RAKTA : The Cursed Blood

Aida Elrika
Chapter #3

Lontar Ketiga

Esa memacu langkahnya, melesat melewati area kios-kios yang kosong. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, memastikan si cebol ataupun makhluk besar berbulu itu tidak mengikutinya. Jantungnya berdetak kencang, berdentum seolah ingin lepas dari tempatnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, membuat ia menggigil kedinginan.

Esa tidak tahu tengah ada di mana ia sekarang. Setelah keluar dari bangunan itu yang terpikirkan dalam otaknya hanya berlari sejauh mungkin. Insting membawa dirinya ke tengah-tengah pasar, tempat di mana ia dapat meminta pertolongan pada banyak orang. Namun, apa yang ia pikirkan sia-sia belaka. Tempat ini tak ubahnya bagai kuburan, sepi. Kios-kios yang ia lalui tutup, tak ada satupun orang yang berpapasan atau bertemu dengannya, aneh.

Panik menguasai dirinya, tapi tak sedikitpun ia memelankan langkah. Bayangan akan berbagai hal buruk yang menghantui mengirimkan sinyal pada seluruh tubuhnya untuk tetap bergerak demi keselamatan. Air mata menggenang, beberapa jatuh membasahi pipinya, meninggalkan jejak pada wajahnya yang dihiasi oleh cipratan darah.

Gemuruh suara guntur menggelegar di angkasa, awan hitam menggantung rendah siap menumpahkan isinya. Tetes-tetes air mulai jatuh, gerimis dengan cepat menjelma menjadi hujan deras. Tubuh dalam balutan luka dan pakaian seadanya itu perlahan-lahan mulai kehilangan daya. Langkah kakinya memberat, dan detik berikutnya ia jatuh, berguling-guling di atas tanah berlumpur.

Esa terbatuk, aroma lumpur bercampur dengan sampah-sampah organik yang dibiarkan membusuk dan air membuatnya mual. Perutnya menggelegak dan ia memuntahkan isi perutnya, mengeluarkan irisan daging busuk yang ia paksa telan dan darah segar yang ikut tersembur dari mulutnya.

Tubuhnya terlentang tak berdaya diantara tetes-tetes air hujan yang membasahi bumi. Dadanya naik turun tak beraturan, luka tusukan dari si cebol di sekujur tubuhnya terasa perih, kepalanya pusing, dan tenggorokannya panas. Darah membasahi setengah wajahnya, sedangkan tubuhnya menggigil kedinginan di tengah amukan sang angkasa. Tubuhnya terkapar di antara bau busuk dan anyir darahnya sendiri. Matanya menatap angkasa, menekuri kilatan-kilatan petir yang menyambar-nyambar dan suara gemuruh yang menyusul kemudian.

“Anjing!” Ia berseru lantang, menuding angkasa yang seolah tengah mengejek atas segala nasib buruk yang telah menimpa dirinya. Kekesalan dan kekecewaan yang mendekam di dalam hatinya ia salurkan lewat seruan keras ke angkasa.

Lihat selengkapnya