Pantulan logam di punggung bukit tidak terlihat lagi.
Arya tetap mengingat tempatnya.
Sebuah celah di antara dua pohon randu.
Cukup tinggi untuk mengawasi gerbang Watu Ireng.
Terlalu jauh bagi petani yang sekadar memeriksa ladang.
Arya memberi isyarat kecil kepada Sena.
Perwira pengintai itu tidak langsung menoleh. Ia membiarkan kudanya berjalan dengan kecepatan sama, lalu berpindah perlahan ke sisi belakang rombongan.
Gantar memperhatikan.
“Apa?”
“Tidak ada,” jawab Arya.
“Kalau benar-benar tidak ada, kau tidak akan menjawab secepat itu.”
“Jaga kereta.”
“Aku sedang menjaganya.”
Gantar duduk di samping kusir sambil memeluk karung bawang.
“Bawang ini tidak akan lari.”
“Kau yang mungkin.”
“Aku hanya meninggalkan kereta kalau ada alasan penting.”
“Seperti warung?”
“Kalau ada warung, biasanya ada kabar.”
Arya tidak melanjutkan.
Jalan pagi itu melintasi sawah Watu Ireng sebelum naik menuju wilayah berbatu. Para petani yang melihat panji kecil kerajaan berhenti bekerja dan membungkuk.
Jayengrana selalu membalas dengan mengangkat tangan.
Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang berjalan menuju kemungkinan jebakan.
Sesekali ia bahkan bertanya mengenai tanaman, saluran air, atau harga benih kepada warga di pinggir jalan.
Arya mengawasi bukit.
Dua kali ia melihat burung beterbangan dari semak yang tidak dilewati rombongan.
Satu kali ia mendengar batu kecil menggelinding pada lereng utara.
Tidak terlihat seorang pun.
Setelah mereka melewati desa terakhir sebelum batas Watu Ireng, Sena kembali mendekat.
“Satu penunggang,” katanya pelan.
“Yakin?”
“Jejak kuda baru di jalur atas. Tidak membawa beban berat.”
“Berapa jauh?”
“Sekitar satu bukit di belakang kita.”
“Dari mana mulai mengikuti?”
“Mungkin sebelum gerbang.”
Arya melihat Jayengrana yang berkuda beberapa langkah di depan.
“Bisa dikepung?”
“Kalau kita kirim dua orang memotong dari jalur hutan.”
“Lakukan.”
Sena belum bergerak ketika suara Jayengrana terdengar.
“Tidak.”
Arya menoleh.
Sang raja tidak memandang mereka. Ia tetap menghadap jalan.
“Paduka mendengar?”
“Mahesa pernah bilang kalian berdua berbisik seperti orang yang lagi bagi hasil curian.”
Mahesa berkata, “Aku bilang Gantar, Paduka.”
“Iya. Arya juga begitu kalau sedang curiga.”
Arya mendekatkan kudanya.
“Kita diikuti.”
“Aku tahu.”
“Sejak kapan?”
“Sejak burung pada bukit pertama terbang melawan arah angin.”
Arya mengamatinya. Jayengrana membalas dengan wajah geli.
“Aku memang sudah tua. Belum buta.”
“Kalau tahu, kenapa tidak memerintahkan Sena menangkapnya?”
“Karena pengintai itu belum menyerang.”
“Dia menghitung orang dan melihat jalan kita.”
“Kerajaan lain juga biasa mengirim pengintai.”
“Itu tidak membuatnya aman.”
“Tidak. Kalau kita mengejar dan menangkap seseorang yang mengaku pedagang, apa yang akan dilaporkan kepada sidang?”
“Bahwa ia mengikuti rombongan raja.”
“Bisa kau buktikan?”
“Jejaknya.”
“Jejak kuda di jalan umum?”
Arya menangkap arah pembicaraan dan tidak menyukainya.
Jayengrana melanjutkan, “Orang yang sudah cari alasan tidak butuh banyak bukti. Satu mayat di semak saja sudah cukup buat mereka.”
“Kita tidak harus membunuhnya.”
“Kalau dia melawan?”
“Kita tangkap.”
“Kalau dia malah teriak kita menculik utusan kerajaan lain?”
Arya memandang bukit. Setiap pilihan dapat dipelintir.
Arya membenci permainan seperti ini. Orang yang berhati-hati bisa terlihat lemah, sementara orang licik justru leluasa bergerak.
“Jadi kita biarkan?”
“Biar dia lihat apa yang memang kita mau tunjukkan.”
“Apa?”
“Rombongan kecil. Kita datang sesuai aturan, itu saja.”
“Kalau dia malah menganggap itu kelemahan?”
“Biarkan saja kalau dia berpikir begitu.”
Arya mengangkat wajah. Nada Jayengrana berubah. Ini bukan lagi teguran.
Sebelum Arya menanyakannya, Jayengrana mempercepat kuda dan mulai berbicara dengan pejabat perhubungan mengenai surat yang akan dibacakan dalam sidang.
Mahesa mendekati Arya.
“Jangan menatap terlalu jelas.”
“Aku ingin tahu apa yang disembunyikan Paduka.”
“Raja juga tidak bisa cerita semuanya.”
“Ayah tidak biasanya menyembunyikan dariku.”
Mahesa memandang lurus ke depan.
“Belakangan kau ini lebih sering bertindak sebagai perwira.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kau kebanyakan dengar Roro bicara.”
Arya menoleh tajam.
“Apa hubungannya?”
“Sekarang kau mulai bicara seperti dia.”
Mahesa bergerak menjauh sebelum Arya membalas. Gantar menyelipkan kepala dari sisi kereta.
“Apa Putri mengirim surat lagi?”
“Tidak.”
“Mahesa menyebut namanya.”
“Jaga bawang.”
Gantar kembali duduk, tetapi senyum di wajahnya tidak hilang.
Menjelang siang, rombongan berhenti di mata air kecil.