Raja Tanpa Darah

A.A.Pusung
Chapter #50

Bab 49 Arya di Depan Raja

Pernyataan Jayengrana membuat seluruh ruang sidang diam.

Arya mendengar tarikan napas dari berbagai sisi meja.

Roro tidak bergerak, tetapi matanya langsung beralih kepada Arya.

Prabu Baka menyandarkan punggung, seolah sedang menghitung akibat politik dari ucapan sesingkat itu.

Rudragni baru setengah berdiri dari kursinya.

“Pernyataan seperti itu tidak dapat dibuat begitu saja.”

Jayengrana menoleh kepadanya.

“Baru saja.”

“Arya tidak memiliki darah kerajaan.”

“Dia memiliki pengakuanku.”

“Pengakuanmu saja belum tentu mengikat para bangsawan Watu Ireng.”

“Bangsawan Watu Ireng tidak berada di ruangan ini.”

“Itulah masalahnya.”

Jayengrana tetap tenang.

“Aku tidak meminta kerajaan lain memilih penerus Watu Ireng.”

Bandung Bondowoso meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Apakah ini penetapan resmi?”

“Aku mengatakannya di depan para saksi.”

“Tanpa upacara adat?”

“Kalau aku masih hidup saat pulang, urusan adat diselesaikan di Watu Ireng.”

Rudragni tertawa pendek.

“Dan kalau tidak?”

“Itu yang kalian takutkan?”

Tidak ada yang menjawab. Arya kembali kepada ayah angkatnya.

Sekarang Arya mulai memahami alasan Jayengrana tetap menghadiri sidang.

Sang raja tidak hanya datang untuk menolak pembagian wilayah.

Ia datang untuk memastikan tidak ada kekosongan yang dapat digunakan kerajaan lain sebagai alasan mengambil Watu Ireng.

Sejak saat itu, Arya ikut menjadi sasaran.

Kalau Jayengrana mati, Arya menjadi penerus. Kalau Arya mati, tidak ada lagi penerus yang ia tunjuk.

Pintu ruang sidang mengeluarkan bunyi berat.

Klak.

Arya menoleh.

Daun pintu sudah tertutup sejak sesi dimulai, tetapi suara tadi bukan sekadar kayu bergeser.

Palang dijatuhkan dari luar.

Mahesa berdiri dari tempatnya.

“Siapa yang memasang palang?”

Petugas pencatat utama menoleh ke pintu.

“Tidak ada perintah—”

Dua lampu di sisi barat padam bersamaan. Kemudian dua lampu di timur.

Ruangan tidak menjadi gelap sepenuhnya. Cahaya masih masuk melalui jendela tinggi, tetapi bagian belakang meja tenggelam dalam bayangan.

Arya mendengar gesekan kayu dari koridor samping.

“Semua menjauh dari pintu!” teriaknya.

Panel dinding di belakang para pencatat terbuka. Tiga orang masuk membawa tombak pendek.

Tombak yang sama seperti yang ditemukan Arya dan Gantar di lorong.

Mereka tidak memakai lambang kerajaan. Wajahnya ditutup kain.

Penyerang pertama menusuk pencatat utama sebelum lelaki itu sempat berdiri.

Penyerang kedua bergerak ke arah meja Watu Ireng. Arya membalik kursinya.

Ujung tombak menghantam sandaran kayu.

Arya mendorong kursi itu ke depan, memaksa penyerang mundur, lalu menarik pedang kehormatannya.

Tali merah dan segel lilin masih mengikat sarung.

Ia menarik sekuat tenaga.

Tali putus. Lilin pecah.

Pedang keluar tepat saat tombak kedua datang menuju dada Jayengrana.

Arya menepisnya.

Benturan logam bergema di seluruh ruangan.

“Ayah, di belakangku!”

Jayengrana mundur satu langkah. Ia tidak mencoba mengambil senjata atau berdiri di depan Arya.

Arya menempatkan tubuhnya di antara sang raja dan penyerang.

Dua orang lain keluar dari panel berbeda. Salah satunya menyerang Prabu Baka.

Roro menarik ayahnya ke belakang meja, lalu melempar tempat tinta ke wajah penyerang.

Cairan hitam menutup pandangannya sesaat.

Prabu Baka mengambil kaki kursi yang patah dan menghantam tangan lelaki itu.

Bandung mematahkan segel pedangnya dengan ibu jari, lalu menebas tombak yang diarahkan kepada Patih Surakerta.

Rudragni bersembunyi di balik mejanya sambil berteriak memanggil pengawal.

“Buka pintu!”

Tidak ada jawaban dari luar.

Mahesa mengambil bangku panjang dan menghantamkannya ke panel tempat penyerang masuk.

Seorang penyerang jatuh.

Mahesa merebut tombaknya.

“Gantar!” teriak Arya.

Gantar sudah bergerak ke sisi belakang ruangan.

“Jalan belakang!”

“Aku tahu!”

“Buka jalan untuk pengawal!”

“Sedang kucari!”

“Bukankah kau yang menemukannya?”

“Dari sisi dapur! Ruangan ini punya terlalu banyak dinding!”

Sena membantu menggeser lemari dokumen.

Di belakangnya hanya ada batu.

Lihat selengkapnya