Jamuan Prabu Baka dimulai dengan tujuh jenis hidangan.
Arya hanya mengenali lima.
Gantar mengenali semuanya, termasuk dua hidangan yang belum sempat diletakkan di meja mereka.
“Yang itu apa?” bisiknya sambil menunjuk mangkuk di meja utusan Kendalisada.
“Jangan menunjuk makanan orang.”
“Aku cuma takut salah makan.”
“Bagaimana kau bisa salah makan sesuatu yang bukan milikmu?”
Gantar menurunkan tangan.
“Kata penasihat adat, kita harus mempelajari kebiasaan kerajaan lain.”
“Tidak dengan mengambil lauk mereka.”
Jayengrana duduk di tempat kehormatan tamu, berhadapan dengan Prabu Baka.
Prabu Baka memiliki tubuh besar dan suara dalam yang tetap terdengar jelas meskipun ia tidak meninggikannya. Usianya tidak jauh dari Jayengrana, tetapi geraknya masih kuat.
Di belakang kursinya tidak tergantung pedang pusaka. Hanya peta sawah dan daftar lumbung.
Beberapa kerajaan sudah hadir. Kerta Jaya mengirim dua pejabat perdagangan.
Kendalisada mengirim utusan militer serta petugas besi.
Ranu Kerta belum datang. Pengging juga belum terlihat.
Prabu Baka menyambut Jayengrana tanpa berlebihan.
Ia menanyakan kesehatan, perjalanan, dan keadaan Celah Utara. Setelah itu, pembicaraan beralih kepada pangan bahkan sebelum hidangan pertama habis.
“Laporan Watu Ireng menarik,” katanya.
Arya meletakkan mangkuk.
“Versi awal atau yang sudah diperbaiki?”
Prabu Baka tertawa.
“Roro sudah menemui Anda.”
“Di lumbung.”
“Dia lebih mudah ditemukan di sana daripada di istana.”
Jayengrana menerima salinan laporan baru dari Arya. Prabu Baka membacanya.
“Kapal sungai, kereta, dan bantuan pemulihan.”
“Beras saja tidak cukup,” kata Arya.
“Putriku mengatakan hal sama sejak dua tahun lalu.”
Arya melirik pintu. Roro belum masuk.
Prabu Baka menambahkan, “Sebagian dewan menganggapnya terlalu banyak mencampuri urusan perang.”
“Karena membicarakan beras?”
“Dia bilang jumlah pasukan harus mengikuti jumlah karung, bukan kebanggaan panglima.”
Mahesa yang duduk di sisi lain meja berkata, “Dia tidak salah.”
Gantar berbisik, “Panglima baru saja menyukai seseorang.”
Mahesa menoleh.
Gantar langsung mengisi mulutnya dengan nasi.
Pintu balairung terbuka.
Roro masuk bersama tiga pencatat.
Pakaiannya sudah diganti, tetapi tetap sederhana. Kain berwarna merah tua menandai kedudukannya sebagai putri Baka. Tidak ada hiasan berat yang akan mengganggu gerak.
Ia membawa gulungan laporan di kedua tangan. Para utusan berdiri.
Arya ikut berdiri sedikit terlambat karena memperhatikan papan hitung yang dibawanya.
Roro membungkuk kepada ayahnya, lalu kepada para pemimpin.
Tempat duduknya berada di sisi kanan Prabu Baka. Bukan di antara perempuan keluarga istana.
Ia duduk di antara pejabat pangan dan pemimpin pasukan cadangan.
Seorang utusan Kerta Jaya terlihat tidak menyukai susunan tersebut.
“Apakah Putri akan mengikuti seluruh pembicaraan perang?” tanyanya.
Prabu Baka menjawab, “Kalau perang bisa jalan tanpa makanan, dia boleh pergi.”
Tidak ada yang membantah.
Setelah jamuan selesai, piring disingkirkan. Peta besar dibuka di tengah meja.
Roro memulai laporan.
“Hujan terlambat di tiga wilayah selatan. Tanaman pertama gagal tumbuh.”
Ia menunjuk bagian peta.
“Kalau hujan turun dalam dua pekan, penanaman ulang masih mungkin. Kalau lebih lambat, dua wilayah membutuhkan bantuan sampai musim berikutnya.”
“Berapa banyak?” tanya pejabat Kerta Jaya.
“Sembilan ratus karung. Itu baru untuk bertahan.”
“Dan agar mereka tetap bekerja?” tanya Arya.
Roro menoleh kepadanya.
“Seribu tiga ratus, ditambah benih, obat, pakan kuda, dan alat.”
Prabu Baka memperhatikan cara keduanya saling menanggapi.
“Kalian sudah membahas perbedaannya?”
“Cukup panjang,” jawab Roro.
Gantar berkata pelan, “Aku hampir tertidur dua kali.”
Mahesa menyentuh bagian belakang kepalanya agar diam.
Roro menjelaskan pembagian persediaan. Baka memiliki cadangan besar.
Bukan berarti seluruhnya dapat dibagikan. Sebagian adalah benih.
Sebagian disimpan menghadapi serangan.
Sebagian harus tetap berada di kota agar pekerja lumbung, pasukan, dan jalur pengiriman berjalan.
Utusan Kerta Jaya berkata, “Lumbung kalian terlihat penuh. Mengapa hanya mengirim sebagian?”
“Karena lumbung penuh tidak berarti semuanya boleh dimakan,” jawab Roro.
“Beras tetap beras.”
“Benih yang dimakan hari ini menjadi kelaparan tahun depan.”
“Rakyat yang lapar tidak memikirkan tahun depan.”
“Pemimpin tetap harus memikirkannya.”
Roro memindahkan beberapa keping kayu di atas peta.
“Baka dapat mengirim empat ratus karung. Watu Ireng menawarkan dua ratus setelah perbaikan hitungan. Kerta Jaya?”
Pejabat itu menjawab, “Kami tidak mengalami surplus.”
“Laporan pelabuhan menunjukkan tiga gudang pribadi penuh.”
“Itu milik pedagang, bukan kerajaan.”
“Kerajaan dapat membeli.”
“Harganya tinggi.”
“Lebih murah daripada menerima pengungsi dan kehilangan jalur perdagangan.”
Pejabat itu tidak menjawab.
Roro beralih kepada utusan Kendalisada.
Kerajaan pegunungan itu tidak memiliki banyak beras, tetapi dapat mengirim kacang kering, garam, alat pertanian, serta besi untuk memperbaiki saluran.
Semua bantuan dihitung sebagai bagian dari pemulihan.
Bantuan itu bukan hadiah tanpa catatan.
Bantuan itu juga bukan utang yang dapat ditagih sesuka hati.