Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #38

Bab 37 Anak di Pasar Baka

Anak itu tidak bergerak.

Ia duduk di tengah jalan pasar dengan satu lutut menempel tanah. Tangan kecilnya masih memunguti butiran beras yang jatuh dari karung bocor.

Di sekelilingnya, para pedagang sudah menepi.

Keranjang ditarik.

Gerobak didorong ke sisi jalan.

Orang-orang menunduk ketika rombongan Pengging mendekat.

Anak itu baru menyadari bahaya setelah salah seorang pengawal Bandung berteriak.

“Minggir!”

Ia mengangkat kepala. Tubuhnya membeku.

Butiran beras jatuh dari telapak tangannya.

Bandung berjalan paling depan. Roro berada beberapa langkah di belakang bersama Arya, Gantar, dan petugas pasar Baka.

Pengawal Pengging kembali berseru.

“Keluar dari jalan!”

Anak itu mencoba bangkit.

Kakinya tersangkut kain yang terlalu panjang. Ia jatuh lagi, tepat ketika Bandung sudah berada di depannya.

Arya mempercepat langkah. Bandung bergerak lebih dahulu.

Ia mengangkat kaki dan menendang bahu anak itu agar keluar dari jalur.

Tendangan itu tidak membuat anak itu kehilangan kesadaran. Tendangan itu cukup keras hingga tubuh kurus itu berguling ke sisi jalan dan membentur keranjang kosong.

Pasar menjadi sunyi. Anak itu tidak langsung menangis.

Ia menatap Bandung dengan mata lebar, seolah tubuhnya belum sempat memahami rasa sakit.

Bandung terus berjalan dua langkah sebelum berhenti. Arya sudah melewatinya.

Ia berjongkok di samping anak itu.

“Bisa mendengarku?”

Anak itu mengangguk.

“Ada yang sakit?”

Anak itu memegang bahunya.

Arya memeriksa lengan dan tulang selangka. Tidak tampak patah, tetapi kulitnya mulai memerah.

“Namamu?”

“Banu.”

“Orang tuamu?”

Banu menatap pasar. Tidak menunjuk siapa pun.

Seorang penjual sayur berkata pelan, “Ibunya meninggal musim lalu. Ayahnya tidak diketahui.”

Bandung menoleh kepada pengawalnya.

“Bawa anak itu keluar dari jalur.”

Arya mengangkat wajah.

“Dia sudah di luar jalur.”

“Rombongan tidak boleh berhenti terlalu lama.”

“Pasar ini milik Baka, bukan jalan pasukan Pengging.”

Prabu Baka tidak berada bersama mereka. Roro tetap punya wewenang di sana sebagai putri kerajaan dan pengelola wilayah pasar.

Roro belum berbicara.

Tatapannya tertuju kepada Banu yang berusaha mengambil kembali butiran beras dari tanah.

Bandung berkata, “Jalan harus tetap terbuka.”

“Bisa dibuka tanpa menendang anak,” jawab Arya.

“Dia sudah diperintah menyingkir.”

“Dia ketakutan.”

“Ketakutan bukan alasan menghalangi seluruh rombongan.”

Arya membantu Banu duduk.

“Rombonganmu bisa berhenti beberapa detik.”

“Pasukan yang berhenti karena satu orang di jalan akan berhenti lagi untuk orang berikutnya.”

“Ini pasar. Bukan gerak maju medan perang.”

Bandung memandang deretan orang yang menunduk di kedua sisi jalan.

“Pasar tetap harus punya aturan.”

Roro akhirnya berkata, “Ketertiban pasar Baka tidak mengizinkan pengawal atau tamu memukul warga tanpa alasan.”

Bandung menoleh kepadanya.

“Dia tidak dipukul.”

“Ditendang.”

“Untuk dipindahkan dari jalur.”

“Banu anak kecil.”

“Dia tidak terluka berat.”

Arya berdiri.

Bandung mengatakannya tanpa marah. Justru itu yang membuat Arya semakin tidak nyaman.

“Apa menurutmu orang yang lebih besar boleh diperlakukan lebih keras?” tanya Arya.

“Kalau sudah dengar perintah, ya harus menyingkir.”

“Dia tidak mengabaikan. Dia tidak sempat bergerak.”

“Peringatan diberikan dua kali.”

“Orang takut tidak selalu langsung bisa bergerak.”

Sorot Bandung mengeras.

“Kau terus memakai ketakutan itu sebagai alasan.”

“Bukan pembelaan. Penjelasan.”

“Kalau begitu, setiap orang bisa punya alasan.”

Arya menatapnya.

“Kalau aturan cuma dipakai begitu saja, orang kecil yang kena.”

Beberapa pedagang mengangkat wajah. Tidak ada yang berani ikut berbicara.

Roro memperhatikan reaksi mereka.

Ketika Bandung masuk pasar, semua orang menepi karena takut menahan jalannya.

Ketika Arya berlutut menolong Banu, orang-orang mulai berani melihat kembali.

Di jalan yang sama, Roro melihat dua macam ketertiban. Yang satu membuat orang menyingkir. Yang satu membuat orang berani mendekat.

Seorang perempuan penjual nasi datang membawa kain basah. Arya menerimanya dan menempelkan pada bahu Banu.

“Kau tinggal di mana?”

“Belakang gudang tua.”

“Sendiri?”

Anak itu mengangguk. Gantar berjongkok di sisi lain.

“Kau mengumpulkan beras untuk makan?”

Lihat selengkapnya