Mada tidak pernah ingat, kapan terakhir kali Astana seramai ini. Ruang pertemuan Dewan Shaman terisi hampir penuh penuh, hampir tidak ada yang tidak hadir di sana siang itu, walau ada banyak tugas yang mereka tinggalkan. Padahal di pertemuan biasa tiap akhir bulan, jumlahnya tak pernah sebanyak ini. Mada sendiri baru datang lima belas menit lalu. Setelah menyerahkan wanara merah yang kabur kembali ke tempat seharusnya, ia dan Kusuma segera melesat ke Astana.
Dan disinilah ia berakhir. Duduk diam sambil berusaha tetap tenang di antara warna-warna aura penuh kemarahan yang menusuk matanya. Di depan sana para petinggi Dewan tampak sibuk berdebat sendiri dengan rekan kerja masing-masing, di samping kanan dan kirinya pun sama, riuh suara obrolan yang tak mampu Mada cerna mengisi tiap celah dalam rungunya.
Sang Mahapatih belum datang, kursi beliau masih kosong. Namun, presensi putra-putranya yang menampilkan ekspresi lelah dan gurat penuh kemarahan cukup mewakili seberapa pelik masalah yang akan menjadi pembahasan siang ini. Ada pula jajaran para Mahamantri yang memperdebatkan alasan pertemuan mendadak siang ini dengan wajah serius mereka.
Mada menghela nafas panjang, ia memilih menyandarkan punggung ke kursi. Jujur saja ia sangat merindukan kehangatan kamarnya. Aroma kopi dari pengharum ruangan yang ayah beli, TTS yang baru terisi setengah, dan kursi goyang buatan ayah yang nyaman, definisi nyata dari surga dunia untuk Mada. Tanpa sadar ia tersenyum tipis membayangkan kenyamanan tiada tanding itu.
Mada memejamkan mata, berusaha untuk mengabaikan suara bising di sekitarnya. Untuk sejenak ia merasa butuh istirahat, walau niat itu sirna begitu bayang-bayang wajah ayahnya yang mendelik galak memenuhi kepala, pun dengan suara serak beliau yang selalu mengatakan kalimat yang sama pada Mada, jangan pernah tidur saat rapat. Jadi, ia memutuskan untuk membuka mata dan kembali menegakkan tubuh. Beruntung bersamaan dengan itu pintu ruang pertemuan ditutup dan bising suara yang selama beberapa menit mengisi ruangan itu hilang.
Mada mengerjapkan mata, menata postur tubuh sebaik mungkin kala tak sengaja kedua netra gelapnya menangkap presensi Sang Mahapatih yang duduk dengan penuh wibawa di kursi kebesarannya. Raut wajah pria paruh baya itu serius bukan main, kedua alisnya yang tebal menukik sementara mata bak elangnya itu menatap satu persatu sosok yang hadir di sana dengan tidak puas.
“Selamat siang Tuan dan Puan yang saya hormati. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk hadir dalam pertemuan mendadak hari ini,” Atmosfer ruangan berubah drastis begitu suara berat dan dalam Sang Mahapatih terdengar. Warna merah penuh murka yang beberapa waktu lalu mendominasi ruang tersebut perlahan-lahan pudar, tergantikan oleh biru muda dan biru tua, percampuran antara perasaan tenang dan takut.
Keheningan cukup lama mendominasi. Tak ada satu suara pun yang terdengar, kedua netranya melirik ke kanan dan kiri, menatap orang-orang yang terlihat serius menatap ke arah Sang Mahapatih, menunggu kalimat yang akan beliau ucapkan selanjutnya.
“Pastinya Tuan dan Puan sudah tahu apa yang menjadi perihal pertemuan mendadak ini terselenggara siang hari ini, bukan?” Semua orang mengangguk tanpa sadar. “Maka dari itu, saya akan langsung pada inti permasalahan yang sedang kita hadapi kali ini,” lanjut pria itu.
Tak berapa lama kemudian, lontar-lontar berterbangan di atas. Berputar-putar selama beberapa kali sebelum akhirnya mendarat di masing-masing meja orang-orang yang hadir di sana. Mada segera meraih lontar sebelum benda itu mendarat di mejanya. Jujur saja ia tidak sabar, ingin segera membaca laporan apa yang tertulis dalam aksara pallawa di dalam sana.
“Si pemilik rakta telah ditemukan!” Salah satu Mahamantri berseru, menatap dengan tak percaya pada Sang Mahapatih yang masih tampak tenang tak terganggu oleh fakta tersebut.
“Ya, benar Tuan Mahamantri. Pemilik rakta telah ditemukan dan sekarang sedang dalam masa pencarian oleh putra bungsu saya dan Akuwu Girah. Tapi, kita menghadapi satu masalah pelik pula mengenai si pemilik rakta,” Sang Mahapatih membenarkan, sekaligus bersiap memberikan masalah lain kepada para hadirin yang menyimak dengan serius.
“Laporan serius saya dapat dari Saraswati beberapa waktu lalu, kabarnya pemilik rakta itu diculik dan dibawa oleh entitas tidak dikenal. Bawahan Akuwu Girah sudah menyelidiki dan memberikan laporan susulan setelahnya, ada dugaan jika entitas itu merupakan antek dari—”
“Si Ratu Teluh,” kalimat Sang Mahapatih terpotong oleh Kusuma. Pemuda itu tampak tak sadar berucap demikian, terbukti dari ekspresi terkejut yang sepersekian detik kemudian menghiasi wajahnya. Ia meminta maaf, tapi sepertinya Sang Mahapatih tidak ambil pusing mengenai hal itu.