Prajurit yang meninggalkan barisan bernama Wira Danajaya.
Ia dibawa ke perkemahan Pengging dengan kedua tangan terikat, tetapi tidak diseret.
Ia berjalan sendiri.
Usianya sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tegap, rambutnya dipotong pendek seperti prajurit lain, dan seragamnya masih terawat meskipun bagian lutut tertutup lumpur.
Ketika melewati pintu perkemahan, beberapa rekannya menunduk.
Tidak ada yang memanggil namanya.
Tidak ada yang berani mendekat. Bandung duduk di bawah tenda komando.
Di depannya telah berkumpul para perwira Pengging, perwakilan Baka, Jayengrana, Mahesa, Arya, dan Roro.
Prabu Baka tidak hadir.
Ia memberi Bandung hak mengadili prajuritnya sendiri, selama hukuman dilaksanakan di luar kota dan tidak membahayakan warga Baka.
Roro datang karena prajurit itu meninggalkan barisan di wilayah kerajaan ayahnya.
Arya datang karena Jayengrana meminta.
Gantar ikut karena mengaku membawa catatan. Yang ia pegang ternyata hanya papan kosong.
Wira Danajaya berlutut di tengah lingkaran. Bandung memandang perwira regu.
“Bacakan pelanggarannya.”
Perwira tersebut membuka gulungan.
“Prajurit Wira Danajaya meninggalkan pos sisi timur pada malam kedua belas. Ia pergi tanpa izin, tanpa pengganti, dan tanpa memberi tahu kepala regu.”
“Berapa lama?”
“Dua jam kurang sedikit.”
“Apakah wilayah yang dijaga terbuka?”
“Ya.”
“Apakah ada musuh masuk?”
“Tidak.”
Bandung mengalihkan perhatian kepada Wira.
“Kenapa pergi?”
Wira mengangkat wajah.
“Saya menerima kabar anak saya demam tinggi.”
“Siapa yang membawa kabar?”
“Adik istri saya.”
“Kenapa tidak meminta izin?”
“Perwira jaga sedang memeriksa sisi utara. Saya mencari kepala regu, tetapi tidak menemukan.”
“Lalu kau pergi.”
“Ya.”
“Kenapa tidak menunggu?”
Wira menelan ludah.
“Anak pertama saya meninggal dua tahun lalu karena demam yang sama.”
Suara angin menggerakkan sisi tenda. Tidak ada orang lain yang berbicara.
Wira melanjutkan, “Tabib desa mengatakan anak saya yang sekarang sulit bernapas. Saya takut terlambat.”
Bandung bersandar sedikit.
“Apakah dia hidup?”
“Ya.”
“Berarti kau kembali setelah tahu dia selamat.”
“Saya kembali sebelum matahari naik.”
“Karena tugasmu?”
“Karena saya tahu saya salah meninggalkan pos.”
Bandung mengangguk.
“Apakah kau memahami hukum Pengging?”
Wira menutup mata sesaat.
“Ya.”
“Hukuman bagi prajurit yang meninggalkan barisan?”
“Kematian.”
Gantar menurunkan papan kosongnya.
Roro berkata, “Dia kembali dengan sukarela.”
Bandung tidak menoleh kepadanya.
“Aku sedang memeriksa prajuritku.”
“Pelanggaran terjadi di wilayah Baka.”
“Apakah Baka hendak mengubah hukum Pengging?”
“Baka ingin mengetahui apakah keadaan diperhitungkan.”
Bandung memandang Wira.
“Apakah posnya kosong?”
“Ya.”
“Apakah ia meninggalkan tanpa izin?”
“Ya.”
“Apakah alasan pribadi mengubah dua hal itu?”
“Tidak menghapus kesalahan. Cuma... mungkin hukuman bisa dipertimbangkan.”
Bandung kembali memandang Roro.
“Kalau satu orang boleh pergi karena anaknya sakit, yang lain bisa bilang istrinya melahirkan, orang tuanya meninggal. Nanti saat serangan datang, siapa yang masih di pos?”
Arya berkata, “Yang dijaga juga manusia.”
Bandung menoleh kepadanya.
“Justru karena itu ada aturan.”
“Saya tahu. Tapi aturan juga dibuat untuk menjaga mereka.”
“Prajurit yang meninggalkan pos membahayakan semua orang di belakang.”
“Benar.”
“Jadi menurutmu, hukuman yang sesuai adalah kematian?”
“Saya tidak bilang begitu.”
Bandung memberi isyarat kepada perwira untuk menunjukkan peta.
Pos Wira berada di sisi timur perkemahan, dekat jalur kecil menuju desa. Bila mata-mata masuk dari sana, ia dapat mencapai gudang kuda dan tempat penyimpanan senjata tanpa melewati penjaga utama.
“Dua jam,” kata Bandung. “Dalam dua jam, seorang pengintai dapat memetakan seluruh perkemahan. Seorang pembunuh dapat mendekati tenda pemimpin. Api dapat membakar persediaan.”
Arya melihat peta. Risikonya nyata.
Wira tidak meninggalkan tempat yang tidak penting.
“Apakah ada penjaga pada jalur kedua?” tanyanya.
Perwira menjawab, “Ada, tetapi pos Wira adalah peringatan pertama.”
“Apakah ia satu-satunya orang di pos?”
“Seharusnya berdua. Rekannya dipanggil mengantar laporan.”
Arya menatap perwira.
“Kenapa pos dibiarkan dijaga satu orang saat penggantinya dipanggil?”
Perwira tersebut ragu.
“Itu keputusan sementara.”
“Kalau begitu, perintahnya juga bermasalah.”
Bandung berkata, “Kesalahan perwira akan diperiksa terpisah.”
“Wira menanggung seluruh hukuman hari ini.”
“Karena dia memilih pergi.”
Arya tidak menyangkal itu. Wira telah membuat keputusan berbahaya. Arya juga melihat celah lain.
“Apakah dia prajurit buruk?”
Bandung bertanya kepada kepala regu. Lelaki itu menjawab, “Tidak.”
“Catatannya?”
“Dua belas tahun bertugas. Tidak pernah mendapat hukuman berat. Terluka di Pertempuran Sungai Gada.”
“Pernah melarikan diri?”
“Tidak.”
“Pernah meninggalkan rekan?”
“Tidak.”
Arya memandang Bandung.
“Dua belas tahun dia bertugas baik.”
“Dan satu malam meninggalkan pos.”
“Apa dua belas tahun itu tidak dihitung?”
“Bernilai. Itu sebabnya perbuatannya lebih buruk. Dia memahami akibatnya.”
Wira menunduk. Bandung berdiri.
Para perwira Pengging langsung memperbaiki sikap.
“Hukum tidak menguji siapa kita saat keadaan mudah,” katanya. “Hukum terlihat saat kita punya alasan untuk melanggarnya.”