Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #36

Bab 35 Duel yang Belum Selesai

Bandung menyerang lebih dahulu.

Pedang kayunya meluncur lurus ke arah bahu Arya tanpa gerakan pembuka yang berlebihan. Cepat, berat, dan diarahkan ke tempat yang akan memaksa lawan kehilangan keseimbangan jika menahan dengan posisi salah.

Arya menggeser kaki kanan.

Ujung pedang Bandung lewat kurang dari sejengkal di depan dadanya.

Arya membalas ke sisi pinggang.

Bandung memutar pergelangan, menahan serangan, lalu mendorong senjata Arya ke bawah sampai telapak tangan Arya bergetar.

Bandung maju. Arya mundur satu langkah.

Bandung mengayunkan pedang dari kanan. Arya menahan.

Benturannya terdengar sampai ke tepi arena. Pasir bergeser di bawah telapak kaki mereka.

Bandung tidak memberi waktu untuk memperbaiki pijakan. Ia menyerang lagi dari sisi berlawanan, kemudian menusuk lurus ke dada.

Arya menepis, memutar tubuh, lalu menghantamkan bahu ke tubuh Bandung.

Bandung bergeser setengah langkah. Hanya setengah. Arya mencoba menyapu kakinya.

Bandung mengangkat lutut, menghindari sapuan, lalu menurunkan gagang pedang ke arah punggung Arya.

Arya berguling. Gagang itu menghantam pasir.

Desah tertahan terdengar dari tepi arena.

Gantar mencondongkan tubuh kepada Mahesa.

“Apakah mereka masih memeriksa keamanan?”

Mahesa tidak mengalihkan pandangan.

“Diam.”

Bandung berbalik ketika Arya bangkit. Wajahnya tetap tenang, perhatiannya tertuju pada Arya.

Seolah semua orang di luar arena sudah tidak ada.

Arya mengangkat pedang.

“Kau benar-benar tidak menahan diri.”

“Anda sendiri yang bilang jangan menahan diri.”

“Aku hanya mengingatkan.”

Bandung kembali menyerang. Kali ini Arya tidak mundur.

Ia maju ke dalam jarak pedang panjang Bandung, menahan pergelangan lawan dengan lengan kiri, lalu mengarahkan ujung senjata kayunya ke rusuk.

Bandung memutar tubuh. Ujung pedang Arya hanya menyentuh kain luar.

Siku Bandung langsung menghantam bahu Arya.

Arya terlepas. Bandung menendang lututnya.

Arya menahan dengan tulang kering, tetapi nyeri menjalar sampai paha.

Mereka berpisah.

Roro berdiri di tepi arena bersama Prabu Baka. Jayengrana baru tiba setelah mendengar tantangan. Perhatiannya mengikuti setiap perubahan posisi.

Bandung bertarung seperti pasukannya bergerak. Tegas.

Teratur. Tidak membuang tenaga.

Serangannya membuat lawan selalu punya dua pilihan, dan keduanya sudah ia perhitungkan.

Arya berbeda.

Ia mengubah jarak, kecepatan, dan pijakan lebih sering. Kadang terlihat mundur, tetapi sebenarnya sedang mencari tanah yang lebih menguntungkan.

Bandung membangun tekanan. Arya mencari celah.

Pedang mereka kembali bertemu. Satu kali.

Dua kali. Tiga kali.

Bandung memaksa Arya ke dekat garis arena. Arya menahan pukulan dari atas. Kedua pedang terkunci.

Bandung menekan. Lengan Arya mulai turun.

“Kekuatan saja tidak cukup,” kata Arya.

Bandung menambah tekanan.

“Biasanya orang yang kalah mengatakan itu.”

Arya tiba-tiba melepaskan tahanan.

Pedang Bandung turun lebih cepat daripada yang diperkirakan. Arya menyamping, memegang pergelangan lawan, lalu menggunakan arah dorongan Bandung sendiri untuk menariknya melewati garis.

Bandung menancapkan satu kaki ke pasir dan berhenti sebelum keluar arena.

Arya menyerang punggungnya.

Bandung membungkuk, membiarkan pedang kayu lewat di atas kepala, kemudian menghantamkan bagian belakang gagangnya ke perut Arya.

Udara keluar dari paru-paru Arya. Bandung berbalik dan menyapu pedang rendah.

Arya meloncat, tetapi tidak cukup tinggi. Ujung kayu mengenai pergelangan kakinya.

Arya jatuh pada satu lutut. Bandung mengangkat pedang.

Mahesa menggeser tubuhnya, siap masuk jika pukulan berikutnya melampaui batas latihan.

Arya menancapkan pedangnya ke pasir.

Ketika Bandung menebas, Arya menggunakan gagang yang tertanam sebagai penahan, memutar tubuh, lalu menendang pasir ke arah kaki lawan. Bukan ke mata.

Bandung melangkah menghindar agar pijakannya tidak tergelincir. Itu memberi Arya cukup waktu untuk bangkit.

Bandung memperhatikan bekas pasir di ujung sepatu.

“Cara bertarung dari desa?”

“Cara bertarung orang yang tidak ingin kalah.”

“Tidak semua cara pantas.”

“Pasir bukan racun.”

“Di arena seperti ini, cara menang juga dinilai.”

Arya mengangkat pedang.

“Di medan perang, aku tidak peduli gerakanku terlihat bagus atau tidak.”

Bandung menyunggingkan senyum kecil.

“Bagus.”

Ia maju lebih cepat. Kali ini serangannya tidak lagi terasa seperti ujian.

Pedang kayu menghantam dari berbagai arah. Arya menahan dua kali, menghindari satu serangan, lalu menerima pukulan pada lengan atas.

Rasa kebas menjalar sampai jari. Bandung melihat kelemahannya. Ia menyerang sisi yang sama. Arya membiarkan pedangnya hampir lepas.

Ketika Bandung bergerak untuk mengakhiri, Arya menangkap gagang menggunakan tangan kiri, memutar arah senjata, dan menusuk ke dada.

Bandung menepis terlambat. Ujung pedang Arya menyentuh pelindung dadanya.

Nyaris bersamaan, pedang Bandung berhenti di sisi leher Arya.

Mereka membeku. Pedang Arya menekan dada Bandung.

Pedang Bandung menyentuh leher Arya.

Tidak ada yang dapat bergerak tanpa membuka kesempatan bagi yang lain.

Arena menjadi senyap. Gantar berbisik, “Jadi siapa yang mati?”

Mahesa menjawab tanpa menoleh, “Keduanya, kalau senjatanya asli.”

Lihat selengkapnya