Jayengrana memandangi pintu rendah di balik gudang kayu tanpa menunjukkan keterkejutan.
Gantar sudah membersihkan sebagian sarang laba-laba yang menutupi engsel. Hasilnya tidak banyak membantu. Debu di rambut dan bahunya justru membuatnya terlihat seperti orang yang baru merangkak keluar dari cerobong.
“Jalur ini tidak tercantum pada denah,” kata Arya.
“Ya. Memang disembunyikan,” jawab Gantar.
Mahesa mengangkat lampu minyak kecil untuk menerangi pintu.
“Cukup dilewati?”
“Bisa, kalau Panglima tidak pakai zirah.”
“Aku tetap bisa.”
“Kalau terjepit, kita harus membongkar dinding.”
Mahesa menatapnya. Gantar mundur satu langkah.
“Saya cuma menghitung kemungkinan.”
Jayengrana berjongkok dan menyentuh serpihan lilin merah yang ditemukan Arya. Warnanya sama dengan tanda merah pada sarung senjata para pemimpin.
“Jejaknya masih baru,” kata Arya. “Seseorang melewati lorong hari ini.”
“Masuk atau keluar?” tanya Jayengrana.
“Belum tahu.”
“Berapa banyak?”
“Paling sedikit dua orang. Ada bekas beban diseret pada dinding.”
Jayengrana berdiri kembali.
“Siapa lagi yang mengetahui jalan ini?”
“Kita berlima,” jawab Mahesa. “Sena menjaga halaman.”
“Petugas balai?”
“Mereka mungkin tahu. Mereka cuma tidak tahu kita sudah menemukannya.”
Jayengrana mengalihkan wajah ke Arya.
“Apa rencanamu?”
“Periksa sekarang.”
“Jamuan penyambutan dimulai sebentar lagi.”
“Aku tidak lapar.”
Gantar mengangkat tangan.
“Aku bisa mewakili.”
Mahesa mendorong tangannya turun.
Jayengrana melirik ke arah rumah tamu kerajaan lain. Pelayan, pengawal, dan petugas balai bergerak melintasi halaman. Kalau Arya dan Gantar menghilang bersamaan, seseorang akan menyadarinya.
“Kau dan Gantar masuk,” kata Jayengrana. “Mahesa tetap di sini.”
“Aku harus ikut,” jawab Mahesa.
“Kalau kalian semua ikut masuk, aku malah ditinggal sendirian di atas.”
Mahesa tidak menyukai candaan itu, tetapi mundur.
“Aku berjaga di gudang.”
“Kalau ada orang datang?” tanya Arya.
“Buat suara dua kali pada dinding.”
Gantar bertanya, “Suara seperti apa?”
Mahesa mengetuk kayu menggunakan buku jarinya.
Duk. Duk.
Gantar mengangguk.
“Lebih mudah daripada suara burung.”
Mahesa memasang wajah datar.
Arya masuk lebih dahulu.
Lorong di balik pintu menurun beberapa langkah sebelum berbelok ke kanan. Langit-langitnya rendah. Dindingnya terbuat dari batu kapur kasar yang masih menyimpan hawa dingin.
Gantar menutup pintu di belakang mereka. Cahaya dari halaman menghilang.
Arya membawa lampu kecil, tetapi sumbunya dikecilkan agar sinarnya tidak terlihat dari celah lain.
Lorong hanya cukup untuk satu orang. Bekas gesekan pada dinding semakin jelas.
Sesuatu yang panjang dan terbungkus kain pernah ditarik melewatinya. Beberapa serat kain merah tersangkut pada batu.
Gantar menyentuhnya.
“Kain penutup.”
“Untuk apa?”
“Bisa buat macam-macam. Meja, peti, senjata...”
Arya menoleh.
“Kenapa langsung memikirkan mayat?”
“Aku cuma sedang menebak-nebak.”
“Pikirkan yang lain.”
Mereka mengikuti lorong. Setelah sekitar tiga puluh langkah, jalan bercabang.
Sisi kiri menanjak. Udara dari sana membawa bau kayu bakar dan bawang.
“Dapur,” bisik Gantar.
“Dari mana tahu?”
“Aku baru bawa satu karung bawang. Masa nggak kenal?”
“Kau baru membawa satu karung dari Watu Ireng.”
“Baunya masih nempel di hidung.”
Jalur kanan terasa lebih dingin dan kering. Bekas sepatu mengarah ke sana.
Arya memilih kanan.
Lorong berakhir pada dinding kayu. Tidak ada gagang. Hanya celah tipis pada bagian bawah.
Arya memadamkan lampu. Cahaya masuk melalui sambungan papan. Di sisi lain terdengar suara dua orang berbicara.
“...dipindahkan sebelum lonceng pertama.”
“Siapa yang memerintahkan?”
“Pencatat utama.”
“Ruangnya belum dikunci.”
“Nanti setelah semua pemimpin masuk.”
Langkah mendekat.
Arya dan Gantar merapat ke dinding batu.
Papan bergeser sedikit.
Sebuah kotak panjang didorong dari sisi lain ke dalam lorong. Orang yang membawanya hanya membuka pintu cukup lebar untuk memasukkan beban, lalu pergi tanpa melihat lorong lebih jauh.
Papan kembali tertutup.
Arya menunggu sampai suara langkah menghilang. Gantar menyentuh kotak.
“Berat.”
“Jangan buka dulu.”
“Siapa tahu isinya makanan.”
“Kenapa makanan disembunyikan di dalam lorong?”
“Siapa tahu benar makanan.”
Arya membuka pengait menggunakan ujung besi kecil yang dibawa Gantar.