“Kamu yakin dia pemilik rakta-nya?”
Suara-suara berisik itu datang silih berganti di liang pendengarannya, menyeretnya untuk segera terbangun dari kegelapan yang menelannya beberapa saat lalu. Esa melenguh, menggerakkan tubuhnya pelan ke kanan dan kiri sebelum berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat. Pandangannya masih buram, kepalanya masih pusing, dan nyeri menjalar di sekujur tubuh.
Dahinya mengernyit begitu aroma kemenyan bercampur dengan bunga tujuh rupa secara tiba-tiba menusuk indra penciumannya. Bulu kuduknya meremang, ingin sekali ia kabur dari sana, tapi apa daya ia bahkan tak punya cukup tenaga untuk membuka matanya sendiri. Esa mendengus, masih belum menyerah membuka kelopak matanya yang berat, dan pada percobaan yang kesekian kali, ia berhasil.
Hal pertama yang menyambutnya adalah penampakan langit-langit tinggi sebuah ruangan. Ada lampu gantung yang berpendar lemah, seakan-akan tidak ikhlas membagikan cahaya, atap dengan cat yang mengelupas, dan lumut yang menempel di beberapa sisi. Esa kembali mendengus, memilih menolehkan kepala ke samping, dan alangkah terkejut hatinya ketika bersitatap dengan makhluk hitam berbulu yang mengejarnya beberapa waktu lalu. Makhluk itu berdiri di sana, di balik pintu yang setengah terbuka, menyatu dengan kegelapan.
Esa menelan ludah, lekas-lekas mengalihkan pandangan ke arah lain. Memilih untuk mengabaikan makhluk besar itu dan menekuri rasa nyeri yang berdenyut hebat di kepalanya. Esa tidak tahu tengah berada di mana, tapi dimanapun ia berada, nasibnya benar-benar buruk. Ruangan tempatnya terbangun ini sempit, hanya ada satu kasur tempat ia tengah berbaring saja, selebihnya hanya ada kehampaan yang terasa janggal.
“Nggih, Nyai. Bahkan, dari penciuman Rowo, darahnya berbau manis!” Esa masih bisa mendengar perbincangan samar dua orang di luar ruangan tempatnya berbaring, entah membahas apa. Ia lebih memilih untuk menekuri nyeri yang berdenyut hebat di pelipisnya sambil merintih kesakitan. Demi apapun, ia akan membalas siapa saja yang berani memukul kepalanya.
“Hm, baiklah kalau begitu. Rowo, bawa dia ke ruang ritual,” suara melengking bernada perintah dari luar sana kemudian menggema, disambut oleh geraman rendah dan berat makhluk mengerikan yang sejak tadi mengamatinya. Makhluk itu mendekat, langkah kakinya berdentum menggetarkan lantai. Esa tidak bisa berkutik, terdiam dengan jantung yang berdetak berkali-kali lebih kencang hingga dadanya terasa nyeri.
Makhluk itu menggeram, kedua tangan berkuku tajam itu terulur meraih tubuhnya. Esa melebarkan mata, apalagi saat secara tidak sengaja bersitatap dengan kedua netra merah menyala makhluk itu. Ia meronta, berusaha menghalau tangan berkuku tajam tersebut, kaki-kakinya menendang-nendang tubuh besar dan berbulu makhluk itu. Namun, usahanya sia-sia belaka, karena kini tubuhnya sudah bertengger di bahu makhluk itu. Tubuhnya yang tak berdaya itu digendong serupa karung beras oleh makhluk mengerikan itu. Esa berhenti meronta, kini berpasrah diri dengan nasib buruk yang menunggunya.
Makhluk itu berjalan melintasi lorong-lorong berpenerangan minim. Suara langkah kakinya berdentum menginjak-injak jantung Esa di dalam gendongannya. Aroma makhluk itu menjijikkan, mirip daging busuk, darah, dan sesuatu yang hangus bercampur jadi satu. Sungguh, rasanya ia ingin muntah saat itu, tapi yang ia lakukan hanya berusaha meronta-ronta dengan sisa-sisa tenaganya yang tak seberapa.
Makhluk itu masih berjalan, melintasi bagian demi bagian bangunan antah berantah itu. Esa tidak tahu seberapa luas tempat ini dan mau dibawa kemana dirinya oleh makhluk berbulu sialan lagi mengerikan ini. Sejauh yang dapat ia lihat dalam posisinya— menggantung di bahu besar berbulu lebat—hanyalah dinding kayu dengan cipratan warna merah dan bau busuk yang sama busuknya dengan makhluk mengerikan ini.
“Taruh dia di sana,” lorong-lorong minim penerangan itu kini digantikan oleh presensi ruangan berukuran besar, sangat besar hingga cukup untuk menampung ratusan orang sekaligus. Makhluk itu dipersilahkan masuk ke dalam oleh seorang perempuan. Yah, dari suaranya Esa bisa menebak kalau itu perempuan.
Makhluk itu menggeram, menganggukkan kepala sebelum membungkuk dan membanting tubuh Esa ke atas lantai. Suara dari tubuhnya dan permukaan keras lantai yang saling beradu mengisi ruang kosong di sekitarnya. Pandangannya lagi-lagi mengabur, sedangkan punggung juga kakinya terasa nyeri. Ia meringis, berguling di atas lantai. Tanpa sadar air matanya menetes, ia menangis.
“Terima kasih, Rowo. Setelah ritual selesai, kau boleh memakannya,” kesadaran Esa tersedot kembali pada kenyataan. Rasa sakit di tubuhnya masih ada, tapi mendadak sirna kala ia kembali tersadar akan bahaya yang saat ini tengah mengancam nyawanya.
Esa terperangah menatap ruangan itu. Bentuknya lingkaran, dikelilingi orang-orang bertudung merah yang berdiri bak manekin, menempel di tembok dan menunduk. Lampu gantung bercahaya temaram tergantung di langit-langitnya yang tinggi. Tempat ini sekilas mengingatkan Esa pada tempat pengorbanan sekte sesat di film-film yang sering ia tonton, atau memang pada kenyataannya demikian?
Matanya memicing, menatap ke arah perempuan yang mengelus lembut lengan makhluk berbulu itu disertai senyuman. Makhluk itu lagi-lagi menganggukkan kepala patuh dan berbalik, bersembunyi di balik pintu, kembali menyatu dengan kegelapan. Perempuan itu kini berbalik ke arahnya, senyuman manis tersungging di wajahnya yang sekilas mirip dengan rubah.
Esa bergidik ngeri kala mata mereka bersitatap. Perempuan itu menyeramkan. Kulit putihnya itu janggal, lebih mirip mayat alih-alih manusia pada umumnya, rambut yang disanggul rapi dengan hiasan kamboja putihnya pun terlihat aneh berkat penampakan kulit kepala di beberapa bagiannya, ada beberapa bagian dari permukaan kulitnya yang dihiasi bopeng, luka bernanah, dan bekas cakaran yang mengering.
Namun, yang paling mengganggu baginya adalah kurva lengkung yang tersungging menghiasi wajah tak presisi itu. Bibir kering yang melengkung dengan tak sempurna dan sorot mata kosong itu mampu membuat bulu kuduk Esa berdiri.
“Ikat dia,” suaranya kembali terdengar.
Esa mengerjapkan mata, tersentak ketika untuk yang kesekian kalinya dua makhluk aneh mendekat pada dirinya. Bukan, ini bukan seperti makhluk besar berbulu yang kini kembali ke habitatnya itu. Dua makhluk aneh ini bertubuh kecil dan mirip dengan … monyet.
“Bajingan,” ia mengumpat, menendang salah satu dari makhluk itu ketika kakinya diraih. Sial sekali, sepertinya kedua makhluk itu punya ikatan batin yang kuat, hingga salah satu dari mereka mengamuk melihat rekannya ditendang.
Makhluk itu melompat ke atasnya, berteriak seolah tak terima dan membubuhkan cakaran pada Esa. Esa berusaha melawan, menamengi dirinya dengan kedua lengan yang saling disilangkan dan berusaha untuk melempar makhluk itu dari atas tubuhnya.