RAKTA : The Cursed Blood

Aida Elrika
Chapter #1

Lontar Pertama

“Anjing.”

Esa mengumpat tertahan ketika pelipisnya membentur kaca jendela bus. Ia mengaduh sambil berusaha untuk membuka matanya yang terasa berat. Sebuah helaan nafas berat lolos dari mulutnya, setengah terpaksa ia menegakkan tubuhnya dengan susah payah dan memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

Kedua netranya mengerjap beberapa kali, sebuah upaya untuk mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan. Semua yang ada di depannya terasa berputar, mungkin efek dari benturan dan aroma pengharum mobil yang membuat siapa saja pusing tujuh keliling kala menghirupnya.

Di luar sana pemandangan kota Girah berkelebat dengan cepat dan terasa asing. Bangunan-bangunan yang lebih sederhana dibandingkan bangunan ibukota berjajar dengan rapi di kanan dan kiri jalan raya. Tidak ada kemewahan yang ia lihat di sepanjang jalan sejak bus bobrok yang ditumpanginya memasuki kota tersebut. Tidak ada yang berkesan dengan kota ini, kecuali alasan mengapa ia bisa berakhir di sini dalam keadaan yang menyedihkan.

“Sial,” Esa mendengus, memukul kaca jendela bus lumayan keras hingga ia bisa merasakan buku-buku jarinya yang memanas. Matanya terpejam, membiarkan satu persatu ingatan pahit beberapa hari yang lalu kembali terputar di dalam kepalanya.

“Pergi dan jangan pernah kembali!”

Suara berat dan tatapan dingin sang ayah kembali terngiang-ngiang di kepala. Memaksa Esa untuk kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu, hari pengusiran. Esa masih ingat, pria paruh baya itu menghajarnya, menorehkan luka-luka yang tercetak jelas di wajah dan sekujur tubuh, sebelum mengusirnya pergi dari rumah. Membiarkan Esa menggelandang selama berhari-hari di jalanan ibukota, sebelum akhirnya pemuda itu memilih pergi ke Girah dengan uang seadanya.

Esa menghela nafas, mengusap wajahnya yang tampak lelah dengan kasar sebelum ia merogoh kasar saku celana dan mengeluarkan sebatang rokok. Dengan gerakan yang presisi ia menjepit lintingan tembakau itu di sela-sela bibirnya, sementara satu tangannya lagi sibuk mencari-cari korek api. Hanya dalam hitungan detik, asap telah mengepul di ujung lintingan tembakau tersebut, berbaur bersama aroma menjemukan pengharum mobil dan juga aroma-aroma memabukkan lainnya.

Satu dua tatapan sinis ia terima, pun dengan sindiran halus berupa suara batuk yang sepertinya dengan sengaja dikeraskan. Namun, Esa sama sekali tidak peduli, tatapan kosong seolah tanpa jiwa itu ia lempar ke luar jendela bus. Memilih dengan khidmat menekuri kota kecil yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Ia punya cukup banyak kenalan di kota kecil ini, mungkin malam ini ia bisa bermalam di salah satu rumah kenalannya dan memulai misi hidup mandiri esok hari, yah semoga saja berjalan dengan lancar.

Bus memasuki gerbang terminal Girah, tempat pemberhentian terakhir untuknya dan seluruh penumpang lain. Esa menghembuskan asap ke udara sebelum meraih ransel dan berdiri, ikut berdesak-desakan keluar dari rangka besi tua memuakkan yang telah mereka tumpangi selama berjam-jam. Udara segar ia hirup dalam-dalam begitu kedua kaki beralas sepatu usangnya itu menginjak tanah Girah yang lembab. Ia mengedarkan pandangan sejenak sambil masih dengan khidmat menghisap rokok.

Pemandangan biasa sebuah terminal. Tukang ojek berkerumun di depan bus yang baru berhenti, para penumpang yang turun atau baru naik, pedagang-pedagang asongan yang menjajakan dagangan mereka, pengamen-pengamen yang mengistirahatkan diri di warung, dan masih banyak lagi hal-hal remeh yang tertangkap oleh matanya.

Esa menghisap rokoknya untuk yang terakhir kali sebelum membuang benda yang hanya tinggal setengah itu ke sembarang arah. Kakinya melangkah lebih dalam menuju ke arah warung yang lumayan sepi di sana setelah mengabaikan tawaran beberapa tukang ojek.

“Mari Mas Ganteng, mau pesan apa, nih?” presensinya langsung disambut oleh sapaan genit dari si pemilik warung. Seorang perempuan paruh baya bertubuh tambun dengan berbalut daster oranye lusuh, rambutnya keriting diikat seadanya, dan riasan menor menghias wajah keriputnya. Esa tersenyum kikuk, merasa sedikit risih mendapatkan godaan genit dari perempuan paruh baya tersebut.

“Mie rebus saja, Bu,” ia berkata singkat, menyebutkan pesanan.

“Mie rebus aja, nih. Gak pakai minum, ya, Ganteng?” Perempuan itu tersenyum genit.

“A-air mineral saja,” ucapnya lagi.

“Oke, mie-nya mau rasa apa, Ganteng?” lagi-lagi perempuan paruh baya itu melontarkan tanya dengan nada suara genit mendayu-dayu. Esa menghela nafas panjang, berusaha untuk mengabaikan perempuan genit pemilik warung tersebut dengan menatap rak etalase tempat mie-mie instan aneka rasa yang disusun sedemikian rupa.

“Ayam bawang aja,” ujarnya final.

“Pakai telur apa-”

“Iya,” dengan cepat ia memotong kalimat perempuan itu sebelum yang bersangkutan kembali menggodanya. Perutnya sudah meronta-ronta minta diisi dan Esa ingin segera menghubungi temannya di sini, ia masih punya banyak hal yang perlu diurus alih-alih meladeni godaan genit perempuan tambun pemilik warung.

“Oke, Ganteng. Tunggu sebentar, ya, mie rebus spesial akan segera matang,” si genit itu berlalu, masuk ke dapur sambil menyenandungkan lagu, mengikuti suara merdu penyanyi dari radio yang diputar keras-keras dengan suara sumbang, sementara Esa mendudukkan diri di depan, menunggu mie rebus pesanannya.

Ia kembali menghela nafas, merogoh celana dan mengeluarkan ponsel yang sejak tadi sengaja ia matikan. Cukup lama ia memandangi layar ponselnya yang gelap, menatap pantulan dirinya yang tampak menyedihkan sambil menimbang-nimbang keputusan untuk membukanya. Lagi-lagi ia menghela nafas, memilih untuk menghidupkan benda itu setelah sekian lama bergelut dengan pikiran.

Lihat selengkapnya