Roro Jonggrang tiba di Watu Ireng ketika langit masih cerah.
Dua belas pengawal Baka mengiringinya. Laksmi Purnama, pembantu utamanya dalam pengelolaan lumbung, berkuda di samping kereta laporan. Mereka membawa papan hitung, catatan jalur pangan, contoh benih, dan alat pengukur kelembapan gabah.
Roro mengira Arya akan menyambutnya di gerbang bersama barisan pasukan.
Yang menunggu justru Gantar.
Ia berdiri di bawah panji Watu Ireng dengan pakaian resmi yang tampaknya masih kaku.
Salah satu tali ikat pinggangnya menggantung terlalu panjang.
“Selamat datang di Watu Ireng, Putri Roro Jonggrang,” katanya sambil membungkuk.
Gerakannya cukup benar. Roro lalu mengamati sekeliling.
“Di mana Raja Jayengrana?”
“Menunggu di istana.”
“Arya?”
“Di sungai.”
Roro turun dari kuda.
“Kenapa?”
“Tebing dekat bendungan turun sedikit setelah hujan semalam.”
“Sedikit menurut siapa?”
“Kata pekerja yang takut dimarahi Arya.”
Laksmi menahan senyum. Roro memandang tembok Watu Ireng.
Bentengnya lebih kecil daripada Baka. Tidak ada lumbung raksasa yang mendominasi kota. Bangunan istana pun tidak jauh lebih tinggi daripada rumah para pejabat.
Gerbangnya terawat. Jalan batu memiliki saluran pada kedua sisi.
Penjaga mencatat kereta tanpa menahan pedagang terlalu lama. Di atas bukit, menara peringatan berdiri dan saling terlihat.
Watu Ireng tidak semegah Baka. Di sini, yang penting tampaknya bukan kemegahan, melainkan apa yang bisa terus dipakai.
“Apakah kami langsung ke istana?” tanya Laksmi.
Gantar mengangguk.
“Seharusnya.”
“Seharusnya?”
“Arya meninggalkan pesan agar Putri beristirahat lebih dahulu.”
Roro mengambil kembali kendali kudanya.
“Bendungan yang akan diperiksa berada di mana?”
Gantar menunjuk jalan utara.
“Sekitar satu jam.”
“Kita ke sana.”
“Putri baru datang.”
“Karena itu saya ingin menyelesaikan pekerjaan sebelum malam.”
Gantar melihat awan tipis di kejauhan.
“Arya pasti senang.”
“Kenapa?”
“Dia juga punya kebiasaan membuat orang bekerja sebelum sempat makan.”
Rombongan tidak memasuki pusat kota.
Roro mengirim sebagian pengawalnya ke istana bersama kereta barang. Ia hanya membawa Laksmi, empat pengawal, Gantar, dan dua petugas Watu Ireng menuju bendungan.
Jalan mengikuti aliran sungai.
Di beberapa tempat, Roro melihat batu penanda ketinggian air. Angka dan garis dipahat sederhana agar dapat dibaca warga yang tidak terbiasa membuka laporan.
Laksmi menunjuk saluran kecil yang bercabang menuju sawah.
“Lebarnya tidak sama.”
Gantar menjawab, “Tanahnya beda-beda.”
“Siapa yang menentukan?”
“Petani sama tukang air. Arya ikut sampai mereka sepakat.”
“Bukan pejabat air?”
“Pejabatnya ikut berdebat.”
Roro melihat petak sawah pada sisi barat. Sebagian baru ditanami. Sebagian lagi sudah hijau.
Pembagian air tampak dilakukan menurut waktu tanam, bukan kedekatan dengan rumah bangsawan.
“Kalau pemilik tanah besar meminta lebih banyak?” tanyanya.
“Dia diminta menunjukkan kebutuhan.”
“Kalau tetap memaksa?”
“Biasanya Arya datang.”
“Lalu?”
Gantar mengangkat bahu.
“Kalau Arya sudah mulai bertanya, biasanya mereka ikut catatan.”
Roro dapat membayangkannya.
Arya memang jarang berteriak. Ia biasanya terus bertanya sampai orang itu kehabisan alasan.
Mereka menemukan Arya di tepi bendungan. Ia tidak memakai jubah perwira.
Bajunya digulung sampai siku. Celananya penuh lumpur hingga lutut. Bersama beberapa pekerja, ia sedang mengangkat batu dari jalur air kecil pada sisi tanggul.
Sena Wiratma berdiri di atas bendungan sambil mencatat retakan.
Kapten Jaya Reksa memimpin prajurit membawa keranjang tanah.
Tidak ada yang menghentikan pekerjaan ketika rombongan Roro mendekat.
Arya baru melihatnya setelah Gantar berseru.
“Putri Baka datang untuk memastikan kita bekerja!”
Arya menoleh.
Ia mengusap lumpur dari tangan ke bajunya, lalu menyadari tindakan itu hanya membuat pakaian semakin kotor.
“Anda seharusnya ke istana,” katanya.
“Anda juga.”
“Aku tidak baru menempuh perjalanan tiga hari.”
“Bendungan tetap rusak kalau kita menunggu.”
Roro memandangnya.
“Bukan itu.”
Arya mengikuti arah pandangannya ke para pekerja.
“Tebing kecil runtuh semalam. Aliran pembuangan tertutup.”
“Laporan awal menyebut kerusakannya ringan. Retakan kedua baru ditemukan setelah kami datang.”
“Itu laporan sebelum retakan kedua ketemu.”
Roro mengambil papan yang dibawa Laksmi.
“Di mana?”
Arya mengajaknya naik ke tanggul.
Bendungan itu tidak sebesar bangunan air Baka, tetapi letaknya penting. Sungai dibagi menjadi tiga jalur.
Satu menuju sawah timur, satu ke desa rendah, dan satu lagi untuk membuang air saat permukaan terlalu tinggi.
Retakan terlihat pada dinding tanah yang diperkuat batu.
Panjangnya hampir tiga depa. Air merembes di beberapa bagian. Laksmi berjongkok dan menyentuh tanah.
“Bagian dalamnya terlalu basah.”
Sena mengangguk.
“Kami menduga akar pohon tua membusuk di bawah penguat.”
Roro melihat peta aliran.
“Kalau tanggul ini lepas, air ke mana?”
Arya menunjuk lembah rendah.
“Pertama ke sawah baru. Setelah itu ke Desa Wuni.”
“Jumlah keluarga?”
“Tujuh puluh dua.”
“Lumbung?”
“Satu lumbung desa dan dua gudang benih.”
“Sudah dipindahkan?”
“Belum.”
Roro menatapnya. Arya tahu apa yang dipikirkannya.
“Kalau semua persediaan dipindahkan setiap ada retakan, warga akan menghabiskan musim hanya mengangkat karung.”
“Kalau tanggul pecah, mereka kehilangan semuanya.”
“Makanya Sena masih memeriksa. Perlu dipindah atau tidak.”