Arya memasuki ruang sidang ketika dua petugas mulai menarik daun pintu.
Jayengrana sudah duduk di tempat Watu Ireng.
Mahesa mengikuti tepat di belakang Arya, sedangkan Gantar dan Sena harus menunggu bersama para pendamping di sisi ruangan karena hanya dua perwakilan utama yang diizinkan duduk di lingkaran dalam.
Arya mengambil tempat di kanan Jayengrana.
Sang raja tidak langsung menoleh.
“Apa yang kau temukan?” tanyanya pelan.
“Mereka sudah membagi Watu Ireng.”
Tangan Jayengrana tetap berada di atas meja.
“Siapa?”
“Beberapa kerajaan. Sungai, lumbung, jalan barat, dan Celah Utara sudah diberi nama pengawas.”
“Buktinya?”
“Peta di ruang tersembunyi belakang balai.”
Jayengrana akhirnya melihatnya.
“Kau membawanya?”
“Tidak sempat.”
“Siapa yang melihat selain kalian?”
“Gantar.”
“Mahesa?”
“Sudah kuberi tahu.”
Petugas mendekati tempat mereka.
“Apakah Watu Ireng siap memulai?”
Jayengrana mengangguk.
“Siap.”
Arya ingin meminta sidang dihentikan dan membawa semua pemimpin ke ruang dokumen.
Ia ingin menunjukkan peta sebelum seseorang sempat memindahkannya. Tanpa bukti di tangan, tuduhannya dapat dibalik.
Peta itu bisa saja sudah dipindahkan sebelum mereka duduk.
Kalau Arya meninggalkan ruang lagi, ia melanggar susunan sidang dan memberi penjaga alasan menahan.
Jayengrana berbisik, “Ingat semuanya.”
“Aku mengingatnya.”
“Jangan bicara sebelum waktunya.”
“Ayah—”
“Percaya padaku kali ini.”
Arya mengurungkan jawabannya.
Di hadapan mereka, para pemimpin duduk mengelilingi meja besar berbentuk setengah lingkaran.
Prabu Baka hadir bersama Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso duduk dengan Patih Surakerta di belakangnya.
Raja Rudragni ditemani seorang penasihat militer.
Raja Dharmajaya dari Kendalisada mengenakan pakaian hitam pegunungan tanpa perhiasan berlebihan.
Prabu Andakara dari Mandaraka menjadi pemimpin wilayah terdekat.
Ratu Kirani dari Jalatunda duduk bersama seorang tabib tua.
Kerta Jaya dan beberapa kerajaan kecil diwakili raja atau pejabat utama mereka.
Tidak semua wajah terlihat bermusuhan. Sebagian justru sama waspadanya dengan Arya. Ratu Kirani beberapa kali memandang pintu. Dharmajaya memeriksa posisi jendela.
Roro memperhatikan pengawal bersenjata di luar lingkaran. Wajahnya menunjukkan ketidaksenangan.
Hanya Bandung yang tampak seolah ruangan itu sepenuhnya berada dalam kendalinya, meskipun pengawal Pengging juga menunggu tanpa senjata.
Prabu Andakara membuka sidang.
“Kita berkumpul karena satu perang di Watu Ireng dapat menutup jalur pangan, besi, obat, dan perdagangan bagi banyak kerajaan.”
Rudragni menyandarkan tubuh.
“Perang itu terjadi karena Watu Ireng menolak kerja sama keamanan.”
Arya langsung menatapnya. Jayengrana mengangkat satu jari kecil di bawah meja.
Tunggu.
Prabu Andakara melanjutkan, “Hari ini bukan waktunya mengulang tuduhan lama. Kita mencari aturan agar kejadian serupa tidak terulang.”
Seorang pencatat membuka gulungan utama.
“Usulan pertama: setiap kerajaan penandatangan memperoleh hak lintas damai melalui jalur Watu Ireng untuk perdagangan, utusan, dan bantuan pangan.”
Jayengrana berkata, “Hak lintas damai sudah ada. Pedagang dan utusan diperiksa, membayar pungutan tetap, lalu berjalan.”
Pencatat melanjutkan, “Usulan ini menjadikannya hak permanen yang tidak dapat dihentikan sepihak.”
“Bahkan ketika pasukan ikut bersama kafilah?” tanya Arya.
“Pasukan pengawal dibatasi.”
“Berapa?”
“Disesuaikan dengan nilai muatan.”
“Siapa yang menyesuaikan?”
“Dewan jalur bersama.”
Nama itu belum pernah disebut dalam undangan. Arya melihat Jayengrana. Sang raja tetap tenang.
Prabu Andakara berkata, “Dewan terdiri atas wakil kerajaan pengguna jalur dan Watu Ireng.”
“Berapa wakil Watu Ireng?” tanya Jayengrana.
“Satu.”
“Kerajaan pengguna?”
“Enam.”
Gantar yang berdiri di sisi dinding mengembuskan napas pendek.
Mahesa meliriknya agar diam.
Jayengrana bertanya, “Jadi kalau enam kerajaan mau membawa seratus pengawal dan Watu Ireng menolak, tetap enam lawan satu?”
Prabu Andakara tampak kurang nyaman.
“Batas keselamatan akan ditulis.”
“Ditulis oleh siapa?”
“Dewan.”
Jayengrana mengangguk.