Gerbang timur Baka dibuka penuh.
Gerbang itu dibuka penuh bukan karena rombongan Pengging terlalu besar.
Gerbang itu dibuka sebagai penghormatan.
Dua barisan penjaga Baka berdiri di sepanjang jalan. Para petugas lumbung menghentikan kereta. Pedagang dan warga diminta bergerak ke sisi bangunan agar jalur utama kosong.
Genderang Pengging berhenti tepat sebelum pasukan memasuki gerbang.
Setelah itu, mereka bergerak tanpa musik.
Bunyi yang tersisa hanya langkah ratusan kaki yang jatuh dalam irama sama.
Arya pernah melihat infanteri Ranu Kerta bergerak teratur.
Pasukan Pengging berbeda.
Mereka tidak mengenakan zirah paling berat. Tidak membawa perisai paling besar. Jarak antarbarisan tetap sama meskipun jalan menyempit dan berbelok.
Prajurit pertama tidak perlu menoleh untuk tahu posisi barisan di belakangnya.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang menoleh kepada warga.
Tidak ada kuda yang keluar dari barisan.
“Berapa orang?” tanya Arya.
Salah satu pengawal Baka menjawab, “Dua puluh masuk kota. Sisanya berhenti di luar gerbang.”
Arya memperhatikan barisan yang tampak jauh lebih panjang.
“Yang lain?”
“Hanya pengawal perjalanan sampai perbatasan. Mereka akan mendirikan perkemahan di luar tembok.”
Bandung mematuhi batas dua puluh pengawal.
Ia mematuhi aturan, sementara pasukan yang menunggu di luar tembok tetap menjadi pengingat.
Gantar berbisik, “Aku mengerti kenapa penasihat adat menyuruhku memperbaiki pakaian.”
Arya melirik bajunya.
“Kerahmu terbalik.”
Gantar buru-buru meraba leher. Arya meluruskan sendiri kain itu sebelum rombongan mendekat.
Bandung Bondowoso berkuda di bagian depan.
Usianya sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi, tetapi tidak sebesar Mahesa. Zirahnya hitam tanpa banyak hiasan. Hanya garis emas tipis pada pelindung bahu dan lambang Pengging di dada.
Pedang panjang tergantung di sisi kanan pelana. Ia tidak memakai mahkota.
Ikat kepala hitam dengan keping emas di tengah sudah cukup menunjukkan kedudukannya.
Wajahnya tenang.
Ketenangan Jayengrana lahir dari kebiasaan mendengar banyak orang.
Bandung terlihat tenang, seperti orang yang tidak perlu terburu-buru menghadapi siapa pun.
Ia tidak pernah menoleh ke belakang.
Roro berdiri di dekat gerbang dalam bersama pejabat penyambutan. Prabu Baka belum turun dari istana, tetapi mengirim putri pewaris sebagai wakil awal.
Bandung menghentikan kudanya tepat pada tanda batu. Seluruh barisan berhenti bersamaan. Ia turun.
Salah seorang pengawal hendak mengambil kendali kuda, tetapi Bandung menyerahkannya tanpa melihat. Pengawal itu sudah berada di posisi yang tepat.
Bandung membungkuk kepada Roro. Tidak terlalu rendah. Tidak pula sekadar gerakan sopan yang kosong.
“Putri Roro Jonggrang.”
“Pangeran Bandung Bondowoso.”
“Baka masih lebih teratur daripada terakhir kali saya datang.”
“Pengging membawa lebih banyak pasukan daripada yang diperlukan untuk pertemuan pangan.”
Bandung memandang gerbang.
“Hanya dua puluh yang masuk.”
“Ratusan lainnya tetap terlihat dari menara.”
“Bagus. Berarti mereka tahu tugasnya.”
Roro hampir tersenyum.
“Ayah saya menunggu di istana.”
Bandung melirik jalan yang dipenuhi lumbung.
“Saya ingin melihat wilayah penyimpanan lebih dahulu.”
“Setelah perjalanan panjang?”
“Pasukan yang lapar mudah membuat kesalahan. Kerajaan juga.”
Roro mengangguk.
Roro tahu apa yang menarik perhatian Bandung.
Bandung kemudian menoleh kepada Jayengrana, yang baru tiba dari rumah tamu bersama Mahesa.
Ia membungkuk lebih dalam.
“Raja Jayengrana.”
“Putra Mahkota Pengging.”
“Saya mendengar Watu Ireng menghentikan pasukan Rudragni di Celah Utara.”
“Pasukanku yang melakukannya.”
“Di bawah pimpinan siapa?”
Jayengrana menoleh kepada Arya. Bandung mengikuti arah pandangnya.
Pandangan mereka bertemu. Bandung segera memperhatikan kain hitam Watu Ireng, pedang, pelindung tangan, dan bekas luka.
Tidak ada lambang keluarga bangsawan pada pakaian Arya.
“Ini Arya Wisesa,” kata Jayengrana. “Anakku dan perwakilan utama Watu Ireng.”
Bandung tidak langsung membungkuk.
“Arya Wisesa.”
“Aku pernah mendengar nama Anda,” jawab Arya.
“Dari perang?”
“Dari orang yang menyebut dua desa menolak pajak sebagai pemberontakan.”
Gantar menutup mata.
Penasihat adat yang berdiri tidak jauh dari mereka tampak hendak pingsan.
Bandung tidak marah. Ia justru bertanya, “Pedagang?”
“Beberapa.”
“Pedagang menyebut semua pajak terlalu tinggi dan semua pasukan terlalu kasar.”
“Mereka salah?”
“Kadang.”
Bandung memperhatikan Arya lebih lama.
“Dua wilayah menolak mengirim pangan saat perbatasan Pengging diserang. Pemimpinnya membunuh petugas kerajaan dan mengangkat pasukan sendiri.”
“Berapa banyak warga yang benar-benar ikut?”
“Cukup untuk membuat perintah tidak dapat dijalankan.”
“Dan setelah Anda menang?”
“Pemimpinnya dihukum. Pajak dikurangi satu musim. Kepala wilayah diganti.”