.”

“Berapa?”

“Lebih dari satu.”

Arya mengangkat alis. Gantar pun menghela napas.

“Aku baru sampai gerbang depan ketika melihatmu keluar.”

“Berarti belum memeriksa.”

Lihat selengkapnya