Sena dan Gantar kembali sebelum matahari terbit.
Dua kuda yang mereka tunggangi basah oleh keringat. Debu menempel pada pakaian mereka, sementara sebuah karung bawang tergantung di sisi pelana Gantar.
Mahesa sudah menunggu di halaman istana ketika keduanya melewati gerbang.
Arya datang beberapa saat kemudian, masih mengenakan pakaian latihan dan pelindung tangan yang belum sempat dilepas.
Ia melihat karung di pelana Gantar.
“Kenapa membawa bawang?”
“Penyamaran.”
“Kalian menyamar sebagai pedagang bawang?”
“Berhasil.”
Sena turun dari kudanya dan menyerahkan kendali kepada penjaga.
“Tidak sepenuhnya. Ada pedagang bertanya harga satu karung. Gantar menjawab lebih mahal daripada satu bawang.”
“Itu benar,” bela Gantar. “Satu karung memang lebih mahal.”
“Dia hampir membuat kami diperiksa.”
“Tapi tidak jadi.”
“Karena aku membayar bawangnya.”
Gantar menepuk karung di pelana.
“Jadi sekarang ini milik kita.”
Mahesa menghela napas.
“Masuklah sebelum aku menyuruhmu mengupas semuanya.”
Mereka berkumpul di ruang peta.
Jayengrana belum dipanggil. Arya ingin mendengar laporan lebih dahulu sebelum menyampaikan kecurigaannya kepada sang raja.
Sena membuka peta Balai Sela Gading di atas meja.
“Persiapannya sudah hampir selesai.”
“Berapa pekerja?” tanya Arya.
“Sekitar enam puluh orang.”
“Asalnya?”
“Sebagian dari Mandaraka. Sisanya mengaku buruh jalan dan pekerja gudang dari wilayah lain.”
“Mengaku?”
“Beberapa tidak mengenal nama kepala desa terdekat. Logat mereka juga berbeda-beda.”
“Dari mana?”
“Logat beberapa orang terdengar seperti dari utara. Mungkin Ranu Kerta. Beberapa memakai cara bicara orang jalur Pengging.”
Mahesa menunjuk halaman dalam.
“Penjaga gabungan?”
“Dua puluh orang sudah tiba. Empat lainnya belum.”
“Lambang kerajaan?”
“Mereka tidak memakainya saat bekerja.”
“Senjata?”
“Berbeda-beda. Ada tombak Ranu Kerta, pedang pendek Mandaraka, dan perisai kecil yang biasa digunakan pengawal dagang.”
Mahesa mengangguk.
“Supaya kelihatan benar-benar gabungan.”
“Ya,” jawab Sena. “Tapi pola pergantian penjagaan mereka sama.”
Arya diam sebentar.
“Perintah dari orang yang sama?”
“Kemungkinan.”
“Siapa?”
“Kami tidak berhasil melihat kepala keamanan. Para penjaga memanggil pemimpin mereka dengan nomor.”
Gantar duduk tanpa diminta.
“Kadang mereka pakai suara burung.”
Mahesa menoleh.
“Suara apa?”
Gantar mengeluarkan bunyi pendek yang terdengar seperti ayam tercekik.
Sena memejamkan mata.
“Itu bukan bunyinya.”
“Aku mendengarnya begitu.”
“Kau membalas suara mereka dan hampir ditangkap.”
“Aku cuma mau tahu mereka pakai itu buat apa.”
“Sekarang sudah tahu, kan.”
“Berarti memang bukan buat pedagang bawang.”
Arya menahan pembicaraan sebelum berubah menjadi perdebatan mengenai burung.
“Bagaimana keadaan balainya?”
Sena menunjuk sisi selatan peta.
“Satu-satunya jalan besar menuju halaman melewati jembatan kayu ini.”
“Lebarnya?”
“Cukup untuk dua kereta kecil. Tidak cukup bagi dua barisan pasukan berpapasan.”
“Kalau ditutup?”
“Kereta tidak bisa keluar.”
“Orang berkuda?”
“Bisa turun ke sungai pada sisi barat kalau air rendah.”
“Sekarang?”
“Air sedang tinggi setelah hujan.”
Mahesa menunjuk sisi utara.
“Bukit kapur?”
“Curam. Orang masih bisa mendaki, tapi tidak dengan cepat. Kuda tidak bisa.”
“Timur?”
“Pagar batu lama dan kebun kering. Setelah itu lereng sempit.”
Arya mempelajari peta. Balai Sela Gading tidak terlihat seperti benteng.
Letaknya memang bukan benteng, tapi kalau pihak lawan menguasai bagian luarnya, orang di dalam akan sulit keluar.
Satu jembatan.
Satu gerbang utama.
Tebing di belakang. Sungai di satu sisi.
Pagar batu pada sisi lain.
“Jalur pelayanan?” tanyanya.
Sena menggeleng.
“Kami mencari sesuai denah. Tidak menemukan pintu yang bisa dipakai sebagai jalan keluar-masuk.”
Gantar mengangkat tangan.
“Ada saluran pembuangan di belakang dapur.”
“Lebarnya tidak cukup untuk bahumu,” kata Sena.
“Aku hampir masuk.”
“Kepalamu hampir tersangkut.”
“Itu karena ikat kepalaku terlalu besar.”
Arya menunjuk denah lama.
“Undangan menyebut jalur pelayanan kecil.”
“Mungkin sudah ditutup ketika balai diperbaiki,” jawab Sena. “Atau pintunya disamarkan. Dari luar, tidak terlihat.”
Arya menyimpan bagian itu dalam ingatan.
Ia tidak suka berada di tempat yang hanya mempunyai jalan keluar yang diketahui tuan rumah.
“Ruang sidang?” tanya Mahesa.
Sena menggambar bentuk persegi pada pusat balai.
“Pintunya satu. Daun pintunya tebal dan membuka ke arah halaman.”