Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #46

Bab 45 Teguran dengan Senyuman

Tangan Jayengrana masih berada di bahu Arya.

Suaranya lembut. Tidak ada kemarahan. Justru ketenangan itu membuat Arya semakin sulit menerima keputusan sang raja.

“Tidak semua tangan,” jawab Arya. “Hanya tangan yang meminta kita meletakkan pedang sebelum masuk ke ruangan yang bisa dikunci dari luar.”

Gantar menundukkan kepala. Bahunya bergerak sedikit, tetapi ia berhasil menahan tawa sebelum Mahesa meliriknya.

Jayengrana menarik tangannya.

“Kecurigaanmu berguna, tapi jangan sampai kecurigaan itu mengambil alih semua keputusanmu.”

Arya menunjuk denah Balai Sela Gading yang masih terbuka di atas meja.

“Pintu sidang dipalang dari halaman. Pengawal dilucuti. Pasukan tambahan harus menunggu setengah hari. Penjaga gabungannya memakai susunan perintah yang sama meskipun mengaku berasal dari kerajaan berbeda.”

“Semua itu benar.”

“Berarti undangannya berbahaya.”

“Berbahaya, iya. Soal jebakan, kita belum tahu.”

“Kalau Paduka sudah di dalam, bedanya tidak banyak berarti.”

Jayengrana menelusuri daftar penandatangan dengan ujung jarinya.

“Prabu Baka, Ratu Kirani, dan Dharmajaya berada di sana. Kehadiran mereka tidak membuatmu lebih tenang?”

“Mereka tidak menjamin semua orang di ruangan itu berniat baik.”

Jarinya berhenti pada satu nama.

“Bandung?”

Arya mengangkat wajah.

“Justru dia salah satu alasan aku tidak ingin Paduka datang.”

Jayengrana nyaris tersenyum.

“Bandung tidak perlu membunuhku melalui jebakan. Kalau ingin, dia dapat membawa pasukan dan mengumumkan perang.”

“Itu membuat kerajaan lain melihatnya sebagai penyerang.”

“Kalau aku dibunuh di dalam sidang, mereka akan menganggap siapa pelakunya?”

“Tergantung siapa yang mereka tuduh.”

Suasana ruang peta berubah. Mahesa melirik Arya, tetapi tidak menegurnya.

Jayengrana membaca kembali nama para penandatangan.

“Kalau benar ada pembunuhan di dalam sidang, siapa yang akan mereka tuduh?” tanya Jayengrana.

Arya belum memiliki jawaban. Darma Seta, Rudragni, atau Bandung sama-sama bisa dijadikan kambing hitam. Ketika Jayengrana menyebut Prabu Baka, Arya langsung menggeleng.

“Bukan dia. Kematian Paduka tidak memberinya keuntungan.”

“Dan bila pembagian Watu Ireng memperluas jalur pangan Baka?”

Arya tidak segera menyahut. Kepentingan bisa membuat orang yang tidak bersalah terlihat seolah punya alasan untuk melakukannya.

Jayengrana tidak sedang menuduh Prabu Baka. Ia hanya menunjukkan betapa mudahnya kepentingan dipakai untuk mengubah dugaan menjadi tuduhan.

“Orang bisa tidak ikut, tapi tetap dapat untung dari hasilnya,” kata Jayengrana. “Yang dapat untung belum tentu ikut.”

“Aku tahu.”

“Tadi kau langsung menilai mereka dari keuntungan yang mungkin mereka dapat.”

“Karena kita belum punya bukti lain.”

“Berarti belum cukup untuk menghukum.”

“Aku tidak minta mereka dihukum. Aku cuma minta kita jangan masuk perangkap.”

Jayengrana mengangguk.

“Itu yang harus kau jaga.”

Arya menyipitkan mata.

“Apa maksud Paduka?”

“Tetap waspada. Jangan buru-buru menuduh. Kita bisa bersiap tanpa memberi mereka alasan untuk menyebut kita penyerang.”

“Itu hampir tidak mungkin kalau kita mengikuti semua aturan mereka.”

“Sulit bukan berarti mustahil.”

Jayengrana menghadap Mahesa.

“Pilih dua belas pengawal, sesuai undangan.”

Rahang Mahesa mengeras.

“Saya lebih tenang dengan dua puluh.”

“Kalau mereka melanggar, biarkan mereka yang kelihatan salah. Kita jangan ikut.”

Mahesa masih tampak tidak puas.

“Siapa yang tinggal menjaga Watu Ireng?”

“Jaya Reksa.”

Arya menoleh.

Kapten Jaya Reksa memang mampu menjaga gerbang dan pasukan cadangan, tapi meninggalkan kerajaan tanpa Mahesa, Jayengrana, serta Arya pada waktu bersamaan tetap berisiko.

“Wiraguna ada di kota,” katanya.

Jayengrana memandangnya.

“Dan?”

“Kalau terjadi sesuatu pada kita, Wiraguna akan bergerak.”

“Urusan kerajaan tetap harus berjalan meski kita tidak ada di sini.”

“Paduka terlalu memercayai aturan.”

“Tidak.”

Jayengrana tersenyum lagi.

“Aku tidak mau seluruh kerajaan panik hanya karena kita bertiga sedang pergi.”

Arya hendak membalas, tetapi Jayengrana menutup pertemuan.

“Sena, istirahat. Kau ikut rombongan.”

Sena membungkuk.

“Gantar juga,” lanjut sang raja.

Gantar terlihat sangat senang. Mahesa langsung berkata, “Kenapa?”

“Aku ahli jalan,” jawab Gantar.

“Kau hampir tersesat saat kembali dari balai.”

“Aku sengaja muter supaya pengintai tidak tahu kami pulang lewat mana.”

“Satu-satunya jalan itu menuju Watu Ireng.”

Gantar berpikir sebentar.

“Mungkin pengintainya tidak tahu.”

Jayengrana menahan senyum.

Lihat selengkapnya