Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #37

Bab 36 Jamuan Para Mahkota

Balairung utama Baka memiliki meja berbentuk lingkaran.

Tidak ada kursi yang ditempatkan tepat di ujung karena memang tidak ada ujung.

Semua orang tetap tahu tempat mana yang paling penting.

Kursi Prabu Baka ditempatkan sedikit lebih tinggi.

Di sebelah kanannya duduk Roro Jonggrang.

Kursi Bandung berada tidak jauh dari pusat, setara dengan Jayengrana dan dua raja lain yang sudah tiba sebelum fajar.

Arya duduk di belakang kanan Jayengrana sebagai perwakilan utama kedua Watu Ireng.

Gantar seharusnya berada bersama para pembawa pesan di luar balairung.

Entah bagaimana, ia masuk membawa kendi minuman dan berdiri di antara pelayan Baka.

Mahesa melihatnya.

Gantar menggeleng cepat dan menunjuk kendi, seolah itu menjelaskan semuanya.

Mahesa menutup mata sesaat. Jamuan dimulai sebelum perundingan.

Prabu Baka sengaja menyediakan makanan dari berbagai kerajaan. Garam Kendalisada.

Buah kering Pengging. Ikan sungai Watu Ireng.

Rempah dari jalur Kerta Jaya. Beras tentu berasal dari Baka.

“Supaya semua orang ingat tidak ada kerajaan yang menghasilkan seluruh kebutuhannya sendiri,” kata Prabu Baka.

Raja kecil dari wilayah selatan mengangkat mangkuk.

“Baka menghasilkan pangan cukup untuk membeli yang tidak dimilikinya.”

“Selama jalan tetap terbuka,” jawab Roro.

“Dan selama kerajaan lain tidak menutup pelabuhan,” kata wakil Kerta Jaya.

Bandung menurunkan sendoknya.

“Kerajaan yang menutup jalan pangan saat damai harus diperlakukan sebagai penyerang.”

Beberapa pemimpin melihat kepadanya.

Prabu Baka bertanya, “Dengan perang?”

“Kita tuntut dulu.”

“Kalau ditolak?”

“Baru perang.”

Jawabannya sederhana. Tidak ada keraguan.

Raja wilayah selatan berkata, “Tidak semua penutupan jalan dilakukan untuk menyerang. Kadang karena wabah atau gagal panen.”

“Kalau alasannya memang begitu, kita bisa periksa.”

“Diperiksa oleh siapa?”

“Kerajaan yang terdampak.”

“Berarti Pengging berhak masuk wilayah kami untuk memeriksa?”

“Kalau tindakan kalian mengancam pangan Pengging, ya.”

Suasana meja berubah. Belum menjadi pertengkaran terbuka. Beberapa orang mulai memilih kata dengan lebih hati-hati.

Arya memperhatikan Roro. Ia juga merasakan perubahan itu. Bandung belum mengancam siapa pun secara langsung.

Ia hanya menyusun aturan yang membuat Pengging seolah berhak menentukan kapan wilayah kerajaan lain boleh diperiksa.

Prabu Baka berkata, “Pertemuan ini dibuat agar pemeriksaan dilakukan bersama, bukan oleh satu kerajaan.”

“Kalau semua pihak bergerak cukup cepat, aku setuju.”

“Dan jika menurutmu terlalu lambat?”

Bandung menatap peta di tengah meja.

“Pengging tidak akan membiarkan rakyatnya lapar sambil menunggu kerajaan lain selesai berdebat.”

Pernyataan tersebut sulit ditolak.

Tidak ada pemimpin yang ingin mengakui dirinya rela membiarkan rakyat lapar.

Menerima kalimat Bandung berarti mengakui ia boleh bertindak sendiri saat menganggap keadaan mendesak.

Arya berkata, “Siapa yang menentukan batas mendesak?”

“Orang yang bertanggung jawab melindungi rakyatnya.”

“Setiap raja dapat memakai alasan yang sama untuk masuk wilayah tetangga.”

“Kalau alasannya palsu, dia juga harus menanggung akibatnya.”

“Akibat dari siapa?”

“Dari Pengging, bila wilayah kami dirugikan.”

Bandung tidak meninggikan suara. Justru itu yang membuat jawabannya terasa lebih berat.

Ia berbicara seolah Pengging bukan salah satu kerajaan di antara banyak kerajaan.

Seolah-olah Pengging yang akan menentukan siapa benar dan siapa salah.

Jayengrana mengambil air.

“Rudragni memakai alasan perlindungan untuk meminta hak lintas Watu Ireng.”

Bandung menoleh.

“Dan kau menolak.”

“Ya.”

“Pilihan benar.”

Arya sedikit terkejut.

Bandung melanjutkan, “Karena pasukannya tidak dibutuhkan di wilayahmu.”

“Menurut siapa?” tanya Arya.

“Menurut siapa yang menang.”

“Kalau kami kalah, apakah tuntutannya menjadi benar?”

“Tidak. Kelemahan kalian akan membuat penolakan tidak berguna.”

“Jadi hak tetap ditentukan kekuatan.”

“Tanpa kekuatan, hak itu mudah dianggap sekadar permintaan.”

Prabu Baka mengetuk meja menggunakan ujung jarinya.

“Kita tidak berkumpul untuk memutuskan kerajaan mana yang paling mampu memaksakan kehendak.”

“Tidak,” jawab Bandung. “Kita berkumpul karena ancaman tidak berhenti hanya karena kita menyebutnya kerja sama.”

Roro membuka laporan.

“Ancaman pertama yang sedang dibahas adalah gagal panen selatan.”

Ia mengalihkan pembicaraan kembali kepada pangan. Jumlah bantuan dibacakan. Jalur pengiriman ditentukan. Pembagian pengawal dibahas.

Bandung mendominasi hampir setiap bagian yang berhubungan dengan keamanan.

Ia menawarkan dua ratus pengawal dari Pengging untuk jalur paling berbahaya.

Jumlah itu lebih banyak daripada gabungan pasukan yang ditawarkan beberapa kerajaan kecil.

“Siapa yang memimpin?” tanya Mahesa.

“Panglima Pengging.”

“Apakah pasukan wilayah lain berada di bawah perintahnya?”

“Di jalur yang dijaga Pengging, ya.”

Utusan Kendalisada berkata, “Kami tidak menempatkan prajurit di bawah komando asing.”

Bandung menatapnya.

“Kalau begitu, jaga jalur kalian sendiri.”

“Kami bisa.”

“Berapa orang?”

“Delapan puluh.”

“Laporan Baka menyebut jalur itu membutuhkan sedikitnya seratus dua puluh.”

Utusan itu terdiam.

Bandung sudah membaca laporan sebelum jamuan. Ia mengetahui angka setiap pihak.

Ketika seseorang menolak, ia tidak langsung mengancam. Ia menunjukkan bahwa kemampuan mereka tidak cukup.

Pilihan yang tersisa kemudian selalu mengarah kepada bantuan Pengging.

Arya mulai memahami cara Bandung memperoleh pengaruh. Bukan dengan memaksa semua orang bersumpah setia.

Lihat selengkapnya