Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #34

Bab 33 Darah dan Kelayakan

Roro tidak menjawab.

Di bawah menara, pintu lumbung ditutup satu per satu. Para pekerja yang selesai bertugas menyerahkan papan catatan sebelum meninggalkan halaman. Obor mulai dinyalakan di sepanjang jalan batu.

Arya tetap menunggu.

Roro menuruni dua anak tangga, lalu berhenti.

“Saya tidak pernah mengatakan darah saja cukup.”

“Tapi Anda mengatakan garis kerajaan membuat kewenangan diterima.”

“Memang begitu.”

“Diterima belum tentu berarti layak.”

“Orang yang layak juga belum tentu diterima.”

Arya menahan kata-katanya.

Roro melanjutkan, “Anda mampu memimpin pasukan, memperbaiki jalan, membaca kebutuhan desa, dan mengakui ketika hitungan Anda salah.”

“Itu pujian?”

“Memang.”

Gantar yang berdiri beberapa langkah di belakang langsung menoleh kepada Arya, seolah baru mendengar sesuatu yang langka.

Roro tidak memedulikannya.

“Tapi kemampuan bukan satu-satunya persoalan seorang penguasa.”

“Apa lagi?”

“Kepercayaan wilayah. Pengakuan keluarga. Hubungan dengan kerajaan lain. Kepastian bahwa ketika sebuah perintah diberikan, orang tidak perlu bertanya apakah yang memberi perintah memang berhak.”

“Jadi orang yang mampu tetap belum layak kalau orang-orang berkuasa menolaknya?”

“Saya bilang kemampuan saja belum cukup.”

Arya memandang sawah yang membentang di luar dinding Baka.

“Rakyat yang menggarap tanah tidak pernah diminta mengakui seorang anak sebelum dia menjadi raja.”

“Mereka mengakui kerajaan.”

“Mereka dipaksa mengakuinya.”

“Tidak selalu.”

“Kalau menolak pajak?”

“Mereka melanggar hukum.”

“Kalau hukum dibuat oleh orang yang tidak layak?”

Roro menoleh.

“Anda terus membawa pembicaraan kepada pemimpin buruk.”

“Karena pemimpin buruk ada.”

“Begitu juga pemimpin tanpa garis jelas yang memecah kerajaan karena semua orang merasa lebih berhak.”

Arya mengangguk pelan. Ia tidak dapat menyangkalnya.

Di Watu Ireng saja, statusnya sebagai anak angkat Jayengrana sudah membuat beberapa keluarga bangsawan khawatir. Ia belum menjadi pewaris, tetapi dugaan mengenai takhta sudah memecah pendapat dewan.

“Kalau suatu hari orang menganggap aku paling mampu, tapi bangsawan tetap menolak karena darahku, bagaimana?”

Roro tidak menjawab cepat.

“Apakah rakyat menginginkan Anda?”

“Aku belum tahu.”

“Apakah pasukan mengakui Anda?”

“Sebagian.”

“Apakah keluarga-keluarga wilayah menerima?”

“Sebagian tidak.”

“Apakah kerajaan lain akan mengakui perjanjian yang Anda tanda tangani?”

Arya menimbang jawabannya.

“Itu belum diuji.”

“Karena itu kelayakan Anda belum selesai.”

“Aku tidak sedang meminta takhta.”

“Semua yang Anda lakukan tetap membuat orang lain memikirkan kemungkinan itu.”

Arya mengusap kain hitam Watu Ireng di bahunya.

Ia tidak pernah meminta para prajurit datang membelanya di luar sidang.

Tidak pernah meminta Jayengrana memasang tombak bambunya di ruang raja.

Tidak meminta para bangsawan takut pada masa depan yang bahkan belum ia putuskan.

Tapi Roro benar dalam satu hal.

Tindakan Arya sudah punya dampak politik yang lebih besar daripada niatnya sendiri.

“Kalau seseorang tidak menginginkan takhta, apakah itu membuatnya lebih layak?”

“Belum tentu.”

“Berarti keinginan juga tidak penting?”

“Penting. Tapi tidak cukup.”

“Kemampuan tidak cukup. Keinginan tidak cukup. Dukungan rakyat belum cukup. Apa yang cukup?”

“Tidak ada satu hal.”

Roro berjalan kembali ke halaman lumbung. Arya mengikutinya.

“Seorang penguasa memikul banyak beban,” katanya. “Kemampuan, hukum, pengakuan, hubungan darah, kepercayaan pasukan, dan kesediaan wilayah mengikuti keputusan.”

“Darah tetap ada dalam daftar.”

“Kerajaan tidak dibangun dalam satu generasi.”

Lihat selengkapnya