Pemuda itu dengan gesit melompati atap-atap tinggi gedung bertingkat. Matanya menatap tajam ke depan, ke arah wanara merah yang berlari tidak kalah gesit di bandingkan dirinya. Suara ejekan dari wanara nakal itu terdengar begitu satu belati yang sengaja dilemparkan salah sasaran dan memantul ke arahnya. Ia menghindar dan berdecak kesal, apalagi ketika wanara itu berjoget ria menggoyangkan pantat di depan sana.
"Monyet sialan," ia mengumpat pelan dan wanara itu terbahak dengan suara melengking menyebalkannya.
Sialan, monyet sialan, tak henti-hentinya ia mengumpat di dalam hati. Sungguh, beberapa waktu lalu ia masih bersantai menikmati kopi dan juga biskuit kelapa favoritnya ditemani TTS dari majalah yang ia beli tadi pagi. Namun, sebuah laporan atas lepasnya wanara merah sialan merusak kedamaiannya. Sekarang ia harus berlarian di antara atap-atap rumah dan gedung-gedung bertingkat hanya demi mengejar seekor monyet yang asyik bergoyang di depan sana. Mada akan menuntut kenaikan upah setelah ini.
Ia menambah kecepatan, menghindari lemparan kulit-kulit pisang yang makin banyak dibuang sembarangan oleh wanara merah itu. Ya, selain lepas dan berbuat onar, monyet itu juga mencuri setandan pisang dari perkebunan warga. Mada menggeram marah, membalas lemparan kulit pisang itu dengan beberapa belati, satu hal yang membuat monyet itu ikut-ikutan tersulut emosi, hingga makhluk itu dengan sengaja melemparkan senjata yang sejak tadi tertumpu di pundaknya.
Mada membelalakkan mata, serangan yang terlalu tiba-tiba membuatnya refleks melempar tubuh ke kanan, nyaris saja gada seberat dua belas kilo itu menghantam kepala malangnya. Namun, sial sekali, tubuhnya harus terjun bebas dari gedung setinggi dua puluh lantai.
"Bajingan!" Ia berteriak, mengumpati si monyet yang kini bertepuk tangan kegirangan melihatnya jatuh dari atas atap gedung.
Rahangnya mengeras, ia mengeluarkan pedang yang bersarung pada ikat pinggang. Sambil sibuk komat-kamit menggumamkan mantra, perlahan seberkas cahaya menyelubungi bilah pedang yang ia genggam. Senyum tipis tercetak pada wajahnya, ia melirik sekilas ke kanan, ke tembok gedung bertingkat tempat ia jatuh berkat akal bulus si monyet.
Mada menghela nafas, menghitung di dalam hati dan pada hitungan ketiga bilah pedang itu menembus sisi kanan, mengerem laju jatuh Mada yang menggantung di ujung pedang sambil merapalkan mantra agar bilah pedang itu tak kehilangan fungsi pun tak begitu destruktif, sebuah upaya menghindari kerugian material besar berkat mustika yang ia gunakan.
Sial, sekarang ia berada di tengah-tengah tembok gedung bertingkat. Bergelantungan dengan konyol pada gagang pedang sambil ditertawai oleh monyet, benar-benar lucu. Oh, jangan lupakan lemparan kulit-kulit pisang dari si wanara, beberapa mendarat tepat di atas kepala dan hal itu sudah lebih dari cukup untuk merusak harga dirinya.
Mada mendengus, membuang muka ke bawah. Kedua netranya menatap tanah yang jauh dari jangkauan, lalu kembali menatap ke atas, ke arah si wanara yang tak jemu-jemu memberikan ejekan. Sial, ia benar-benar tak bisa berkutik sama sekali.
Mada adalah dukun pengguna gaman, bukan seorang dukun yang mengandalkan energi alam. Energi yang ia punya tak sekuat dukun-dukun yang lain dalam menghadapi makhluk astral, itulah kenapa ia memerlukan bantuan gaman yang ia peroleh dengan bersusah payah. Yah, bisa dikatakan, kemampuan dukun ini bukanlah bakat alami.
Baiklah, kembali lagi pada masalah pelik yang tengah ia hadapi sekarang. Kepalanya sudah dipenuhi macam-macam skenario dan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depan. Namun, semua berakhir pada kebuntuan. Ia benar-benar terjebak.
"Butuh bantuan?"
Mada tertegun, ia menoleh dan melebarkan matanya ketika bersitatap dengan Kusuma yang berdiri tegap di depannya. Tidak salah, pria narsis dalam balutan jas navy serta kacamata hitam itu benar-benar berdiri di depannya, seolah-olah kehampaan di bawahnya bukanlah suatu hal yang besar.
“Kusuma?!" Ia berseru, terlampau terkejut melihat rekan narsisnya itu ada di sana.
Senyum Kusuma luntur digantikan oleh ekspresi wajah kesal. Salah satu tangannya terulur, mendaratkan satu sentilan keras pada dahi Mada, sementara satu tangan lainnya tersembunyi di balik tubuh.
"Kangmas Kusuma," ia mengoreksi dengan penuh penekanan, sementara Mada sibuk mengaduh kesakitan. Ia menggerutu kesal kala melupakan beberapa fakta serius jika berhadapan dengan seniornya satu ini. Pertama, dia adalah penganut sistem hierarki akut yang akan kesal setengah mati jika tidak dipanggil dengan embel-embel Kangmas atau Dimas. Kedua, sentilan Kusuma itu adalah sentilan maut yang panas dan sakitnya minta ampun.
Yah, beruntung saja Mada adalah junior kesayangan Kusuma. Jadi, meskipun ia sering terkena sentilan maut, Kusuma tidak akan pernah bisa marah kalau cuma urusan panggilan asal Mada mengoreksi secepatnya. Paling mentok hanya membuat suasana hati si narsis itu buruk.
“Maaf, Kangmas. Aku terlalu terkejut melihat kehadiranmu yang tiba-tiba muncul,” ia beralasan. Dalam hati ia menghitung sambil curi-curi pandang, memantau ekspresi Kusuma di depan.